Mandalawangi-Pangrango


Senja ini, matahari turun ke dalam jurang-jurangmu aku datang kembali ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu walaupun semua orang berbicara tentang manfaat dan guna aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau diterima aku aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan menyelimuti Mandalawangi kau datang kembali dan berbicara tentang kehampaan semua hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar terimalah dan hadapilah dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima semua ini melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup.

(Soe Hok Gie)

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Mei 3, 2010, in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: