The Abyss (Lubang Neraka)


Dan kamu bertanya bagaimana rasanya?
Rasanya seperti jatuh ke dalam sebuah jurang yang gelap dan sangat dalam.
Kamu meluncur turun, dan turun.
Makin cepat, makin cepat.
Perutmu mulai terasa berputar-putar, dan kamu mulai sulit bernapas. Sesak. Sesak.
Di sana dingin sekali. Kamu bisa merasakan angin yang meniup bulu kudukmu.
Dingin yang menggeletukkan tulang-tulangmu.
Dan kamu masih meluncur turun, dan turun. Turun, dan turun.

Bagaimana kalau jurang ini punya dasar?
Tentu kamu sudah hancur berkeping-keping. Atau mati.
Menyisakan kepala remuk yang bahkan masih bisa berpikir di dua menit ajalnya,
untuk minum kopi dan merokok sebatang lagi.
Tapi yang pasti, kamu akan terhempas dengan pedih tak terperi. Dan pecah.
Dan kamu mulai mencoba mengingat-ingat potongan-potongan kenangan.
Seperti guntingan-guntingan foto dan video. Kacau. Berantakan.
Semua wajah tampak kabur dalam ingatan.
Dan suara-suara terdengar tak lebih seperti dengungan.
Dan rasa itu datang lagi. Selalu begitu setiap kamu mencoba menggali ingatan.
Nyeri. Ngilu. Getir. Sesak. Sesak.
Ya, kamu sendirian. Ya, kamu lelah.
Memang.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Mei 26, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: