Kampung Kita


jalan melingkar yang pernah kita lalui, gedung-gedung sepi yang menyapa tiap pagi, pematang sawah yang tiap sore menjadi tempat bermain, tapakmu tersisa di bumi ini.

pernahkah kalian melihat dzikir subuh hari, saat burung burung masih enggan bangun, kau lantunkan kalam ilahi menyapa mentari yang sebentar lagi kalian jelang.

sahabat, tahun-tahun berlalu dan hari bergulir, entah sampai kapan lagi masih bertebaran bait abu-nawas di angkasa kampung kita.

kampung dimana engkau pernah dewasa, menorehkan tinta di kepala dan merenda masa, sampai dimanakah perjalanan kita?

sahabat…

bayangmu datang dan pergi, telah banyak warna bertaburan di bajumu kini, berilah hari kesempatan berkata agar hatimu kembali menjadi milik manusia.

entahlah sahabat kenapa aku yang tersisa menelusuri kembali setiap jengkal langkah kita, masih tercium udara yang pernah kita rasa, bayangan kalian sungguh masih jelas ada.

fatehah-i aku duhai sahabat agar mampu menyapa kebenaran pagi-siang-senja pun malam, berusaha kembali mengumpulkan apa yang pernah terserak, membangunnya agar menjadi masjid dimana aku khusyu’ dalam sujud, mengirimkan ke angkasa segenap do’a agar tetap terjaga kemanusiaan kita.

Sejuta tanya untuk kalian, sahabatku : “pernahkah kalian menagih janji pada tanah air kampung kelahiran kita ini, bahwa kelak kita akan hidup bahagia, damai, tentram dan sejahtera disini.? bahwa kelak kita mampu membangun dan menjaga setiap jengkal tanahnya.? bahwa kita akan mengabdi dengan semua hal terbaik yang kita miliki untuk kampung kita ini?”

sahabat…

jangan pernah bosan jadi manusia!!!

*sekarang kita semua telah berubah, mempunyai cerita dan peran masing-masing disini. hmm, jadi inget masa lalu gara-gara tadi sore liat temen masa kecil yang dulu pernah jadi “idola” di hati. ah, beginilah hidup menorehkan kisahnya. aku hanya bisa jadi teman dan tetanggamu. haha… cinta dan mimpi.

“Ya, Allah.. JanjiMu lah yang menguatkan kami, hanya padaMu tempat kami mengadu dan meminta pertolongan. Sesungguhnya Engkau lah pemilik dan pembolak-balik hati, oleh karena itu satukanlah hati hati kami dalam naungan cinta kepadaMu agar kami tak lupa bahwa sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Pencinta.”

dedicated & thank’s to : sahabat masa kecilku -YS, SH, AB, ES, MD, ID (RIP), SA, IP, AA, dlsb.-

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 1, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: