Film Pendidikan Ditinjau Dari Perspektif Kajian Ilmu Komunikasi


Film Pendidikan Ditinjau Dari Perspektif Kajian Ilmu Komunikasi

seberapa seringkah anda pergi menonton film ke bioskop?
sudahkah anda dapat membedakan jenis film?
menurut anda apakah kualitas dan mutu film di Indonesia sudah cukup mendidik para penontonnya?

Latar Belakang Permasalahan

Menyadari potensi film sebagai media yang dapat menyampaikan pesan-pesan (media komunikasi) pendidikan secara efektif dan mampu mempengaruhi perilaku seseorang maka dibuatlah produksi film pendidikan. Jika kita mendengar kata “film”, maka adegan, dialog, kejadian, konflik, tokoh, penokohan, dan setting adalah beberapa hal yang terbentuk dalam pikiran kita. Film adalah sebuah alat untuk bercerita, sebuah media untuk berekspresi. Seperti halnya membaca buku dan mendengarkan musik, film adalah karya seni yang dapat memberikan sebuah pengalaman bagi yang menikmatinya.

Film adalah sebuah sistem yang memiliki elemen-elemen yang saling tergantung satu sama lain, oleh karena itu dalam penyajiannya film harus memiliki unity atau kesatuan yang utuh sehingga informasi yang akan disampaikan melalui adegan, konflik, dan penokohan yang ditampilkan dapat tersampaikan dengan jelas bagi penikmat film.

Secara konseptual ilmu komunikasi, Film pendidikan merupakan suatu tayangan yang bertujuan untuk merubah perilaku seseorang baik itu kognitif, afektif, maupun psikomotor, dan tidak bersifat profit oriented. Film pendidikan merupakan suatu kemasan cerita yang memiliki tujuan yang jelas untuk memberikan suatu tontonan berdasarkan realitas kehidupan masyarakat. Film pendidikan merupakan suatu kemasan film yang lebih mementingkan rasa daripada harga yang salah satunya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berbeda dengan jenis film lainnya, film pendidikan memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh jenis film lainnya. Karakteristik tersebut sebagia berikut:

Yang pertama mampu menyajikan pesan-pesan yang jelas kepada pemirsa tentang hal-hal yang pantas atau patut ditiru.

Kedua, tidak bertentangan dengan adat istiadat, norma, sopan santun.

Ketiga, mampu membentuk karakter masyarakat.

Keempat, mempunyai tujuan yang jelas.

Kelima, mengutamakan pengetahuan (transfer pengetahuan).

Keenam, sasarannya tepat sesuai dengan kemasan pesan.

Ketujuh, durasinya terbatas.

Kedelapan, konfliknya relatif datar.

Kesembilan, mengembangkan sikap mental.

Dan yang terakhir yaitu yang kesepuluh, memiliki kedisiplinan.

Mengingat pendidikan merupakan proses belajar seumur hidup (long life education) bagi setiap manusia, oleh karena itu cakupannya pun terdiri dari berbagia usia. Maka dalam format penyajiannya film pendiidkan harus disesuaikan dengan segmenyasi audience. Contohnya untuk anak-anak di rumah dapat disajikan dalam bentuk film kartun atau film berseri yang dilakoni oleh artis-artis cilik. Film kartun merupakan salah satu format film pendidikan yang lebih disukai dari pada film yang bukan kartun, oleh karena itu pengembangan film pendidikan budi pekerti  akan menarik jika menggunakan format jenis film kartun. Jika akan dikembangkan film dalam bentuk yang bukan  kartun, maka bisa dipilih model film seperti Keluarga Cemara atau Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, King, Garuda di Dadaku yang bisa dijadikan contoh bagi audience usia anak-anak.

Begitu pun dalam Skenario film pendidikan sebaiknya tidak bertele-tele, padat dengan pesan-pesan moral, tidak menggunakan kata-kata atau sumpah serapah yang kemungkinan dapat ditiru oleh penonton.Yang paling penting dalam skenario film pendidikan adalah struktur. Struktur adalah hubungan antara bagian dengan keseluruhan. Menurut penulis skenario terkenal, William Goldman: “Sebuah skenario adalah struktur”. Struktur/skenario bagaikan tulang punggung yang mensupport tubuh manusia. Tanpa tulang punggung, badan kita tidak bisa tegap. Tanpa struktur, cerita kita tidak jelas, tidak ada tujuan, tidak bisa berdiri sendiri, dan tidak bisa hidup.

Salah satu kelemahan terbesar dalam film pendidkan di Indonesia adalah cerita/skenario. Selama ini pekerja film kurang mementingkan peran skenario dalam proses pembuatan film. Cerita adalah pondasi, sebuah permulaan dari proses panjang membuat film. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan film pendidikan adalah skenario yang baik.

Dalam penggunaan efek visual, film yang baik bukan ditentukan semata-mata oleh kecanggihan-kecanggihan efek visual dalam film tersebut, namun lebih pada esensi atau makna yang ingin disampaikan dalam film tersebut dengan estetika-estetika yang baik, sederhana, dan semanusiawi mungkin sehingga penonton akan membawa pulang pesan tersebut sebagai sesuatu yang patut dicontoh, terhibur, tanpa membuatnya merasa bosan atau digurui.

Fungsi Film Pendidikan Dalam Kajian Ilmu Komunikasi

Sebagaimana sarana-sarana media komunikasi lainnya fungsi film pendidikan bagi kajian ilmu komunikasi tidak jauh beda, fungsinya adalah sebagai pemberi berita dan komunikasi yang efektif, dengan bentuknya yang variatif. Hanya saja apakah berita, atau komunikasi itu mempunyai aspek-aspek komunikasi, hal inilah yang pantas untuk dikemukakan bagi masyarakat

Etika komunikasi yang interdependensi antar pemilik berita dengan penerima berita atau konsumen televisi dalam kajian ini sangat diharapkan. Hubungan yang saling ketergantungan antara keduanya menciptakan harmonisasi suasana, bukan sebaliknya membuat rugi atau berang si penerima berita karena acara-acara gosip yang dilontarkan.

Berita-berita besar bisa jadi acara-acara spektakuler hasil penemuan dan karya baru seperti acara Guiness Book, hiburan kuis galileo, asah otak kuis siapa berani yang mengingatkan kita tentang pengetahuan komunikasi yang berkaitan dengan transformasi ilmu Seharusnya media televisi menjembatani sarana jarak jauh dalam bentuk tiga dimensi yang memuaskan bagi kebutuhan masyarakat untuk menerima berita-berita besar tanah air dan luar negeri. Motivasi yang membawa peran “Sender” ini membuat pemilik stasiun televisi swasta hati-hati dalam memberitakan kepada umat.

Tidak semata-semata nilai komersial akurasi data, manfa’at dan mudharatnya, biarkan modern dan post modern berlalu namun prinsip-prinsip komunikasi dasar antara sender dan receiver tetap terjaga. Jangan lagi kita disibukkan penampilan wjah luar yang tidak memiliki bentuk untuk menyuguhkan acara yang berguna. Kemajuan sebuah televisi bukan dilihat dari warna-warni pola siarannya, tetapi bagaimana media televisi tersebut bisa menjunjung tinggi budaya dan moral masyarakat.

Potensi Film Pendidikan Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Dalam Kajian Ilmu Komunikasi

Televisi sebagai media massa, memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai media informasi (information), sabagai media pendidikan (education) dan sebagai media hiburan (entertainment). Sesuai dengan fungsinya  televisi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai media pendidikan, karena dalam berbagai hal televisi dapat memberikan rangsangan, membawa serta, memicu, membangkitkan, mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu, memberikan saran-saran, memberikan warna, mengajar, menghibur, memperkuat, menggiatkan, menyampaikan pengaruh dari orang lain, memperkenalkan berbagai identitas (ciri) sesuatu, memberikan contoh, proses internalisasi tingkah laku, berbagai bentuk partisipasi serta penyesuaian diri dan lain-lain (Brown, 1977 : 347). Selain itu media televisi juga merupakan wahana yang kuat sekali pengaruhnya dalam pembentukan pola fikir, sikap dan tingkah laku disamping menambah pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat ( Sri Hardjoko, 1994 : 4 ). Suprapti Widarto (1994 : 7) menambahkan bahwa: siaran televise memiliki daya penetrasi yang sangat kuat terhadap kehidupan manusia sehingga ia mampu merubah sikap, pendapat dan prilaku seseorang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dengan jangkauannya yang begitu luas, siaran televisi memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kepentingan pendidikan.

Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Fahmi Alatas (1994 : 3), dengan kekuatan pandang dengarnya, siaran televisi memiliki potensi penetratif untuk mempengaruhi sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi dan motivasi masyarakat. Dari berbagai pendapat tersebut disimpulkan bahwa, televisi merupakan media yang sangat potensial sebagai sarana pendidikan, khususnya pendidikan budi pekerti. Karena tujuan pendidikan budi pekerti seiring /sejalan dengan tujuan pendidikan pada umumnya. Tujuan pendidikan kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yang dimaksud manusia Indonesia seutuhnya  adalah manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantab dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional).

Disamping itu, media televisi yang memiliki kemampuan menyajikan informasi dalam bentuk visual dan suara, dinilai sangat efektif untuk menyampaikan materi/ pesan-pesan pendidikan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang disampaikan Dwyer (1978:11) bahwa sebagaian besar materi pendidikan/pembelajaran (83%) diserap oleh peserta didik melalui indera penglihatan, 11% nya melalui indera pendengaran dan sisanya 6% melalui indera pengecapan, penciuman dan rabaan. Persoalannya adalah bagaimana mengemas tayangan program-program pendidikan budi pekerti melalui televisi menjadi sebuah tontonan yang menghibur sekaligus berisikan pesan-pesan/informasi yang pantas dan tidak pantas untuk ditiru oleh para pemirsanya. Membuat program yang demikian tentu dibutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak serta ketelitian dan kejelian dalam mengangkat tema-tema aktual yang sedang ngetrend sekaligus menarik, kemudian dikaitkan dengan pesan-pesan pendidikan budi pekerti yang ingin disampaikan.

Kelemahan Film Pendidikan Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Dan Cara Mengatasinya

Menurut Molenda Televisi adalah media yang bersifat searah, padahal dalam proses kegiatan pendidikan komunikasi sebaiknya dilakukan secara timbal balik (dua arah) antara peserta didik dengan sumber belajarnya. Hal ini dapat diatasi apabila dalam memanfaatkan program televisi peserta didik didampingi oleh seorang fasilitator atau seorang guru atau orang tua yang bisa menjadi tempat bertanya dan memberikan pengarahan-pengarahan dalam melakukan diskusi-diskusi tentang hal-hal yang pantas dan tidak pantas ditiru setelah peserta didik menyaksikan tayangan program, dan atau setelah siaran diadakan komunikasi secara aktif melalui telepon. Kelemahan  yang lain biaya yang besar, untuk merancang dan mengembangkan program-program televisi pendidikan termasuk pengadaan pesawat televisinya. Kelemahan lainnya berupa gangguan cuaca yang kadang-kadang mengganggu kualitas tayangan program yang diterima oleh peserta didik. Sehubungan dengan dana (mahalnya program televisi)  Perin (1977 : 7) berpendapat sebaliknya. Pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan sebenarnya tidak mahal karena dalam waktu yang bersamaan program tersebut bisa dimanfaatkan oleh peserta didik dalam jumlah yang sangat besar dan dalam daerah jangkauan yang luas : “they are so available and so inexpensive (where) seeing the number of consumers is large” Mengingat kelebihan ini, dapat disimpulkan bahwa dari segi biaya, sebenarnya pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan budi pekerti tidaklah mahal.

KESIMPULAN

Film pendidikan adalah salah satu film yang memberikan pengalaman audio visual yang sangat baik kepada masyarakat. Dengan adanya film pendidikan masyarakat sekarang juga dapat memperoleh lebih banyak informasi dan mempunyai pengetahuan yang lebih banyak. Film pendidikan merupakan suatu kemasan cerita yang memiliki tujuan yang jelas untuk memberikan suatu tontonan berdasarkan realitas kehidupan masyarakat.

Fenomena yang terjadi di masyarakat  yang selalu menonton tayangan-tayangan mistis, kekerasan, pornografi, dan lain-lain sedikit demi sedikit akan berkurang dengan adanya film pendidikan yang dikemas dengan menarik, komunikatif, dan berkualitas. Faktor yang sangat penting adalah peranan orang tua dalam membimbing serta mewaspadai anak-anaknya ketika menonton televisi, tak ada jalan lain kecuali dengan mengarahkan mereka pada acara yang memang bermafaat untuknya. Kebersihan jiwa mereka harus tetap dipelihara.

Kepada pengelola acara televisi yang sejauh ini masih seperti tutup mata dan tutup telinga harus mempunyai tanggung jawab moral akibat tayangan-tayangannya yang dinilai masyarakat sangat meresahkan. Pihak televisi harus segera menghentikan penayangan acara yang berbau mistik, pornografi, dan kekerasan karena tayangan – tayangan tersebut dinilai tidak mendidik sama sekali, membodohi masyarakat, dan akan membuat warga masyarakat berpikir tidak rasional.

REKOMENDASI

Desiminisai Film Pendidikan di Masyarakat

Formal :

Media cetak: mengadakan kerjasama dengan pihak media cetak dalam hal penyebaran release atau feature tentang kegiatan atau penayangan film pendidikan yang diadakan baik di media elektronik (TV) maupun oleh pihak umum (pelaku film).

Media elektronik: menawarkan kerjasama yang bersifat simbiosis mutualisme yang melibatkan pihak-pihak sponsor mengenai jadwal penayangan film pendidikan hingga kuis interaktif yang melibatkan penonton.

Non formal :

  • Mengadakan festival film pendidikan dalam berbagai tingkat usia, latar belakang, pendidikan, status maupun strata sosial. Acara tersebut diadakan langsung dengan sebisa mungkin mengajak partisipasi masyarakat luas dimanapun acara itu dilaksanakan. Secara teknis acara tersebut dapat berupa pemutaran film yang mengandung pesan pendidikan yang durasinya tidak terlalu lama sehingga penonton tidak merasa bosan, lalu dapat diadakan kuis interaktif mengenai pesan-pesan apa saja yang ada dalam film yang ditayangkan sehingga penonton dapat memahami betul maksud daripada pesan yang ada dalam film tersebut.
  • Mengadakan lomba karya cipta film pendidikan di tingkat pendidikan menengah. Diharapkan ada kontribusi besar dari generasi muda dalam pengembangan dan citra film pendidikan di kalangan generasi muda itu sendiri.
  • Mengadakan seminar mengenai film pendidikan. Segmentasi dalam seminar itu tidak terbatas artinya penonton yang diharapkan adalah umum.
  • Mengadakan pelatihan (workshop) bagaimana cara membuat film pendidikan dimulai dari persiapan awal hingga editing.
  • Mengadakan kampanye/promosi tentang film pendidikan. Secara teknis bisa melalui penawaran ataupun proposal kerjasama yang diharapkan film pendidikan dapat tersebar luas di masyarakat umum baik di kota besar maupun di daerah terpencil.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Maret 13, 2010, in Pembelajaran and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: