Dia tidak di tempat lain.


Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah ku uji. Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno. Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar Aku memandang. Dia tidak di dataran tinggi, maupun dataran rendah.
Dengan tegas, aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan). Disana cuma ada tempat tinggal (legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah. Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosof.
Dia ada di luar jangkauan Avicenna.
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya. Dia tidak di tempat lain.
Jalaluddin Rumi

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Mei 31, 2010, in Puisi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: