Model Pengembangan Kurikulum Pembelajaran


Model Pengembangan Kurikulum Pembelajaran

Menurut Susilana (2006:139) ciri-ciri model pengembangan kurikulum pembelajaran diantaranya adalah:

  1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu;
  2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu;
  3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas;
  4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) Urutan langkah-langkah pembelajaran, (2) Adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) Sistem  sosial, dan (4) Sistem pendukung;
  5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran, yaitu dampak pembelajaran (hasil belajar yang dapat diukur) dan dampak pengiring (hasil belajar jangka panjang); dan
  6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.

Dalam pengembangannya model ini terbagi menjadi beberapa model, diantaranya:

  1. Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional

Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemik dan sistmatis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Langkah-langkah dari pengembangan model PPSI ini adalah sebagai berikut:

  • Merumuskan Tujuan. Langkah ini menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku, dan hanya ada satu kemampuan atau tujuan.
  • Pengembangan Alat Evaluasi. Dalam mengembangkan alat evaluasi, langkah-langkahnya adalah menentukan jenis tes yang akan digunakan dan menyusun item soal untuk setiap tujuan.
  • Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Langkah ketiga yaitu merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh.
  • Pengembangan Program KBM. Dalam pengembangan program KBM, maka langkah-langkahnya ialah merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan atau jadwal.
  • Pelaksanaan. Langkah yang terakhir yaitu mengadakan pre-tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan post-tes dan revisi.

2. Model Glasser

Bagan 1

Model Glasser

Model ini merupakan model yang paling sederhana, dimana menggambarkan suatu perencanaan atau pengembangan pembelajaran ke dalam empat langkah, diantaranya:

  • Tujuan pembelajaran (Instructional objectives)
  • Tahap pertama adalah tujuan pembelajaran atau dalam proses produksi merupakan tujuan dari program yang akan dirancang. Tujuan ini lebih menitikberatkan kepada apa yang ingin disampaikan dari program yang diinginkan.

  • Pemberian perlakuan (Entering behavior)
  • Pada tahap ini kita mencoba memasukkan materi-materi atau unsur-unsur yang berkenaan dengan program yang dibuat. Dimana segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan produksi.

  • Prosedur pelaksanaan (Instructional prosedures)
  • Prosedur pelaksanaan merupakan sebuah tahapan dalam menguraikan langkah-langkah yang akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan agar proses pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

  • Penilaian hasil produksi (Performance assessment)
  • Dimana pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap kinerja yang telah dilaksanakan. Tahap ini merupakan sebuah upaya menyelaraskan segala sesuatu yang telah dilaksanakan pada tahap sebelumnya.

3. Model Gerlach dan Elly

Bagan 2

Model Gerlach dan Elly

Model pembelajaran Gerlach dan Elly merupakan salah satu model yang sering pula digunakan pada perencaanan pembelajaran. Model ini menitikberatkan pada upaya-upaya yang dilakukan dalam merumuskan komponen-komponen yang sering dijumpai dalam sebuah program. Model ini terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

Tahapan pertama, yaitu perumusan materi (specification of content) dan perumusan tujuan (specification of objectives). Inti dari sebuah program adalah kesesuaian antara hasil dengan tujuan. Tahap ini bertujuan untuk mensinkronkan antara materi yang akan diberikan dengan tujuan dari program yang dibuat.

Tahapan kedua, yaitu Analisis terhadap Perlakuan (Assessment of Entering Behaviors). Hal ini bertujuan untuk menganalisis input yang menjadi sasaran dari program, agar memudahkan untuk memberikan perlakuan atau pembelajaran yang akan disampaikan.

Tahapan ketiga, merupakan beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam perencanaan sebuah program, diantaranya:

  • Perumusan Strategi (Determination of Strategy)
  • Sebuah program yang baik akan tercapai jika menggunakan strategi yang benar. Maka perumusan strategi merupakan langkah awal dari bagaimana program itu baik atau tidaknya dalam pencapaian tujuan. Sehingga penggunaan strategi yang tepat akan mempengaruhi hasil akhir dari program yang dilaksanakan.

  • Pengorganisasian Kelompok (Organization of Groups)
  • Pengorganisasian kelompok merupakan salah satu bentuk perencanaan yang melibatkan sumber daya manusia dalam mencapai tujuan. Pengorganisasian kelompok ini dilakukan agar memudahkan dalam pencapaian tujuan. Pengorganisasian ini seperti pembentukan kelompok, pembagian tugas kelompok, manajemen kelompok, dan lainnya.

  • Alokasi Waktu (Allocation of Time)
  • Sebuah program tidak dapat berjalan semestinya jika tidak terdapat perencanaan waktu yang baik. Sehingga pada tahap ini pengalokasian waktu merupakan bagian yang vital dalam perencanaan program. Bentuk pengalokasian waktu yang baik seperti pembuatan jadwal kegiatan, run down acara, dan lainnya.

  • Alokasi Tempat (Allocation of Space)
  • Tempat merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaan program. Karena segala sesuatu yang berkaitan dengan program akan berkenaan dengan tempat. Bentuk pengalokasian tempat adalah seting ruangan, lokasi program, dan lainnya.

  • Penyediaan Peralatan (Selecting of Resources)
  • Bagian yang tak kalah pentingnya adalah penyediaan peralatan. Yang dimaksud penyediaan peralatan ialah proses persiapan sejumlah sarana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan program.

    Tahap keempat, evaluasi (Evaluation of Performance). Dimana setelah melaksanakan seluruh rangkaian tahapan sebelumnya perlu diadakan suatu evaluasi perencanaan. Evaluasi ini bertujuan sebagai proses penilaian terhadap hal-hal yang telah dipersiapkan. Bentuk konkret dari evaluasi ini adalah analisis balikan (Analyses of Feedback).

4. Model Jerold E. Kemp

Bagan 3

Model Jerold E. Kemp

Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Dimana alur tersebut merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi. Komponen-komponen dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap komponennya dapat dilakukan revisi.

Adapun langkah-langkah dari pengembangan model Kemp adalah sebagai berikut:

  • Menentukan Judul dan Tujuan Pembelajaran Umum
  • Langkah pertama dalam mendesain program adalah menentukan judul dan tujuan pembelajaran secara umum. Karena secara tidak langsung judul akan mempengaruhi program secara keseluruhan.

  • Menganalisis Karakteristik Siswa
  • Kadang kala sebuah program tidak berjalan dengan baik apabila tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Sehingga langkah menganalisis karakteristik siswa menjadi faktor penentu dalam pengembangan program. Karakteristik siswa dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan, seperti kelompok umur, pendidikan terakhir, latar belakang sosial, dan lainnya.

  • Menentukan Tujuan Pembelajaran Khusus
  • Setelah merumuskan tujuan umum dan menganalisis karakteristik siswa, maka langkah berikutnya menentukan tujuan pembelajaran secara khusus. Yang dimaksud pada langkah ini adalah perumusan yang lebih mendetail hal-hal yang sangat teknis. Dimana lebih mencakup pokok-pokok yang ingin dicapai oleh program.

  • Menentukan Materi Pembelajaran
  • Langkah berikutnya menentukan materi yang akan disampaikan. Materi ini bisa berupa bahan atau alat yang dapat menjabarkan isi dari program yang diinginkan.

  • Menentukan Pre Test
  • Pre test merupakan sebuah cara untuk mengukur sejauhmana kemampuan siswa dalam penguasaan materi yang akan diberikan. Menentukan pre test merupakan sebuah upaya untuk menjaring siswa yang sesuai dengan program.

  • Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
  • Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan inti dari sebuah program. Dalam penentuan KBM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya metode pembelajaran, seting ruangan, sarana dan prasarana, dan lainya.

  • Evaluasi
  • Tahap evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan pada model ini, dimana secara formatif program yang dikoreksi dan diperbaiki agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

5. Model Pembelajaran Konstekstual

Pendekatan konstekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang   memfasilitasi kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat kongkrit (terkait dengan kehidupan nyata) melalui pelibatan aktivitas belajar mencoba melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing).Dalam pembelajaran kontekstual ada tujuh prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan, yaitu:

  • Konstruktivisme
  • Konstruktivisme merupakan sebuah landasan berfikir dalam membangun pengetahuan secara bertahap dengan konteks terbatas.

  • Menemukan (Inquiry)
  • Merupakan kegiatan inti sebagai upaya menemukan yang akan menberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampialan yang didapat adalah hasi menemukan sendiri.

  • Bertanya (Questioning)
  • Bertanya merupakan kemampuan dan kebiasaan yang menjadi strategi utama untuk mendorong siswa dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pembelajaran.

  • Masyarakat Belajar (Learning Community)
  • Hasil pembelajaran diperoleh dalam kerjasama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Oleh karena itu maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya.

  • Pemodelan
  • Berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan siswa yang semakin beragam berdampak terhadap kemampuan guru untuk memenuhinya. Saat ini guru bukan satu-satunya sumber belajar dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran.

  • Refleksi
  • Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. Intinya adalah berpikir kembali ke belakang mengenai apa-apa yang telah dipelajari kemudian mengendapkannya sebagi struktur pengetahuan baru. Pada saat ini siswa diberi waktu untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be).

  • Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
  • Tahap terakhir yaitu penilaian. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Tahap ini memiliki fungsi yang menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan contextual teaching and learning.

    Berdasar uraian diatas, maka terdapat beberapa model perencanaan yang dapat digunakan untuk perencanaan produksi program televisi melalui project work. Karena secara umum model-model tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Jika melihat perkembangan model pembelajaran, model yang sering digunakan ada empat macam menurut Susilana (2006), diantaranya:

1. Model Interaksi Sosial

Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field-theory). Model interaksi sosial menitikberatkan hubungan harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). Pokok pandangan gestalt adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Aplikasi model interaksi sosial dalam pembelajaran adalah:

  • Pengalaman tilikan (insight)
  • Siswa sebaiknya memiliki kemampuan insight yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek.

  • Pembelajaran yang bermakna
  • Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran.

  • Perilaku bertujuan
  • Perilaku seharusnya terarah pada suatu tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran akan berhasil bila siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.

  • Prinsip ruang hidup (Life space)
  • Perilaku siswa terkait dengan lingkungan dimana ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan dimana siswa berada.

2. Model Pemrosesan Informasi

Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses infomasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan. Implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran diantaranya:

  • Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengn orang dewasa;
  • Guru harus bertindak sebagai fasilitator;
  • Materi belajar sesuai dengan tingkat perkembangan siswa; dan
  • Siswa diberikan kesempatan yang luas untuk bersosialisasi dan diskusi.

3. Model Personal (Personal Models)

Model ini bertolak dari teori humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. Perhatian utamanya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungan. Implikasi dari teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan;
  • Tingkah laku berorientasi pada pelaksanaan (learning to do);
  • Siswa memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri;
  • Pengajaran berfokus pada belajar siswa (learn how to learn); dan
  • Pengajaran adalah membantu siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya.

4. Model Modifikasi Tingkah Laku

Model ini bertolak dari teori belajar behavioralistik yaitu bertujuan mengembangakan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologi dan perilaku yang tidek dapat diamati. Karakteristik dari model ini adalah dalam hal penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari siswa lebih efisien dan berurutan.

5. Model Evaluasi

Evaluasi (evaluation) berbeda dengan istilah penilaian (assessment). Evaluasi digunakan dalam konteks yang lebih luas dan bisa dilaksanakan baik secara eksternal (oleh orang yang berada diluar sistem) maupun secara internal. We use the word evaluation to designate summing-up process in which value judgement play a large part as in grading and promoting students. We consider the construction administration and scoring of test as measurement process (Stanley and Hopkins, 1978:3). Adapun penilaian digunakan dalam konteks yang lebih sempit dan biasanya dilaksanakan secara internal, yakni oleh orang-orang yang menjadi bagian dari suatu sistem.

Ada lima faktor evaluasi yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Evaluasi berkait dengan kegiatan memberi nilai (value), yaitu derajat kebaikan atau mutu dari objek yang dievaluasi.
  • Pemberian nilai adakalanya digunakan untuk kepentingan sumatif atau untuk formatif.
  • Nilai yang diberikan mengacu kepada suatu patokan tertentu seperti Penilaian Acuan Patokan (PAP), Penlaian Acuan Norma (PAN), dan gabungan dari keduanya.
  • Pemberian nilai didasarkan atas data atau informasi yang dikumpulkan dengan teknik-teknik, seperti pengujian, pengamatan, wawancara dan hasil pekerjaan.
  • Hasilnya secara komprehensif dan tepat (akurat) menggambarkan keadaan yang sebenarnya (objektif) dari derajat kebaikan objek yang dinilai.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 29, 2009, in Pembelajaran and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: