Tragedi Berdarah di Banten 1888 “Perang Ki Wasyid”


 Tragedi Berdarah di Banten 1888 “Perang Ki Wasyid”

 A. Hamid (re-type by : Hidayatullah Tirtayasa. S. Pd.)


Api semangat yang mereka miliki hendaknya dapat kita gali kembali untuk mendinamisasi gerak langkah dan arah umat yang kini sedang membangun.

Mereka telah mengajari kita, bahwa kehidupan yang berani harus disertai dengan akhlak dan iman.

Sebagai generasi penerus, kita merasa terpanggil oleh sejarah untuk melanjutkan cita-cita perjuangan para pahlawan, yang justru adalah cita-cita bangsa dan negara juga.

Selamatlah, wahai Indonesia!

Senyumlah, bersama senyuman bahagia para pahlawanmu!

BAB I

KELAPARAN MENGHANTUI PENDUDUK

MALAPETAKA kekeringan yang amat hebat menimpa sebagian Kabupaten Serang di Keresidenan Banten. Peristiwa memilukan itu, terjadi sekitar tahun 1882 dan 1883. Ketika itu, wilayah Banten sudah dalam cengkeraman penjajah Belanda. Lebih dari separuh abad lamanya tanah Banten di belenggu kekejaman kaum penjajah. Rakyat di desa-desa tampak berwajah murung, lesu dan tak bersemangat. Penduduk seperti tak memiliki gairah lagi untuk menghadapi hari esok. Dari pembicaraan penduduk di sudut-sudut kampung, yang terdengar hanya keluhan dan tarikan nafas panjang tentang biaya hidup yang dirasakan semakin sulit. Betapa tidak, sudah hampir dua tahun ini  hujan tak pernah membasahi bumi. Udara terasa semakin panasnya seperti membakar tubuh-tubuh yang kurus berbalut kulit.

Banten City, year 1724

Image via Wikipedia

Jalan-jalan dipenuhi oleh debu yang berterbangan ditiup angin kering, membuat suasana menjadi semakin tak enak dan membosankan. Sementara tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitarnya, sebagian nasibnya tak jauh berbeda dengan keadaan penduduk. “Hidup segan mati tak mau”, kian hari daunnya yang hijau berubah menjadi layu, akhirnya kering kerontang. Satu demi satu daunnya berguguran dan berserakan di atas tanah. Pohon-pohon menjadi gundul karena tak kuasa lagi menghisap sari makanan. Yang tersisa cuma onggokan batang dan ranting seakan menjadi saksi hidup betapa kejamnya Alam ketika itu.

Musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Serang ketika itu, membawa akibat kesengsaraan bagi penduduk. Berbagai upaya telah dilakukan oleh penduduk untuk mengatasi kesulitan hidup yang terasa semakin mencekik leher. Seperti menanam padi, ubi, singkong, serta sayur-sayuran. Namun hasilnya sia-sia saja, hari ini ditanam beberapa hari kemudian tanaman itu kedapatan mati kekeringan air. Padahal pada masa paceklik  itu, untuk mendapatkan air adalah suatu pekerjaan yang amat mustahil. Bayangkan saja, sungai yang mengalir di desa telah lama kering. Sedangkan sumur di rumah-rumah penduduk pun sudah tak mengeluarkan air lagi. Jangankan untuk mandi, buat sekedar penawar dahaga pun sangat sukar mendapatkan air. Maka tak heran, kalau banyak penduduk pria dan wanita yang telah dewasa terpaksa menempuh perjalanan sampai berkilo-kilo meter, hanya untuk memperoleh beberapa kaleng  air. Pemandangan yang menyedihkan seperti itu bisa dijumpai hampir setiap hari di kampung-kampung.

Keadaan yang demikian itu, terasa semakin menghimpit rakyat yang tak berdaya. Tak sedikit penduduk yang ditemui menderita kekurangan makan. Betapa tidak, persediaan beras di rumah sebutir pun tak ada. Sementara beras yang menjadi makanan pokok penduduk sangat sukar diperoleh. Dan andaikatapun persediaan beras masih bisa ditemui di pasar-pasar. Apa yang bisa mereka perbuat?, penduduk hanya bisa gigit jari dengan raut muka memelas. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membelinya. Padahal, penduduk sudah lama tak menyimpan uang. Semua yang mereka miliki telah habis terkuras untuk menyambung hidup keluarga dari hari kehari. Pada jaman sesulit itu, mencari pekerjaan sama sukarnya dengan mengharapkan secangkir beras. Terpaksa, rakyat memakan apa saja yang mereka jumpai hari itu. Yang penting, bisa sekedar mengganjal perut agar tidak sampai kelaparan.

Di sebuah desa di Kecamatan Cilegon, suasananya tak jauh berbeda dengan desa-desa lainnya yang terserang bahaya kekeringan yang mengkhawatirkan. Keadaan desa itu tampak sepi seperti tak berpenghuni, padahal siang itu matahari hampir diatas kepala. Apa yang terjadi, rupanya sebagian penduduk lebih suka tinggal di rumah berkumpul dengan keluarga, sambil duduk merenung memperbincangkan nasib mereka yang tak beruntung.

Biasanya siang itu anak-anak ramai bermain diluar sambil berlarian dengan bebasnya kesana kemari. Tapi kali ini tak satupun yang kelihatan batang hidungnya. Bahaya kelaparan yang mulai menggerogoti suasana damai di desa, tampak sangat berpengaruh sekali pada kehidupan anak-anak. Kegembiraan yang biasanya membayang pada wajah anak desa yang lugu. Tiba-tiba saja menjadi sirna oleh keprihatinan yang mulai menghantui penduduk. Hawa diluar memang bukan main panasnya, menyebabkan rasa kantuk menyerang setiap orang. Kendatipun begitu, kalau kita menyelusuri lorong-lorong disela rumah penduduk. Sebenarnya masih bisa   dijumpai beberapa penghuni desa yang memaksakan diri keluar rumah. Seperti yang tampak di halaman sebuah rumah yang letaknya agak di sudut. Tiga orang lelaki terlihat tengah duduk di teras rumah sambil membicarakan sesuatu.

“Kalau keadaan begini terus, sampai kapan kita bisa mempertahankan hidup” keluh Wahab sambil mengangkat lengan kanannya ke bawah dagu.

Lelaki setengah baya itu mengenakan baju lengan panjang warna putih, berkain sarung hijau kotak-kotak yang sudah agak lusuh, berbicara kepada teman di sebelahnya. “Entahlah,  kita semua tidak tahu harus berbuat apa”. Jawab Husni yang berkaos oblong dan bercelana pendek warna abu-abu yang tampak robek di bagian bawah dekat paha.

“Memang segalanya serba tidak menentu, desa ini seperti telah berubah menjadi sebuah perkampungan yang mati. Tidak ada tanda-tanda yang bisa kita temui, bahwa tanah yang kita pijak ini dulunya adalah daerah yang paling subur. Yang mampu memberikan nafas kehidupan kepada semua penduduk desa. Tapi sekarang, mungkin kita cuma bisa berangan-angan sekedar menghibur diri”. Kembali Wahab melampiaskan uneg-unegnya.

“Jaman sesulit ini, apa yang bisa kita lakukan?”. Ujar teman satunya yang bertubuh kurus, nadanya setengah putus asa.

“Yah!, kita pasrah saja apa yang akan terjadi. Mungkin Tuhan masih mau menguji kesabaran dan ketabahan kita”. Kata Husni, menghibur temannya.

“Tapi tidak semudah itu, kita kan harus makan, perut ini mana bisa ditunda, belum lagi harus memikirkan istri dan anak-anak. Mau diberi makan apa?”.

Suara Wahab terdengar agak keras, tampaknya ia sudah bosan dengan keadaan yang tak pernah berubah.

“Musibah ini memang berat sekali, entah dosa apa yang kita perbuat”. Ucap Husni, sambil menarik nafas panjang.

“Benar juga, rasanya sudah cukup lama kita hidup dengan segala keprihatinan. Tapi hujan yang kita harapkan belum juga membasahi Bumi. Padahal, beban hidup ini sudah tak tertanggungkan lagi. Belum lagi kita harus memikirkan pajak yang mesti kita bayar kepada penjajah Belanda. Mau dibayar dengan apa?, untuk makan saja sungsang-sumbel”. Kata temannya yang berperawakan kurus menggerutu.

“Bule-bule itu memang kejam sekali, sedikitpun tak punya rasa kasihan. Kerjanya tiap hari hanya memeras rakyat”. Ujar Wahab agak kesal.

“Hus!, jangan keras-keras. Kalau terdengar Belanda dan antek-anteknya, kita semua bisa celaka”. Husni mengingatkan teman-temannya dengan nada agak khawatir.

“Puh!…………, pengecut, kenapa mesti takut pada penjajah keparat itu”. Bentak Wahab sambil menyembuhkan ludahnya ke tanah.

“Bukan begitu, dalam situasi sulit begini. Lebih baik memikirkan bagaimana agar kita dapat terus mempertahankan kelangsungan hidup kita sekeluarga. Sebab, kalau terjadi apa-apa, siapa yang susah”. Jawab Husni, mengemukakan alasannya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya diributkan. Lebih baik kita pikirkan soal yang lain saja”. Ucap temannya mengalihkan pembicaraan.

Begitulah gambaran tentang kehidupan rakyat di desa ketika itu. Mereka selalu dililit oleh kesulitan hidup kesulitan hidup yang mengundang rasa iba. Ditambah lagi dengan perasaan khawatir penduduk yang dicekam rasa takut pada Belanda yang tak segan-segan menindas penduduk yang tak berdosa.

Yang lebih menyedihkan lagi, penderitaan penduduk seperti datang beruntun tiada hentinya. Bahaya kelaparan dan wabah penyakit menyerang penduduk di kampung-kampung. Rakyat yang ketika itu dalam keadaan menderita kekurangan makan, tentu saja mudah dihinggapi penyakit. Pada masa itu, penyakit demam yang luar biasa menghantui penduduk. Si penderita yang terserang demam ganas itu, rasa sakitnya terasa sampai ke tulang-tulang. Celakanya, wabah demam aneh itu, paling suka menyerang kaum wanita dewasa. Akibatnya, tak sedikit perempuan kampung yang terjangkit demam ganas itu terbaring di tempat tidur dalam keadaan tak berdaya, sangat menyedihkan sekali. Suhu badannya panas sekali, sekujur tubuhnya menggigil keras menahan rasa sakit yang tak terhingga mulutnya terkunci rapat.

Sementara itu, kelaparan mulai terdengar dimana-mana. Jerit dan tangis anak-anak yang minta disuapi terdengar amat memelas sekali.  Seperti suara rintihan seorang anak yang terdengar dari sebuah rumah di Kramatwatu. Sejak tadi anak itu merengek terus meminta makan. Rintihan anak itu begitu menyayat hati, sedangkan si Ibu tak kuasa berbuat apa-apa selain meratapi nasibnya yang malang. Wajahnya kelihatan sendu sekali, ia hanya bisa mebgelus kepala anaknya dengan penuh kasih-sayang, sambil berusaha membujuk agar si anak menghentikan tangisnya. Mungkin hanya itu yang dapat dilakukannya sebagai pelampiasan kedukaan seorang ibu. Tanpa terasa setitik airmata menetes ke atas pipinya. Yang membuat hatinya semakin berduka, saat itu ia tak kuasa menolong penderitaan anaknya.

“Sabarlah nak, sebentar lagi Bapak pulang, nanti kita makan”.

Hanya kalimat itulah yang keluar dari bibirnya dengan suara agak gemetar. Tubuhnya tampak terguncang menahan suara tangisnya yang hampir tak terbendung.

“Tapi saya lapar Bu, perut ini sejak tadi berkeruyuk, kasihan kan Bu”. Katanya sambil merengek-rengek dibalik suara tangisnya.

“Kita sudah tak punya makanan lagi, apa yang harus Ibu berikan”. Jawab si Ibu dengan sedih.

“Tidak mau, Ibu bohong”.

“Ibu tidak bohong nak, tunggulah barang sebentar, nanti Bapak pulang bawa makanan”. Ujarnya, sambil mendukung anaknya kedalam gendongan.

Tapi anak sekecil itu tahu apa, ia tetap saja meronta-ronta sambil menangis tak henti-hentinya.

Litografi berdasarkan lukisan oleh Abraham Salm dengan pemandangan di Banten (1865-1872)

Image via Wikipedia

Di sudut jalan kampung yang sepi, jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari kota kecil Kramatwatu (lihat juga tokoh Banten : Hussein Jayadiningrat). Seorang perempuan muda terlihat tengah menggendong anak berusia dua setengah tahun, raut mukanya tampak murung dan pucat. Ia berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak berdebu dengan tubuh agak menggigil. Nampaknya perempuan itu tngah menderita sakit yang agak berat. Baju kebaya kembang-kembang yang dikenakannya agak sobek di bagian punggung, kakinya kelihatan kotor dan kumal. Mungkin sudah berhari-hari pakaian itu melekat di tubuhnya yang kurus. Sepasang kakinya yang telanjang, melangkah gontai menuruti kehendak hatinya.

Dengan susah payah akhirnya sampai juga perempuan malang itu ke Pasar Kramatwatu. Pada sebuah lorong di tengah pasar, perempuan itu menghentikan langkahnya, ia kemudian duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangannya ke atas. Anak yang berada dalam gendongan, ditutupinya dengan ujung kain agar terhindar dari sengatan matahari.

Rupanya karena tak tega melihat anaknya kelaparan. Perempuan muda itu terpaksa menjadi pengemis di Pasar Kramatwatu. Ia berharap, beberapa pengunjung pasar akan menaruh belas kasihan dan memberinya sedekah untuk menyambung hidup. Suasana di Pasar Kramatwatu hari itu cukup ramai. Beberapa orang pengunjung pasar yang menaruh iba pada perempuan kampung itu, melemparkan uang logam ke atas tangannya. Dengan amat hati-hati disimpannya uang pemberian itu dibalik lipatan kain. Ada dua jam lamanya perempuan itu mengemis di tengah pasar.

Tiba-tiba tubuhnya menggigil keras, rupanya penyakit demam mulai kambuh lagi. Sekujur tubuhnya tampak berkeringat karena menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk sampai kepersendian tulangnya. Perempuan itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan melawan rasa sakit yang dideritanya. Digigitnya keras-keras bibirnya sampai mengeluarkan darah. Tapi akhirnya ia tak kuasa juga menanggung derita yang tak terhingga sakitnya. Dengan segala daya dicobanya untuk berdiri, tubuhnya yang kurus itu bergoyang ke kanan, hampir saja ia terpelanting mencium got yang ada di dekatnya. Suara tangis anaknya mulai terdengar dari balik gendongan. Sambil terhuyung-huyung perempuan itu kemudian pergi meninggalkan keramaian Pasar Kramatwatu, lalu menghilang di balik sebuah kelokan jalan.

Pada masa sesulit ini, di pasar-pasar di Kabupaten Serang. Banyak di jumpai wanita kampung yang terpaksa menjadi pengemis karena terdesak oleh tuntutan hidup. Tampaknya keadaan di kampung sudah tak bisa diharapkan lagi untuk menopang hidup keluarga. Mereka kemudian pergi ke kota untuk mencoba mengadu untung. Bahkan banyak diantaranya yang membawa serta anak-anak mereka, dengan harapan orang kota akan menaruh belas kasihan pada mereka. Pagi-pagi sekali perempuan kampung itu sudah meninggalkan rumah dan keluarga dengan tujuan mengemis ke kota. Mereka baru pulang ke rumah, setelah sang surya agak condong ke Barat.

Namun apa yang menjadi tumpuan di kota, nyatanya tidak semudahseperti yang diangan-angankan. Orang kota kelihatannya sudah mulai jemu menghadapi pengemis-pengemis itu, yang setiap hari kerjanya hanya mengganggu ketenangan mereka.

Penduduk kota tak pernah lagi mengacuhkan kehadiran tamu-tamu yang tak diundang. Kendati pun para pengemis itu menunjukkan mimik yang sangat memelas, sambil merengek-rengek minta dikasihani.

Menyedihkan sekali, tak sedikit diantara pengemis itu yang bernasib sial pulang ke rumah dengan tangan hampa. Padahal di kampung, anakdan keluarga dari pagi menunggu kedatangan mereka dengan tak sabar. Tentunya dengan harapan bisa menikmati makanan barang satu-dua potong untuk mengisi perut yang keroncongan. Tapi apa yang ditemui, selalu membuat mereka kecewa. Tampaknya nasib baik enggan berpihak kepada penduduk kampung yang tengah menderita kelaparan.

BENCANA GUNUNG KRAKATAU

Minggu malam tanggal 26 Agustus 1883, seluruh Kabupaten Serang tampak sunyi. Kelihatannya, sejak tadi penduduk telah naik ke peraduan, menikmati mimpi indah yang membuai mereka menjadi lupa diri. Hembusan angin malam terasa dingin sekali menerpa kulit, membuat penduduk tertidur semakin lelap. Dan di sana-sini terdengar suara dengkur bersahut-sahutan bagaikan nyanyian malam yang mengusik kesepian.

Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Sebab, kalau kita perhatikan benar. Ternyata tidak semua penduduk dapat menikmati tidurnya. Seperti di tempat kediaman Bupati Serang, cahay lampu lentera masih tampak menyala berkedip-kedip tertiup angin. Sementara dibalik keremangan malam, beberapa petugas penjaga malam terlihat hilir-mudik menjalankan tugasnya.

Sementara itu di tempat lain, nun jauh disana dibalik hutan belantara Keresidenan Banten. Entah kenapa, malam itu susasananya agak lain dari biasanya. Tampaknya ada semacam hawa aneh yang menyelimuti seluruh rimba raya. Padahal, pada malam-malam sebelumnya, semua penghuni hutan sudah tertidur nyenyak tanpa bersuara begitu sang surya menghilang di ufuk barat. Kecuali binatang malam yang tetap berkeliaran mengintai mangsanya.

Namun pada malam itu, tak satu pun hewan yang berdiam di hutan rimba dapat memicingkan matanya. Seperti ada sesuatu yang mengusik ketenangan mereka, binatang-binatang itu kelihatan selalu gelisah tak bisa diam. Naluri hewan memang luar biasa tajamnya, mereka biasanya lebih tahu tentang sesuatu yang akan terjadi di sekitarnya, yang ada hubungannya dengan alam semesta. Itulah salah satu kelebihan hewan dari makhluk lainnya. Sepertinya yang terjadi pada malam itu, tampaknya ada sesuatu yang tak dapat terlihat oleh mata menarik perhatian mereka. Yang membuat hewan-hewan itu tak dapat tidur sekejap pun, suatu isyarat yang hanya bisa dipahami oleh penghuni rimba.

Manusia tidak mungkin bisa menyelami artinya, tentang apa yang akan terjadi di Jagat Raya ini. itu sudah menjadi rahasia alam yang penuh dengan segala misteri. Tapi yang pasti, kalu ditilik dari tingkah laku binatang pada malam itu. Pertanda, ada satu peristiwa besar yang akan terjadi di atas bumi ini.

Tanpa terasa jarum jam berdendenting meninggalkan waktu yang berlalu menyertai perputaran jaman. Suasana malam pun larut ditelan fajar yang menyingsing di ufuk timur. Senin pagi tanggal 27 Agustus 1883, awan gelap menutupi Kabupaten Serang. Cuaca hari itu yang tidak seperti biasanya, tentu saja mengundang kebenaran dan tanda tanya di hati penduduk. malahan ada sebagian penduduk yang berhati lega bersuka cita ketika menyaksikan awan gelap menyelimuti Kota Serang. betapa tidak, seperti diketahui ketika itu kabupaten Serang tengah dilanda musim kemarau yang menggiriskan. hampir dua tahun penduduk diliputi rasa cemas, menantikan hujan yang tak kunjung tiba.

Biasanya, sepagi ini udara terang benderang dan panasnya terasa menyengat tubuh. Itulah sebabnya, begitu mendung muncul di atas langit, penduduk bukan main senang hatinya.

“Nampaknya hari sebentar lagi akan turun hujan, mudah-mudahan pertanda baik ini, akan menghapus segala penderitaan kita”. Kata seorang penduduk kepada temannya dengan penuh kegembiraan.

“Syukurlah, akhirnya doa kita dikabulkan Tuhan juga”. Jawab yang lainnya menimpali.

“Betapa senangnya kita hari ini, sumur di rumah yang telah lama kering pasti akan luber dan pohon-pohon segera menghijau kembali seperti sediakala”. Ujar temannya yang tadi, membayangkan sesuatu yang indah.

“Coba lihat itu, awan begitu tebalnya, tentunya hujan akan turun lebat sekali”. Ucap penduduk yang satunya, sejak tadi sepasang matanya memperhatikan ke atas.

“Hari ini kita semua akan mandi sepuas-puasnya. Biar tubuhn ini tidak sial lagi”. Ujar seorang yang ikut nimbrung berkumpul dengan yang lainnya.

Pagi itu hampir semua penduduk bersuka hati. benak mereka dipenuhi bayangan masa depan yang cerah. Semangat yang hampir padam, kembali bangkit penuh gairah.

Tetapi ada yang terjadi, ketika awan yang menggantung di atas langit itu diperhatikan benar-benar oleh penduduk. Tiba-tiba saja timbul perasaan ragu bercampur khawatir. Kenapa begitu, rupanya bayangan gelap yang terlihat menutupi cakrawala itu. Ternyata bukanlah kumpulan awan hitam pertanda akan turun hujan. Melainkan gelap menyerupai mendung. bahkan, tak berpa lama kemudian debu-debu tipis turun dari atas mengotori pakaian penduduk . Tentu saja penduduk menjadi panik dibuatnya. Saat itu juga mereka bubar berserabutan dan berlarian ke rumah masing-masing disertai rasa bingung dan cemas.

Sementara langit menjadi semakin pekat, cuaca tampak remang-remang serta hujan debu turun bertambah tebal. Lalu terdengar suara menggelegar beberapa kali, nyali penduduk semakin ciut. Maka terjadilah kegaduhan di mana-mana, penduduk menjadi ketakutan dan tak tahu apa yang mesti diperbuat untuk menyelamatkan diri. Menurut anggapan penduduk, hari itu kiamat telah tiba saatnya.

Ditempat kediaman Wedana Kramatwatu, pagi itu jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30. Wedana Djajawinata pagi itu berniat pergi ke Serang untuk menghadiri rapat di pendopo kabupaten. Di halaman samping, kusir Wedana tengah menyiapkan sado yang akan  mengantar majikannya. sejak subuh tadi udara kelihatan mendung. Sambil bersiul-siul kecil, dilapnya sado sampai bersih benar. Namun tatkala matanya melirik ke tempat duduk sado dibagian depan, kusir itu menjadi terheran-heran dan tak habis pikir.

“Aneh, rasanya baru saja diberaihkan, kenapa kotor lagi. Ah mungkin tadi lupa menyekanya”. Katanya bertanya dalam hati.

Lalu disekanya kembali tempat duduk sado itu dengan kain lap beberapa kali. Tapi tetap saja selesai dikerjakan, tempat duduk itu tampak kotor lagi. Melihat kejadian yang rasanya aneh itu, kusir sado berdiri terbengong-bengong, raut mukanya kelihatan seperti orang bodoh.

Tanpa terasa tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dari balik topi lebar yang dikenakannya. Sepasang mata terbelalak, lengannya kemudian menyentuh tempat duduk sado, lalu diusapnya beberapa kali.

“Debu?”

Ujarnya setengah tak percaya sambil melepas topi lebarnya. Ia kemudian mengalihkan perhatian ketempat sekitarnya seperti mencari sesuatu.

“Astaga, debu dari mana?”. Tanyanya, kusir sado itu menyaksikan di sekeliling halaman kewedanaan banyak sekali debu bertebaran.

“Ada apa?”. Tegur juru tulis wedana yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya yang aneh dari bali jendela kantor kewedanaan.

“Anu Pak, hujan de….debu”. jawabnya agak gugup.
“Apa hujan debu dari mana?”.

Setengah tak percaya juru tulis berlari keluar, untuk membuktikan ucapan kusir sado tadi.

Apa yang ditemui di halaman kewedanaan ternyata memang benar. Saat itu, hujan debu turun agak deras. Disusul kemudian dengan suara dentuman keras sebanyak dua kali yang mengejutkan penduduk Kramatwatu. Cuaca berubah menjadi semakin gelap, sejauh mata memandang yang terlihat hanya samar-samar. Ketika itu waktu menunjukkan sekitar jam 07.15 pagi.

Juru tulis kemudian berlari kedalam melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan di luar kepada atasannya wedana Djajawinata. Berita itu diterima Wedana Djajawinata dengan biasa saja, hanya sikapnya yang tampak agak kurang tenang. Rupanya Wedana Djajawinata telah mengetahui apa yang terjadi di luar. Namun untuk menjaga agar tidak terjadi kepanikan, ia berbuat seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

“Sudahlah, jangan bersikap bodoh yang mengundang kepanikan. Semuanya masih serba membingungkan. Siapkan, berkas-berkas yang akan dibawa ke Serang”. Perintah Wedana kepada juru tulis.

“Tapi Pak, dalam cuaca gelap begini, Bapak jadu juga pergi ke Serang?” Tanya juru tulis setengah tak percaya.

“Kenapa tidak, sekalian untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi”. Kata Wedana Djajawinata meyakinkan bawahannya.

Cuaca di luar kelihatan semakin pekat, pohon-pohon di sekitarnya hanya terlihat bayangannya saja. Tapi wedana Djajawinata memaksakan diri juga pergi ke Serang. Kusir sado kemudian menyalakan lentera untuk penerangan selama dalam perjalanan. lampu-lampu di kewedanaan dan di rumah penduduk pun tampak masih menyala. Tak lama setelah kepergiaan Wedana Djajawinata,

Kewedanaan Kramatwatu dipenuhi oleh ratusan pengungsi yang berdatangan dari segala penjuru. Keadaan para pengungsi itu sangat menyedihkan sekali, raut muka mereka menunjukkan rasa takut yang luar biasa.

“Apa yang telah terjadi?” Tegur juru tulis kewedanaan dengan perasaan bingung dan ingin tahu.

“Gunung Krakatau meletus Pak, semua desa di tepi pantai kabarnya musnah dilanda air laut.” Ujar salah seorang pengungsi dengan nafas terengah-engah.

“Apa?, gunung meletus!”.

“Benar Pak, penduduk yang tinggal di pesisir pantai, semua mengungsi ke tempat yang aman”.

Juru tulis kewedanaan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah asal Gunung Krakatau berdiri. Namun sejauh mata memandang yang terlihat hanya kegelapan yang menyerupai malam.

Hujan debu yang turun dari sejak tadi, seakan menyelimuti daerah sekitarnya. Sebenarnya apa yang diceritakan pengungsi itu memang benar. Saat itu, telah terjadi ledakan Gunung Krakatau yang amat dahsyat, yang memporak porandakan desa-desa di sekitarnya. Segala benda yang diterjangnya dengan kekuatan yang sangat fantastis sekali. Bahkan, getaran letusannya sampai ke Benua Amerika. Rakyat yang tinggal di Selat Sunda, sebagian besar tidak sempat menyelamatkan diri, musnah ditelan kebuasan air laut yang bergemuruh menggulung apa saja yang ada di dekatnya. Peristiwa itu berlangsung amat cepatnya, hanya dalam waktu beberapa menit, puluhan ribu jiwa manusia menemui ajalnya dengan amat tragis sekali. Mereka seakan menjadi tumbal kemurkaan Gunung Krakatau.

Di balik suasana yang mencekam itu, sayup sayup terdengar suara jerit dan tangis yang memilukan sekali. Tapi percuma saja, tak satu pun manusia mampu menolongnya. Kian lama suara jeritan dan tangisan mereka terdengar semakin lemah, akhirnya menghilang di antara gemuruhnya air laut yang datang bergulung-gulung seperti tiada hentinya.

Sementara nasib hewan pun tak jauh berbeda dengan kemalangan manusia. Burung-burung berterbangan berusaha menyelamatkan diri dari amukan bencana. Tetapi akhirnya berjatuhan ke tanah tertimpa pasir panas yang membakar sekujur tubuhnya. Binatang hutan berlarian sejadi-jadinya mencari daerah yang aman, namun sebagian dari binatang-binatang itu kedapatan mati terkapar tertimpa lontaran batu sebesar kepala manusia.

bersambung ke Bab II…………

Download : A Bloody Tragedy in Banten 1888

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Maret 12, 2010, in Goresan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: