URUS DIRI SENDIRI


Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?"

Orang yang banyak disibukkan dengan menempa diri, pasti akan lebih memperhatikan segala kekurangan dan cacatnya sendiri. Dan pasti ia akan kehilangan waktu dan perhatian untuk mengurus kekurangan orang lain. Dengan sendirinya ia akan jarang mengotori lisannys dengan bergunjing, mengecam, menuduh, dsb. Setidaknya, qalbunya akan menjadi bersih dari segala penyakit dan kotoran.

Rasulullah saw. bersabda: Sungguh beruntung orang yang disibukkan oleh kekurangannya sendiri sehingga tidak sempat memikirkan kekurangan orang lain."
Patut disayangkan, kalau kebanyakan kita justru asyik mengurus orang lain. Betapa pun kecilnya kesalahan orang lain, selalu saja dapat dideteksi, diketahui. Dan seberapapun besar kesalahan sendiri, nyaris diabaikan, dilupakan sama sekali.

Pepatah Arab menyebutkan:

Janganlah terlalu memperhatikan sejumput rumput dimata temanmu, sementara sebongkah kayu dimatamu tidak kelihatan."
Atau dalam khazanah bahasa kita, dikenal peribahasa serupa; Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak."
Keduanya, menegur orang yang mudah memperdulikan kesalahan orang lain, betapapun kecilnya, namun enggan memandang dan mengakui kesalahan, kekurangan sendiri, betapapun besarnya.
Intinya, pepatah dan peribahasa tersebut mengajarkan kita untuk selalu melakukan introspeksi diri. Yaitu, selalu berusaha mengenal dan memahami diri sendiri dengsn segala kekurangan yang dimilikinya. Mengenal kekerdilan diri sendiri, keinginan diri sejati" yang selalu ingin berkata dan bertindak melampaui batas. Sungguh orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menahan gejolak hawa nafsu yang ada pada dirinya.

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Jahim (neraka) lah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. (An-Naazi’aat : 37-40)

Tujuan introspeksi adalah untuk mengenal keterbatasan diri, untuk menuju dan hinggap dipencapaian tertinggi, yaitu nafsu al-muthmainnah (jiwa yang tenang).
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas (ridho) lagi diridhoi-Nya." (al-Fajr : 27-28)
Perhatikanlah ini wahai diri, bahwa semakin banyak membicarakan aib orang lain (ingat bukan upaya nahi munkar, tapi sekedar membicarakan aib), semakin banyak pula kita mengumpulkan dosa, dan semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya kita juga sering melakukan kesalahan, doda yang lebih besar dari sekedar kita bicarakan pada orang lain. Semakin sedikit menggunjing, semakin sedikit kesalahan, dosa. Seperti kata pepatah Arab:

Orang yang tidak mengenal keburukan, akan mudah terjerumus kedalamnya."
Sungguh diri ini orang yang zholim…
Sungguh diri ini otang yang zholim…
Sungguh diri ini orang yamg zholim..

Semoga Allah swt. selalu menuntun kita ke jalan yang (benar) lurus.

Teman Seperjalanan


“Jika ingin jalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin jalan jauh, berjalanlah bersama-sama.”

Read the rest of this entry

Jalan Menuju


Jalan menuju Allah bisa dimasuki lewat pintu hukum dan cinta. Bila dimasuki lewat pintu hukum, akan terasa kaku dan ancamannya dosa dan neraka. Read the rest of this entry

Night #26


Andai ku bisa memutar waktu, akan kuperbaiki semuanya, tapi kuyakin semua kan berahir indah, walaupun harus kutempuh dengan duka dan air mata, kurindu diriku yang dulu, kemana ia harus kucari, beginikah rasanya kehilangan diri sendiri, sulitnya menemukan aku yang dulu, akankah aku tak bisa menjadi diriku yang dulu lagi. Aku yang dulu merasa dekat dengan-Mu. Yang merasa Engkau selalu dekat denganku, tapi sekarang aku sadar, perlahan-lahan aku menjauh dari-Mu. Ampunilah dosa-dosaku. Read the rest of this entry

Duri #Rumi


Suatu ketika, Maulana Jalaluddin Rumi bercerita tentang seorang penduduk kota yang punya kebiasaan aneh, yaitu; suka menanam duri di tepi jalan. Ia menanami duri itu setiap hari sehingga tanaman berduri itu tumbuh besar. Mula-mula orang tidak merasa terganggu dengan duri itu. Mereka mulai protes ketika duri itu mulai bercabang dan menyempitkan jalan orang yang melewatinya. Hampir setiap orang pernah tertusuk durinya. Yang menarik, bukan orang lain saja yang terkena tusukan duri itu, si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri tanaman yang ia pelihara. Petugas kota lalu datang dan meminta agar orang itu menyingkirkan tanaman berduri itu dari jalan. Orang itu enggan untuk menebangnya. Tapi akhirnya setelah perdebatan panjang, orang itu berjanji untuk menyingkirkanny a keesokan harinya. Ternyata di hari berikutnya, ia menangguhkan pekerjaannya itu. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu terus menerus terjadi, sehingga akhirnya orang itu sudah amat tua dan tanaman berduri itu kini telah menjadi pohon yang amat kokoh. Orang itu tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam. Read the rest of this entry

Jalan Penuh Duri


Aku berjalan di jalan yang penuh duri. Di satu titik aku selamat di titik lain aku terluka. Selangkah aku berhasil, dua langkah aku tertusuk duri. Bagaimana aku bisa selamat hingga ke ujung jika bukan karena petunjuk dan rahmat-Mu, Tuhanku? Sedang aku tak tahu dimana ujung perjalanan ini.

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: