Si Bujang dan Si Perawan


Mei dan Juni tahun ini adalah bulan yang sangat indah, bulan ini banyak sekali orang yang sedang berbahagia dikarekan akan melepas masa lajangnya. Dan undangan pernikahan itu pun disebarkan maka sampailah padaku dan aku wajib datang jika ada waktu dan jarak terjangkau untuk menghadirinya, jika pun tidak kukirimkan do’anya saja. Setelah account facebook ku berminggu-minggu dibiarkan tanpa status, tanpa postingan apapun.

Aku berkeliling melihat-lihat, dan juga sekedar menyapa singkat di account facebook sahabat dan teman-temanku. Aku menemukan postingan catatan (notes) temanku, yang cukup membuat diriku tersenyum getir campur haru ketika membacanya. Ini dia catatan (notes) nya, dan ini 100% TRUE STORY yang juga sepertinya secara tidak langsung sedikit mengusik perasaanku, hmmph, harus buru-buru nih biar bisa meminang sang pujaan hati, klo ga bisa-bisa diambil orang lagi.. hehe😀

Minggu-minggu kemarin dengan tidak sengaja aku membaca tulisan berbentuk undangan dari salah satu temanku, dia adalah wanita terbaik yang saya kenal walaupun tidak kenal secara pribadi, perkenalanku memang sengaja terjalin karena dia adalah adik kelasku di masa kuliah, keramahan, keanggunan dan dapat bergaul dengan siapapun tanpa kecuali, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa mengorbankan kehormatannya sebagai muslimah atau lebih spesifik lagi sebagai akhwat.

Kali ini dia akan melangsungkan walimatul ‘ursy (pernikahan), dan diapun mengundang seluruh teman-teman yang dikenalnya untuk datang pada acara bahagia itu. Undangan itu disampaikan lewat jejaring sosial facebook, dalam bahasa yang lebih cenderung seperti pengumunan itu terpampang jelas di salah satu statusnya bahwa dia akan melangsungkan walimatul ursy (pernikahan) dan bagi teman-teman yang tidak bisa datang dimohon keridlho’an do’anya.

Benar saja undangan itu seperti pengumunan, disamping tempat pelaksanaannya nun jauh di pulau seberang, karena memang dia adalah adik kelasku semasa kuliah di Bandung, sedangkan dia adalah asli orang Sumatra yang tentu saja akan melangsungkan pernikahannya di Sumatra sana, sedangkan saya sendiri berada di Puau Jawa.

Hari ini dengan tidak sengaja juga aku membaca sebuah statusnya di account facebooknya, dia menuliskan “Maaf atas ‘patahnya’ hatimu..”. Dengan mudah status ini diartikan, bahwa ternyata banyaklah “kumbang-kumbang” yang merindukan “bunga” nan harum dan mewangi ini untuk dipersunting menjadi bidadarinya dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, namun sang bunga pun bukan bunga yang pasif begitu saja menantikan sang kumbang untuk menghinggapinya, karena dia tahu akan dirinya, dimana pada satu waktu nanti sang bunga pun akan layu dan aroma wangipun akan hilang berganti begitu saja menjadi aroma bau busuk yang menyengat.

Begitulah perumpanaan antara kumbang dan bunga, kembali kepada pernyataan sang bunga tadi dalam account facebooknya, aku mencoba untuk memberikan comment dengan sedikit bercanda “yang jelas banyak yang merasa terpatahkan hatinya di Bandung, tidak termasuk saya ya! (dikit ha..ha..ha…)”, dan diapun menjawab comment tersebut dengan ”yang di Bandungnya kelamaan sih”.

Dalam analisis pikiranku, membaca comment tersebut, mungkin saja sang bujang yang merindukan sang perawan tersebut tidak mengungkapkan perasaannya kepada sang perawan, padahal sang perawan begitu lama menanti akan kehadiran sang bujang yang dalam pemikirannya akan menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupannya dan dia akan menjadi ksatria yang menjaga dari kejahatan-kejahatan yang mengintainya. Bisa jadi sang bujang belum mengungkapkan perasaan itu karena memang dia harus mempersiapkan segala sesuatunya, seperti perbekalan-perbekalan untuk mengarungi kehidupan ini, atau bahkan dia sedang mencari ilmu-ilmu, bahkan ilmu kanuragan sekalipun agar kelak dia akan menjadi ksatria jantan yang akan selalu menjaga sang perawan, sampai-sampai diapun lupa akan waktu yang terus-menerus menggerogotinya, hingga waktu itupun telah membunuhnya dengan perlahan tapi pasti, padahal sang perawan pun rasanya akan rela menemani sang bujang untuk mendapatkan itu semua. Atau bisa jadi dia begitu memahami kitab suci yang dipelajarinya yang mengatakan bahwa jodoh ada ditangan Tuhan, dan kini diapun menyadari bahwa kebenaran itu memang benar-benar terjadi, sang perawan bukanlah jodohnya, sampai-sampai malam yang begitu indah dipenuhi dengan taburan bintang-bintang dilewatinya dengan deraian air mata, padahal sang perawan ingin senantiasa melewati malam itu hanya berdua saja dengan sang bujang.

Melanjutkan saling balas comment tadi akhirnya temanku tadi menyarankan agar aku untuk segera cepat-cepat mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatiku kepada orang yang dikehendaki agar akupun tidak senasib dengan si bujang tadi. (Februari, 2010)

ya ya ya, yang lalu biarlah berlalu.. semoga esok akan terganti dengan yang lebih baik. amien..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Juni 9, 2010, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: