Romance of Tectona Grandis Part. I


Aku sungguh sungguh berdo’a untuk kebahagiaanmu, Bintang..
Hari ini, kemarin, esok.
Cuma kumpulan lembaran demi lembaran hidup, yang pada akhirnya akan usang.
Aku menatap sebatang pohon kayu itu, ia nampak sendiri, dan seperti nya kesepian.
Kulihat beberapa bagian nya yang mulai melapuk.

Entah apa sebab.
Aku tahu ia pohon yang kuat.
Walau dimakan jerangan waktu, rayap tak mungkin bisa menggerogotinya.
Namun, ia tetaplah sebuah pohon yang tak dapat hidup tanpa sinar matahari.
Ia butuh rumput rumput kecil,
nyanyian kupu-kupu untuk hinggap di dahannya yang rindang,
ia tak ingin sendiri.

Ah, sungguh
menjemukan hidup dalam kesendirian.
Apalah arti uang yang berhamburan, karir yang menanjak, prestasi yang cemerlang,
tanpa ada belahan jiwa, tanpa ada ruang berbagi cerita,
menitipkan genggaman airmata, melukis warna bahagia.

Itulah mengapa Pernikahan menjadi sebuah sunnah-Nya.
Ia ada karena menikah adalah sebuah fitrah kebutuhan manusia.
Tapi pohon itu tak jua kunjung mengakhiri kesendiriannya.

Apa pasal?
Tak cukupkah tawaran demi tawaran untuknya?
Mereka pun berasal dari pohon-pohon berkualitas,
bahkan nyaris sempurna.

Tapi hey, hidup memang sebuah misteri.
Kau takkan pernah tahu akan bertemu siapa esok hari..
Tapi menghadapi hari esok dalam kesendirian kadang menjemukan.
Rutinitas hidup yang itu itu lagi.
Berpapasan dengan lakon yang kembali sama.

Berbeda dengan cerita dalam kelas bernama Pernikahan.
Didalamnya terangkum banyak kisah dua manusia berbeda karakter yang mencoba menjadi satu.
Tak ada komitmen yang paling besar selain ketika ijab kabul itu terucap.
Tak ada lakon indah lainnya seperti ketika bahtera itu berlayar.
Ditemani riak riak didalamnya.

Dalam tatap hening..
Sungguh aku berdo’a untuk seorang peri dan bidadari untukmu..
Yang terbaik yang Allah pilihkan untuk melengkapi kisahmu, menemani dalam suka dan duka..

*setangkup do’a untukmu sahabat..
Semoga Allah mudahkan untuk menggenapi separuh agamamu.
Dan memberatkan bumi-Nya dengan jundullah penegak dien-Nya..
Amiin ya mujibussa’iliin..

(Mbak Nailah Assagaf – seorang sahabat pertama kali ngeblog di Multiply, ketika itu aku baru pertama kali aktif di dunia social blogging tepatnya awal tahun 2007.. Terima Kasih atas inspirasi dan kisah berharganya. Semoga Mbak Nai dan suami, selalu dalam lindungan-Nya, dirahmati oleh-Nya, dan dilimpahkan rizqi oleh-Nya. Amiin)

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Juli 10, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: