KESIAPAN UNIVERSITAS DALAM MENERAPKAN SISTEM DISTANCE LEARNING


KESIAPAN UNIVERSITAS DALAM MENERAPKAN SISTEM DISTANCE LEARNING

(Sebuah Makalah Kapita Selekta Teknologi Pendidikan : Rencana Strategis Pengembangan suatu Universitas Sebagai  Menuju Era VIRTUAL UNIVERSITY)

I – PENDAHULUAN

Rasional

Dulu mungkin kita berpikir bahwa kegiatan belajar mengajar harus dalam ruang kelas. Dengan kondisi dimana guru atau dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa puluh tahun yang lalu pun juga telah dikenal pendidikan jarak jauh. Walaupun dengan mekanisme yang boleh dibilang cukup ‘sederhana’ untuk ukuran sekarang, tetapi saat itu metode tersebut sudah dapat membantu orang-orang yang butuh belajar atau mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Memang kita akui, sejak ditemukannya teknologi internet, hampir ‘segalanya’ menjadi mungkin. Kini kita dapat belajar tak hanya anywhere, tetapi sekaligus anytime dengan fasilitas sistem distance-learning yang ada.

Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan Distance Learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep d-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia pendidikan, terbukti dengan maraknya implementasi dlearning atau e-learning di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, pelatihan, dan universitas) bahkan di dunia industri (Cisco System, IBM, HP, Oracle, dsb).

Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah :

  • Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (distance learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama.
  • Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan.
  • Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku.
  • Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan secara cepat dan mudah.

Salah satu alternatif tindakan pendidikan untuk mengatasi masalah perkembangan teknologi informasi dan social interactivity yang semakin maju pesat saat ini adalah dengan memberi penekanan pada kebutuhan untuk menghasilkan individu yang memiliki kesiapan belajar mandiri (self-directed learning readiness), yakni individu yang mampu mengelola kegiatan belajarnya sendiri dengan atau tanpa bantuan pihak lain.

Hal tersebut diataslah yang menjadi dasar penerapan sistem pendidikan jarak jauh sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang menekankan kemandirian, keterbukaan tanpa batas ruang dan waktu dalam atensi, partisipasi mendapatkan, mengelola sebuah pengetahuan dan informasi.

Filosofi yang melandasi langkah baru dalam penerapan sistem pendidikan jarak jauh ini adalah : “Fakta bahwa guru adalah orang yang paling penting dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang sesuai guna mengoptimalkan kemampuan belajar siswa. Maka bagi guru di masa depan untuk berhasil, para pendidik harus mendorong pengalaman pembelajaran yang kontekstual yang berkelanjutan dengan TI&K atau mungkin lingkungan berbasis TIK.” (Atkinson & Lee, 2001:162).

Tujuan

Pertumbuhan pesat institusi pendidikan tinggi telah menimbulkan berbagai tekanan yang menggeser tradisi elitis masyarakat menjadi pendidikan tinggi massa, dari sistem yang hanya diikuti segolongan elitis menjadi kemungkinan siapa saja mempunyai akses dan berkesempatan menempuh pendidikan tinggi, tanpa kecuali.

Rendahnya daya tampung PTN dan mahalnya biaya kuliah di PTS menyebabkan hilangnya kesempatan lulusan SMU/SMK yang berasal dari kelas menengah bawah untuk mengenyam bangku perkuliahan. Padahal mereka adalah aset bangsa yang potensial dan perlu dibangun sebagai penerus pembangunan bangsa. Karena itu, perlu dicari alternatif lain seperti menerapkan pendidikan tinggi jarak jauh, guna menyediakan kesempatan belajar yang lebih murah dan pemerataan kesempatan belajar di pendidikan tinggi.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi tentang sistem pendidikan jarak jauh ditinjau dari aspek perkembangan konsep pendidikan jarak jauh disertai keunggulan dan kelemahannya, penerapan SBJJ dan PTJJ di Indonesia bercermin pada pengalaman serta potensi dan tantangan penerapan pendidikan jarak jauh itu sendiri sebagai salahsatu upaya pemerataan kesempatan belajar di pendidikan tinggi.

Permasalahan

Pembelajaran jarak jauh atau distance learning dalam penerapannya di lapangan saat ini masih belum begitu berhasil dan memiliki kendala serta masalah, antara lain :

  • Konsep dan agenda program pendidikan yang tidak tersusun dengan baik dan jelas, cenderung asal-jadi dan keberlanjutan program tidak mendapatkan porsi penting.
  • Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar;
  • Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan;
  • Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal;
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet atau kurangnya infrastruktur pendukung pembelajaran (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer);
  • Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet; dan penguasaan bahasa komputer.

II – KAJIAN TEORI

Kajian Literatur

Pilar Utama Pendidikan

Pendidikan Jarak Jauh secara tersurat sudah termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional”. Rumusan tentang Pendidikan Jarak Jauh terlihat pada BAB VI Jalur, jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian Kesepuluh Pendidikan Jarak Jauh pada Pasal 31 berbunyi :

  1. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan;
  2. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tata muka atau regular;
  3. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta system penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standard nasional pendidikan;
  4. Ketentuan mengenai penyelenggarakan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

UNESCO (1996) menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu:

  1. Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know)
  2. Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do)
  3. Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together)
  4. Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).

Guna merealisir learning to know, dosen atau pendidik seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator.

Di samping itu dosen dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan mahasiswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.

Learning to do akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi mahasiswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat mahasiswa dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (aptitude test). Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Dewasa ini, keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk itu pembinaan terhadap keterampilan anak perlu mendapat perhatian serius.

Salah satu fungsi sekolah adalah tempat bersosialisasi, tatanan kehidupan, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses “learning to live together“.

Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif peran dosen sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri mahasiswa secara maksimal. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi.

Keempat pilar akan berjalan dengan baik jika diwarnai dengan pengembangan keberagamaan. Nilai-nilai keberagamaan sangat dibutuhkan bagi setiap warganegara Indonesia dalam menapaki kehidupan di dunia ini. Pengintegrasian nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkan/dipelajari mahasiswa akan lebih efektif dalam pembentukan pribadi anak yang ber-Ketuhahan Yang Maha Esa daripada diajarkan secara monolitik yang penuh dengan konsep.

Hasil Penelitian yang Sudah Ada

SELF-DIRECTED LEARNING READINESS SCALE : ADAPTASI  INSTRUMEN PENELITIAN BELAJAR MANDIRI (Tri Darmayanti – Universitas Terbuka)

Berbagai penelitian tentang belajar mandiri dilakukan para ahli pendidikan. Menurut Brocket (1985), sejak tahun 1970-an berbagai penelitian tentang belajar mandiri telah dilakukan dan dapat dikelompokkan kedalam tiga topik utama, seperti pada Gambar 1.

gambar1

Gambar 1.  Penelitian-penelitian Belajar Mandiri

Penelitian-penelitian yang termasuk dalam topik pertama merupakan penelitian yang bersifat mengidentifikasi berbagai kegiatan belajar orang dewasa, seperti program belajar apa saja yang pada umumnya diikuti oleh orang dewasa serta siapa saja yang mengikuti program tersebut. Penelitian yang termasuk dalam topik kedua adalah penelitian yang berhubungan dengan pendalaman dari konsep belajar mandiri. Penelitian yang termasuk topik ketiga merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan mempergunakan alat pengukuran untuk mengukur tingkat kemampuan belajar mandiri individu. Untuk kepentingan penelitian tersebut, maka digunakan instrumen belajar mandiri.

Perkembangan penelitian tentang belajar mandiri terutama pada topik ketiga mendorong pengembangan penelitian tentang instrumen penelitian belajar mandiri. Brocket (1985) membagi topik ketiga ini menjadi dua subtopik, yaitu: (1) topik yang menggunakan instrumen belajar mandiri sebagai alat diagnostik untuk mengetahui tingkat kesiapan belajar mandiri individu, dan (2) topik yang menggunakan instrumen belajar mandiri sebagai bagian dari pengembangan instrumen belajar mandiri tersebut (sebagai contoh adalah penelitian instrumen belajar mandiri dengan variabel psikososial). Para ahli yang terlibat dalam penelitian belajar mandiri mengenali adanya instrumen tertentu yang dianggap dapat mewakili instrumen belajar mandiri. Dua instrumen belajar mandiri yang sangat terkenal dikalangan ahli penelitian belajar mandiri adalah Self- Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) yang dikembangkan oleh Guglielmino pada tahun 1978 dan Oddis’s Continuing Learning Inventory (OCLI) yang dikembangkan oleh Oddi pada tahun 1984 (Candy, 1991). Diantara kedua instrumen ini, instrumen yang paling banyak digunakan para peneliti belajar mandiri di dunia adalah Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS). Alasan pilihan tersebut kemungkinan karena SDLRS merupakan instrumen yang bertujuan untuk prediksi dan diagnosis. SDLRS dapat digunakan untuk bidang pendidikan formal maupun informal. Sementara OCLI cenderung merupakan instrumen untuk kepentingan aplikasi atau mengukur tingkat kemandirian pada bidang pendidikan lanjutan (continuing education) yang bersifat informal.

Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Populasi penelitian ini ialah mahasiswa Universitas Terbuka yang terdaftar pada Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Jakarta pada Semester II 1997/1998, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan berusia dari 25 sampai 30 tahun. Pemilihan tempat, fakultas, dan usia didasarkan pada persentase terbesar dari keseluruhan mahasiswa Universitas Terbuka. Sampel diambil secara acak sederhana dengan ukuran sampel 137 mahasiswa yang mengembalikan kuesioner dari 500 mahasiswa yang dikirimi kuesioner.

Hasil penelitian

Kesiapan belajar mandiri merupakan karakteristik peserta didik yang dapat dan penting untuk dikembangkan melalui upaya-upaya peningkatan penilaian kendali pembelajaran. Untuk meningkatkan penilaian kendali pembelajaran perlu pencocokan antara kondisi peserta belajar dengan tingkat kendali pembelajaran yang diterapkan. Oleh karena itu, untuk memilah dan memilih pengaturan kendali pembelajaran yang sesuai diperlukan interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Hal ini diperlukan untuk mengembangkan kesiapan belajar mandiri peserta didik, agar peserta didik tidak dibiarkan untuk belajar sendiri tanpa bantuan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Garison (1987) bahwa ‘kemandirian belajar dicapai melalui interaksi, bukan dengan cara mengasingkan peserta belajar. Akibatnya, kita seperti berhadapan dengan situasi yang paradoks, yaitu bahwa keberhasilan sistem belajar mandiri sangat bergantung pada mutu interaksi antara peserta belajar dan fasilitator’.

Interaksi peserta belajar dengan pengajar dalam pendidikan jarak jauh, karena sifat keterpisahannya, dapat dikembangkan melalui teknologi komunikasi. Oleh karena itu, bagi pendidik yang berkecimpung dalam pendidikan jarak jauh, keterampilan menggunakan teknologi komunikasi merupakan hal yang penting. Interaksi peserta belajar dengan pengajar bertujuan untuk mengetahui kondisi peserta belajar.

Secara umum, interaksi dengan peserta belajar seyogyanya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi peserta belajar yang beragam. Untuk itu penyelenggaraan pendidikan perlu menyediakan sarana layanan dukungan secara beragam, yang dapat dipilih oleh peserta belajar sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi belajarnya. Tanpa layanan dukungan belajar bagi peserta pendidikan jarak jauh yang tidak memiliki kompetensi awal yang memadai, akan terjadi situasi dimana hanya peserta didik yang siap saja yang dapat bertahan belajar dalam pendidikan jarak jauh. Sedangkan mahasiswa yang tidak siap akan tersisih, mirip dengan situasi yang memberlakukan hukum rimba. Jika pendidikan jarak jauh dipandang sebagai suatu pabrik pendidikan, maka keadaan tersebut tidak terlalu merisaukan; situasi tersebut merupakan bagian kontrol mutu terhadap lulusan yang dihasilkannya. Akan tetapi, peserta pendidikan jarak jauh adalah manusia-manusia dewasa yang berharap dapat mengembangkan dirinya melaui pendidikan tinggi. Agar mereka tidak menjadi frustasi, merasa kalah, dan menurun kepercayaan dirinya, maka peningkatan pelayanan belajar merupakan suatu keharusan. Untuk itu, penyelenggaraan pendidikan jarak jauh perlu mengindahkan apa yang diungkapkan oleh Moore (1986; p.22):

Pendidikan jarak jauh telah menjadi berhasil. Adalah penting bahwa pengelolaannya tetap di tangan orang-orang yang memiliki motivasi untuk melayani orang. Dengan perkataan lain, kita mesti terjaga untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang secara tradisional menjadi perhatian para pendidik pendidikan jarak jauh, khususnya nilai-nilai mengenai kebebasan peserta didik, individualisme, dan kemandirian.

Konsep Teori Pendukung

  • Pengajar dan pebelajar dipisahkan oleh jarak (jarak ini dapat diartikan ruang belajar yang terpisah di suatu tempat yang sama atau di lokasi yang berbeda dan jauh jaraknya).
  • Pembelajaran disampaikan melalui media cetak, media audio, audio-visual, atau bahkan menggunakan teknologi komputer.
  • Komunikasi yang interaktif dimana pengajar mendapatkan beberapa respon dari pebelajar. Respon ini bisa didapatkan segera atau beberapa waktu setelah pembelajaran berakhir.

Pembelajaran jarak jauh dapat dibedakan ke dalam  dua tipe, yaitu: synchronous dan asyinchronous.

  • synchronous type : “synchronous berarti “pada waktu yang sama”. Jadi, proses pembelajaran jarak jauh terjadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar.”
  • asyinchronous type : “asyinchronous berarti “tidak pada waktu yang bersamaan”. Jadi, pebelajar dapat mengikuti pembelajaran pada waktu yang berbeda dengan pengajar.”

III – METODOLOGI PENULISAN

Bentuk penulisan ini adalah menggunakan metode survei Self-Directed Learning Readiness Scale, yaitu melakukan berbagai pengumpulan data dan informasi yang ada di lapangan, baik yang di peroleh melalui subyek yang diteliti.

Instrumen penelitian Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) dikembangkan oleh Guglielmino pada tahun 1978 melalui disertasinya yang berjudul “Development Of The Self-Directed Learning Readiness Scale” (Guglielmino, 1978).

Kesiapan untuk menerapkan sistem belajar mandiri merupakan perilaku manusia yang dapat diukur. Instrumen yang dikembangkan oleh Guglielmino adalah instrumen untuk mengukur kemampuan belajar mandiri tersebut. Menurut Guglielmino, instrumen SDLRS dikembangkan untuk digunakan bagi institusi-institusi pendidikan, dan para fasilitator pendidikan sebagai usaha untuk memilih program belajar yang membutuhkan kesiapan belajar mandiri, serta bagi siswa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka dalam belajar mandiri.

Permasalahan yang perlu dicermati dalam penelitian terhadap konsep atau teori dalam menerapkan sistem belajar mandiri ini adalah :

  1. Kesiapan universitas atau lembaga pendidikan menerapakan sistem belajar mandiri dan jarak jauh dalam rangka menghadapi era virtual university?
  2. Mungkinkah suatu konsep di kembangkan lebih jauh. Terlihat bila suatu konsep lama ditinggalkan, ternyata menjadi relevan dengan keadaan yang terbaru dengan diketemukannya suatu konsep yang lebih mutakhir?

IV – PEMBAHASAN

Konsep Distance Learning

Beberapa Pengertian

  • Distance Education adalah situasi pembelajaran dimana pebelajar secara fisik terpisah jauh dari sumber asal, yang ditandai dengan terbatasnya akses terhadap guru rekan belajar lain (Heinich, Mollenda, Russelll, 1993:443) Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya – Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.12 (Barbara B. Seels, Rita C. Richey)
  • Dilihat dari segi proses belajar-mengajar pendidikan jarak jauh adalah berbagai bentuk studi pada semua tingkatan yang tidak berada di bawah atau segera mendapatkan supervisi dari para tutor, seperti halnya pengajaran dalam ruangan kelas. Tetapi tetap mendapat keuntungan dari perencanaan dan bimbingan dari orang tutorial”. (Homberg, 1979:9).
  • Dilihat dari sudut misi “ Pendidikan jarak jauh adalah ide dalam menciptakan kesempatan bagi orang orang yang terhalang untuk memasuki sekolah biasa, karena berbagai alasan seperti keterbatasan memperoleh pendidikan formal, keterbatasan lowongan tempat duduk, keterbatasan biaya, tinggal di daerah terpencil, bekerja dan kebutuhan lainnya”. (Mc.Kenzie, Postage dan Schupham, 1975:15)
  • Pendidikan Jarak Jauh adalah pendidikan terbuka dengan program belajar yang terstruktur relatif ketat dan pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau keterpisahan antara pendidik dengan peserta didik/warga belajar. (Prof.Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc. “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”).
  • PJJ merupakan suatu sistem belajar yang menggunakan media komunikasi untuk memperluas kesempatan belajar diluar ruangan kelas atau kampus sehingga memungkinkan terjadinya keahlian belajar secara luas dibandingkan dengan apa yang dilakukan guru di kelas atau sekolah. (Wilbur Schramm, dari sudut pandang media pendidikan).
  • Distance Learning, yaitu instructional delivery yang tidak mengharuskan siswa untuk hadir secara fisik pada tempat yang sama dengan pengajar (Ornager, UNESCO:2003).
  • Distance Education, yaitu model pembelajaran dimana siswa berada di rumah atau kantor mereka dan berkomunikasi dengan dosen maupun dengan sesama mahasiswa melalui e-mail, forum diskusi elektronik, videoconference, serta bentuk komunikasi lain yang berbasis komputer (Webopedia:2003).

Mewujudkan ide, konsep dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada non text based material.

Komponen-Ciri Prinsip Dasar Pengembangan

Komponen-komponen yang harus menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan sebuah sistem pendidikan jarak jauh antara lain :

  • Kebebasan ; Pendidikan terbuka dan jarak jauh dirancang sebagai sistem pendidikan yang bebas untuk diikuti oleh siapa saja sehingga peserta didik menjadi sangat heterogen baik dalam kondisi, karakteristiknya yang meliputi motivasi, kecerdasan, latar belakang pendidikan, kesempatan maupun waktu yang disediakan untuk belajar. Program yang disajikan dirancang secara khusus, yaitu ikatan yang longgar pada materi, tempat, jarak, waktu, usia, gender,dan persyaratan non-akademik lain ;
  • Kemandirian ; Sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh diwujudkan dengan adanya kurikulum atau program pendidikan yang memungkinkan untuk dapat dipelajari secara mandiri (independent learning). Bahan belajar dapat disediakan dalam bentuk paket-paket pembelajaran yang didukung dengan program bimbingan atau tutorial dan evaluasi yang dirancang dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) ;
  • Keluwesan ; PJJ diwujudkan dengan dimungkinkannya peserta didik untuk memulai, mengakses sumber belajar, mengatur jadwal dan kegiatan belajar, mengikuti ujian dan penilaian kemampuan belajar dan mengakhiri pendidikannya di luar ketentuan batasan waktu dan tahun ajaran. Program pendidikan dan atau pembelajaran dapat diambil dan diselesaikan dengan lintas jalur lembaga pendidikan (multi-entry-multi-exit system) ;
  • Dapat mengatasi hambatan geografis dan ekonomi ;
  • Tidak memerlukan alat-alat transportasi dan akomodasi ;
  • Fasilitas belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be) ;
  • Dapat mengatasi keterbatasan tenaga yang bermutu dan ruangan kelas ;
  • Adanya effort atau usaha serta kerja keras dari pebelajar.

Ciri dan komponen Sistem Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh (distance education) telah diperkenalkan oleh banyak peneliti, misalnya Keegan (1980); Perry dan Rumble (1987). Karakteristik utama pendidikan jarak jauh adalah sebagai berikut :

  • Pemisahan dosen dan mahasiswa selama proses belajar mengajar;
  • Penggunaan media pendidikan (cetak, audio, vidio, dan komputer) untuk menyatukan dosen dan mahasiswa;
  • Peranan penting organisasi pendidikan dalam perencanaan, persiapan bahan belajar dan penyediaan pelayanan mahasiswa;
  • Tersedianya komunikasi dua arah sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan berkomunikasi;
  • Tidak adanya proses belajar kelompok secara klasik;
  • Adanya bentuk industrialisasi pendidikan, dan
  • Individualisasi proses belajar (belajar mandiri).

Unsur Pengembangan

Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web dan internet antara lain harus memiliki unsur sistem sebagai berikut :

  • Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya.
  • Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.
  • Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya.
  • Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quiz singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning.
  • Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database.
  • Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web.

Rencana Strategis Membangun Sistem Pendidikan Jarak Jauh di Universitas.

Meskipun teknologi merupakan bagian integral dari pendidikan jarak jauh, namun program pendidikan harus tetap fokus pada kebutuhan instruksional mahasiswa, dari pada teknologinya sendiri. Perlu juga untuk dipertimbangkan; usia, kultur, latar belakang sosioekonomi, interes, pengalaman, level pendidikan, dan terbiasa dengan metode pendidikan jarak jauh. Faktor yang penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri dosen, pengalaman, mudah menggunakan peralatan, kreatif menggunakan teknologi, dan menjalin interaksi dengan mahasiswa.

Pada pembangunan sistem perlu diperhatikan tentang disain dan pengembangan sistem, interactivity, active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif.

Strategi Pengembangan

Seperti halnya penerapan teknologi baru, penerapan sistem pendidikan jarak jauh di universitas, kita membutuhkan strategi yang jelas sebagai acuan sebelum kita mulai menerapkan distance learning. Oleh karena itu, penyusunan strategi untuk distance-learning sangat berguna untuk :

  • Memperjelas tujuan pendidikan atau pelatihan yang ingin dicapai.
  • Mengetahui sumber daya yang dibutuhkan.
  • Membuat semua pihak yang terlibat untuk tetap mengacu dan komitmen pada tujuan yang sama.
  • Mengetahui evaluasi keberhasilan program.

Struktur Strategi Pengembangan

  1. Analisa ;
  2. Tahap Perencanaan ;
  3. Tahap Pelaksanaan ;
  4. Evaluasi.

* Siklus Strategi Pengembangan

1.  Analisa

Dalam setiap strategi, baik strategi untuk proyek teknik atau manajemen, Kita harus terlebih dahulu menganalisa keadaan lembaga atau organisasi. Analisa ini meliputi hal apa yang harus dicapai dalam strategi dan faktor-faktor di lingkungan  lembaga atau organisasi yang dapat mempengaruhi strategi.

Analisis SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats)

Faktor-faktor yang kita analisa :

  • Kebutuhan Lembaga Organisasi

Analisa kebutuhan organisasi akan melihat keadaan lembaga organisasi sekarang dan apakah keberadaan sistem d-learning dapat memberikan dampak positif. Untuk mencapai harapan yang dicapai dengan program ini dan antusiasme lembaga dalam mendukung keberhasilan program ini.

  • Kebutuhan Pelatihan

Analisa kebutuhan pelatihan ini bertujuan melihat dasar-dasar praktik analisa kebutuhan pelatihan (Training Need Analysist), dimana nantinya akan terlihat perbedaan (gap) antara kinerja yang dibutuhkan dengan sumber daya manusia yang ada (Gap Analysist) dengan metode observasi, survey, interview, work sample.

  • Budaya Organisasi

Analisa terhadap kultur lembaga dan apakah kultur tersebut cocok dan kondusif untuk menerapkan d-learning.

  • Infrastruktur

Menganalisa keadaan teknologi dan infrastruktur lembaga organisasi dari segi pelaksanaan d-learning.

2.  Perencanaan

Perencanaan merupakan sesuatu yang harus dilakukan dalam strategi apapun. Hasil analisa sebelumnya menjadi patokan dalam proses menyusun rencan penerapan program tesebut. Dan juga diperlukan sebuah Tim Pelaksana Proyek yang terdiri dari :

  • Project Manager
  • Sponsor
  • Konsultan TI
  • Subyek Matter Expert
  • Instructional Designer
  • Developer
  • Administrator

Aspek perencanaan utama yang harus kita tinjau dalam menerapkan program ini adalah :

  • Network dan Teknologi

Di bagian ini, kita akan merencanakan apa yang harus disiapkan dari segi infrastruktur dan teknologi agar agar dapat d-learning diterapkan sesuai dengan keinginan lembaga organisasi.

  • Learning Management System

D-Learning memerlukan suatu sistem sebagai platform untuk menjalankannya. Sistem tersebut sering dinamakan Learning Mangement System (LMS). Karena LMS begitu penting dalam setiap program maka, menurut John Chambers, CEO of Cisco System, menyatakan “if course content is king, then infrastructure (LMS) is God

Beberapa fungsi LMS adalah :

  1. Katalog
  2. Registrasi dan persetujuan
  3. Menjalankan dan memonitor d-learning
  4. Evaluasi
  5. Komunikasi
  6. Laporan
  7. Rencana Program
  8. Integrasi
  • Materi

Hasil analisa kebutuhan program pendidikan yang dilakukan sebelumnya berkaitan dengan merencanakan materi pelajaran d-learning. Materi yang ditawarkan dalam program d-learning tersebut harus sesuai dengan analisa awal program. Apabila lembaga organisasi memutuskan untuk membeli materi dari lembaga organisasi luar (vendor), dan harus ditentukan kriteria materi yang sesuai dengan program.

  • Marketing

Agar mencapai hasil maksimal, lembaga harus membuat pebelajar atau sasaran utama tertarik dan berminat mencoba d-learning. Kemudian lembaga merencanakan pula cara menyiapkan sasaran lembaga atau change management, agar d-learning dapat diterima.

3. Pelaksanaan

Tahap ini memerlukan keahlian project management  dan leadership skill yang andal untuk memastikan koordinasi dan eksekusi program sesuai dengan rencana dan tidak menyimpang dari tujuan dan strategi.

Tahap pelaksanaan dapat dibagi menjadi tiga bagian berdasrkan waktu pelaksanaan.

  1. Pre-Launch

Di sini, melaksanakan kegiatan yang harus dipersiapkan sebelum peluncuran d-learning di lembaga pendidikan. Misalnya, User’s Acceptance Test, pilot project, focus group, promosi (newsflash, email teaser, dsb).

1. Launch

Proses  peluncuran program dilakukan.

2. Post-Launch

Kegiatan untuk menjaga tingkat keikutsertaan organisasi dalam program dan kepuasan  pembelajaran peserta program.

4.  Evaluasi

Setelah lembaga melaksanakan rencana penerapan d-learning, lembaga harus menilai keberhasilan program. Oleh karena itu, Lembaga memerlukan analisa evaluasi lebih mendalam.

Donald Kirkpatrick menyebutkan dalam bukunya Evaluating Training Programs : The Four Levels : 1998. teori evaluasi pelatihan terdiri dari 4 (empat) level sebagai berikut :

1. Level 1 / Reaction

Mengukur efektivitas program berdasarkan persepsi dan reaksi pebelajar sendiri.

2. Level 2 / Learning

Mengukur keberhasilan program berdasarkan pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan.

3. Level 3 / Behaviour

Mengukur keberhasilan program berdasarkan peningkatan kinerja pebelajar di lingkungan lembaga pendidikan.

4. Level 4 / Result

Mengukur keberhasilan program berdasarkan perubahan pada organisasi atau lembaga yang disebabkan program tersebut.

Pembiayaan Pendidikan Jarak Jauh

Strategi pengembangan ini menghasilkan informasi bahwa beberapa temuan penting berkaitan dengan usaha-usaha untuk menerapkan sistem distance learning dapat diukur penggunaan  biaya belajar jarak jauh tersebut. Pertama, biaya belajar jarak jauh harus diukur tidak hanya menggunakan termin keuangan tetapi juga mempertimbangkan kerugian efektifitas program belajar jarak jauh. Kedua, ada kecenderungan bahwa penyedia program belajar jarak jauh berusaha keras untuk meniru pertemuan tatap muka sebenarnya. Usaha-usaha itu akan meningkatkan biaya penyelenggaraan keuangan program belajar jarak jauh, yang kebalikan dari gagasan penyelenggaraan metode alternatif bagi pembelajaran tatap muka yang mahal.

Akhirnya, karena sifat eksplorasi strategi ini di masa datang berkaitan dengan pengunaan biaya belajar jarak jauh yang meliputi efektifitasnya dapat menyediakan pemahaman yang lebih baik agar mengembangkan program belajar jarak jauh di masa depan.

Perkiraan keuntungan biaya program penggunaan media dan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh, antara lain :

Kunci Untuk Sukses :

  • Pilh teknologi yang tepat guna.
  • Meluangkan waktu untuk perencanaan
  • Memberikan feedback berkala yang konsisten untuk pebelajar.
  • Motivasi interaksi antar pebelajar.
  • Menyediakan pembelajaran dengan pengajar yang kompeten.
  • Pastikan menyediakan infrastruktur kepada pebelajar.
  • Mempunyai rencana lanjutan untuk perubahan teknologi. (have a back-up plan for the technology)
  • Berlatih, berlatih, berlatih terus.

V – IMPLIKASI TERHADAP TEKNOLOGI  PENDIDIKAN

Teknologi pendidikan, pada inti kajiannya membahas tentang fungsi rekayasa, analisa, perencananaan, pengembangan, penerapan dan evalusasi penggunaan media dan teknologi dalam proses pembelajaran. Teknologi menjadi medium suatu penyampaian pesan pembelajaran yang dapat disajikan dalam berbagai macam bentuk, dalam artian sebagai suatu strategi yang diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna kepada pebelajar.

Strategi pembelajaran sendiri berakaitan dengan proses dan upaya untuk menerapkan kondisi pembelajaran ke dalam berbagai model pembelajaran agar dapat disampaikan secara menyeluruh ke dalam interaksi dan aktifitas pebelajar.

Implikasi penerapan strategi belajar menggunakan sistem distance learning menggunakan media internet dan web sendiri dapat dirasakan langsung oleh teknologi pendidikan. Pengelolaan teknologi dan media dalam pembelajaran pada dasarnya meliputi pengendalian teknologi pembelajaran yang sebagaimana kita ketahui melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan supervise. Pengelolaan biasanya merupakan hasil dari penerapan suatu sistem nilai. Terlepas dari besarnya program, model pembelajaran jarak jauh yang ditangani dengan baik merupakan salah satu kunci keberhasilan yang esensial adalah dalam pengelolaan teknologi pembelajaran itu sendiri.

Lulusan Teknologi pendidikan berperan sebagai instructional designer, SME (Subject Matter Expert) yaitu seorang pengelola materi pembelajaran dan seorang subyek matter expert yang ahli mengolah data dan informasi bahan ajar yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran.

VI – REKOMENDASI

Pendidikan jarak jauh adalah suatu pola pengaturan program belajar yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga tiap peserta didik/pebelajar dapat memilih bahan belajar, waktu, tempat yang sesuai dengan keinginan dirinya untuk mengembangkan potensi belajarnya sendiri. Karena pendidikan jarak jauh tidak seperti pendidikan keonvensional pada umumnya, maka pendidikan jarak jauh dirasakan sangat perlu sekali menggunakan media sebagai alat penyampaian materi atau bahan pelajaran, karena adanya relevansi waktu dan tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu antara pengajar dan pebelajar.

Pendidikan jarak jauh memiliki berbagai bentuk mulai dari penggunaan media cetak, audio, audio-visual imagery, computer based multimedia training, CBI, CAI, network intergrity, internet tergantung situasi apa yang ada di lingkungan dimana akan diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh tersebut.

Untuk menerapkan sistem pendidikan jarah jauh di Universitas Pendidikan Indonesia diperlukan sebuah komitmen pengelola lembaga pendidikan maupun seluruh civitas akademik yang ada. Sebuah sistem pembelajaran jarak jauh dapat diterapkan di UPI sendiri, karena menganalisa beberapa faktor antara lain :

  • Adanya keinginan mahasiswa dalam memperoleh dan mengakses bahan belajar secara luas lagi, hal ini disebabkan karena koleksi perpustakaan sendiri masih kurang lengkap.
  • Adanya mahasiswa program PGSD di berbagai daerah, yang tidak mungkin dapat memperoleh bahan ajar yang sesuai dan efisiensi, efektifitas serta biaya akomodasi jika harus mengakses secara langsung.
  • Kemajuan Lembaga Unit Pelaksana Teknis UPI yaitu UPI.net dalam mengelola dan mengatasi masalah teknologi informasi di lingkungan kampus.
  • Keinginan untuk menjadi virtual university dalam beberapa tahun ke depan.

Siapkah Universitas Pendidikan Indonesia dalam menerapkan sistem pendidikan jarak jauh bagi dunia pendidikan di Indonesia saat ini ?

DAFTAR PUSTAKA

CD from Indonesian Education Department /Renstra Diknas ATC/ Renstra Versi ATC.pdf.

Hidayatullah – Teknologi Pendidikan, ©  & ® 2006

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 25, 2009, in InfoTech, Pembelajaran and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: