Puisi (Chairil Anwar)


AKU

Kalau sampai waktuku,
Kumau tak seorangkan merayu,
Tidak juga kau,
Tak perlu sedu sedan itu.
Aku ini binatang jalang,
Dari kumpulannya terbuang.
Biar peluru menembus kulitku,
Aku tetap meradang menerjang,
Luka dan bisa kubawa berlari.
Berlari,
Hingga hilang pedih perih,
Dan aku akan lebih tidak perduli,
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu,
Keridlaanmu menerima segala tiba,
Tak kutahu setinggi itu atas debu,
Dan duka maha tuan bertakhta.

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali,
Dengan sepenuh hati,
Aku masih tetap sendiri,
Kutahu kau bukan yang dulu lagi,
Bak kembang sari sudah terbagi,
Jangan tunduk!
Tentang aku dengan berani,
Kalau kau mau kuterima kau kembali,
Untukku sendiri tapi,
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

-Chairil Anwar-

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Mei 26, 2010, in Puisi and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. semanga…salam kenal…

    di tungu kunjungan baliknya…

    terima kasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: