Thariqat Syadziliyah


Thariqat Syadziliyah

Thariqat Syadiliyah  didirikan di Maroko oleh Syekh Abul Hasan Al-Syadzili  pada tahun 1258 M. Thariqat ini sekarang bisa di jumpai di Indonesia, Mesir, Kenya, Tanzania, Timur Tengah, Sri Lanka, Amerika Barat dan Amerika Utara.

Beberapa ajaran Syadziliyah antara lain :

  1. Melihat bahwa segala anugerah adalah milik Allah;
  2. Keharusan bersyukur;
  3. Keikhlasan beribadah;
  4. Menjauhkan diri dari segala macam tujuan untuk mendapatkan kedudukan;
  5. Pengakuan terhadap kelemahan dan kekurangan diri.

Abul  Hasan  al-Syadzili  dilahirkan  di  wilayah  Ghumarah,  dekat  Ceuta  yang  sekarang  berada  di utara Maroko  sekitar  tahun  1197  M,  saat  Dinasti  al-Muwahiddun  mencapai  titik  nadirnya.  Pada mulanya Syekh  Syadzili  dikenal sebagai ulama yang mahir berdebat. Namun kerinduannya akan nilai-nilai mistis/ruhani menyebabkan beliau mengembara mencari para syekh sufi sampai akhirnya bertemu dengan Wali Qutub Abdul Salam ibn Masyiyi. Pertemuan mereka mengandung ajaran simbolik yang sangat mendalam.

Dikisahkan:

“Ketika Abu Hasan menemuinya, Syekh Ibn Masyisy bertanya, ―Apakah engkau sudah wudhu? Abul Hasan menjawab, ―Ya, sudah. Tetapi Ibn Masyisy menukas, ―Engkau tak bisa menemui kami dalam keadaan tak suci, kembalilah dan ambil wudhu. Lalu Abu Hasan turun dari gunung dan memperbarui wudhunya,  lalu  mendaki  lagi  menemui  Syekh  Ibn  Masyisy  dan  berharap  kali  ini  diterima  sebagai muridnya. Tetapi Syekh Ibn Masyisy mengatakan, ―Sudah kukatakan engkau harus mensucikan dirimu dengan wudhu. Sekali lagi Abu Hasan turun gunung sambil merenungi penolakan dari Syekh Ibn  Masyisy  itu. Kemudian  beliau  mendapat  pemahaman  dari  ujian  awal  ini,  dan  beliau  mengetahui makna  terdalam  dari  wudhu  ini.  Kemudian  beliau  berlatih  berwudhu  secara  hakiki,  bukan  hanya mengerjakan  tertib  wudhu  lahiriah  tetapi  juga  sekaligus  mengosongkan  dirinya  dari  segala  hal  yang beliau  ketahui,  atau  yang  dianggapnya  tahu,  mengosongkan  diri  dari  semua  hal  yang  pernah dipelajarinya  dari  guru-guru  lainnya;  beliau  juga mengosongkan  seluruh  atribut,  gambaran  dan pendapat/opini  yang  diyakininya,  sampai  beliau  merasakan  kekosongan  dalam  dirinya,  kekosongan yang siap untuk diisi sesuatu. Kini beliau sudah pasrah sepenuhnya kepada gurunya. Beliau mendaki gunung lagi dan kali ini disambut oleh Syekh Ibn Masyisy.”

Atas  perintah  sang  guru,  Imam  Abu  Hasan  Syadzili  membangun  sebuah  zawiyah  (tempat  latihan suluk)  di Tunisia  pada  1228  M,  berbarengan  dengan  datangnya  Abu  Zakariyya, yang kelak  menjadi penguasa Dinasti Hafshiyyah. Tarekat baru yang didiirikan oleh Imam Abu Hasan Syadzili ini sangat sukses  dan  menarik  anggota  dari  segala  lapisan  masyarakat.  Namun  kepopulerannya  menyebabkan banyak ulama lain merasa iri. Di masa tuanya, penguasa Ayyubiyah di Mesir mewakafkan tanah yang luas  kepada  Imam  Abu  Hasan  di  Alexandria.  Karena  terus-menerus  diganggu  oleh  ulama  fiqih  dan ulama  nonsufi,  maka  beliau  kemudian  hijrah  ke  Mesir,  ke  Alexandria.  Di  Mesir,  banyak  petinggi istana  yang  menjadi  murid  dari  Abu  Hasan  Syadzili.  Menjelang  hari  tuanya,  Syekh  Abu  Hasan Syadzili  mengalami  kebutaan.  Meskipun  buta,  beliau  tak  tinggal  diam  ketika  tentara  salib  mencoba merangsek  ke  Alexandria.  Dengan  caranya  sendiri,  beliau  ikut  dalam  pertempuran  di  al-Manshurah, Mesir, dan berhasil menghalau pasukan Salib VII yang dipimpin oleh Santo Louis dari Perancis.

Imam  Abu  Hasan  Syadzili  meninggalkan  warisan  pengetahuan  dan  amalan yang  sangat  berharga. Yang terkenal  di  antaranya  adalah  Hizb  Bahr  (yang diilhamkan  oleh  Allah  kepadanya  saat  beliau menyebrangi laut merah saat hendak menunaikan ibadah haji) atau Hizb al-Anwar. Lebih dari selusin hizib susunan beliau menjadi sangat termasyhur dan diberi syarah (penjelasan) oleh para syekh sufi di seluruh  dunia. Dalam  hubungannya  dengan  fungsi  hizib  sebagai  amalam  untuk mengkonsentrasikan pikiran  pada  Tuhan,  beliau  melengkapinya  dengan  dawa’ir  (jamak  dari  da’irah,  lingkaran), semacam perlambangan geometris, umumnya berbentuk lingkaran atau persefi yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an atau  asma  al-husna  atau  nama-nama  malaikat, yang  kadang-kadang  difungsikan  sebagai  semacam “jimat”.

Ajaran  Tarekat  Syadzili  murni  didasarkan  pada  Qur’an  dan  al-hadits  dengan  penekanan  pada kandungan metafisik dan ruhani dari ajaran Tauhid. Salah satu ciri menonjol dari tarekat Syadizliyyah ini  adalah  beliau  tidak  memisahkan  tarekatnya  dari  kehidupan  keduniawian  secara  ekstrim.  Mereka juga tidak mengenakan baju yang unik untuk menonjolkan dirinya. Syekh Syadzili sendiri tidak selalu mengenakan  baju  kumuh  atau  sederhana,  tetapi  bahkan  terkadang  beliau  mengenakan  pakaian yang indah  dan  mahal.  Anggota  tarekat  Syadziliyyah  diwajibkan  mencari  nafkah  melalui  profesi  yang mereka  bisa,  entah  itu  sebagai  pedagang,  tabib,  pejabat  negara,  dan  sebagainya.Mereka  dilarang melarikan diri dari kehidupan duniawi, atau eskapisme, dan lebih baik mereka menempuh jalan ruhani di  tengah-tengah  kehidupan  bermasyarakat.  Karena  pada  dasarnya  tarekat  Syadiziliyah  ini  lahir  di lingkungan urban, maka ajarannya terutama menarik banyak  kalangan profesional dan cendekiawan, sehingga  menampakkan  warna  tarekat yang  lebih  tenang,  intelektual  dan  penuh  perenungan.  Di kawasan  mesir  dan  Afrika  pada  umumnya,  Abu  Hasan  Syadzili,  dan  juga  dua  penerus  terbesarnya, Syekh  Abu  Abbas  Mursi  dan  Ibn  Athaillah  al-Askandari,  adalah  terkenal  sebagai  pembela  utama ajaran  Tasawuf  pada  umumnya,  dan  ajaran  wahdat  al-wujud  Ibn  Arabi  pada  saat  itu,  terutama  dari serangan dari salah seorang ulama yang juga terkenal pada masa itu, Ibn Taimiyyah.

Sebelum kita lanjutkan menengok pada peran spiritual dari para syekh sufi, kita tengok sebentar peran sosial tarekat yang berkembang pada abad pertengahan ini, sebab setelah akhir periode 1200 dan awal periode  1300,  perkembangan  tasawuf mulai  bergerak  ke  arah  bentuk yang sedikit  berbeda.  lagipula, pada  periode  setelah  1300-an  ini  “perseteruan”  mulai  lebih  sengit  antara  penganut  tasawuf  dengan anti-tasawuf  (terutama  sejak  Ibn  Taimiyyah)  dan  antara  pengikut  tasawuf  dan  kaum  nonmuslim. Lagipula,  pertemuan  Islam  dengan  peradaban  Barat  modern  ikut  memengaruhi  perkembangan pemikiran Islam pada umumnya dan pemikiran tasawuf pada khususnya.

Kini  tampak  bahwa  5  abad  setelah  wafatnya  Rasulullaah  SAW,  ajaran  Tasawuf yang pada  awalnya disebarkan  oleh sufi-sufi  individual,  secara  bertahap  menemukan  bentuk  baru  sebagai  semacam organisasi.  Tarekat-tarekat  generasi  awal  sebagian  mendominasi  sebagian  wilayah  tertentu,  dan sebagian lainnya mendominasi wilayah lainnya. Karena itu beberapa tarekat berperan sangat penting dalam  konteks  lokal  dan  regional.  Namun  meskipun  tarekat-tarekat  telah  mapan,  masih  banyak  sufi individual  yang  tidak  berafiliasi  atau  mendirikan  tarekat,  seperti  misalnya  Ibn  ‘Arabi,  meskipun ajarannya memengaruhi banyak tarekat di seluruh dunia.

Jika kita lihat konteks abad pertengahan ini tampak bahwa sebagian besar umat Muslim pada saat itu menjadi  anggota  tarekat  atau  setidaknya  berafiliasi  dengan  tarekat  atau  syekh  sufi  tertentu,  meski tidak  sedikit  pula yang memusuhinya,  terutama  dari  kalangan  penguasa  dan  ulama  yang  memiliki kepentingan  pribadi (misalnya  kecemburuan  karena  kalah  pamor,  keinginan  dekat  dengan  penguasa, ulama2  su’ yang  menjual  agama,  dan  sebagainya).  Karena  proses  perkembangan  tawawuf  dan pemantapan organisasi tarekat terjadi di masa yang penuh gejolak, mau tak mau pengaruh situasi ikut mewarnai  proses  berdirinya  tarekat  itu.  Boleh  dikatakan  sebagian  besar  mursyid  dan  ikhwan  tarekat pada masa itu adalah generasi awal yang berperan besar dalam mempertahankan peradaban Islam dari kehancuran total. Perang Salib yang berlangsung sampai 200 tahun terjadi bersamaan dengan proses perkembangan  dan  pemantapan  ajaran  tasawuf  pada  umumnya,  dan  tarekat  pada  khususnya.  Perang Salib yang pecah pertama kali pada sekitar tahun 1090-an, mengawali sebuah periode di mana Islam yang pada awalnya terpusat di kawasan Timur Tengah, Mesopotamia dan Persia menjadi tersebar ke belahan  lain  di  dunia.  Perang  Salib  menyebabkan  bertemunya  dua  peradaban  yang  pada  mulanya tidak saling menyapa. Penyebaran ini diperluas setelah pasukan Mongol menyerbu jantung peradaban Islam pada abad pertengahan tersebut.

Pada saat yang sama, para sufi dan mursyid dan ikhwan tarekat ikut terlibat langsung dalam berbagai pertempuran menghadapi tentara salib, entah itu dengan terjun langsung (seperti yang dilakukan oleh Wali  Qutub  Abu  Madyan),  atau  secara  tak  langsung  dengan  memberikan  kontribusi  doa  atau  ijazah (atau  “suwuk)  untuk  memperkuat  mental  pejuang  Islam,  seperti yang  dilakukan  oleh  Imam  Abu Hasan  Syadzili.  Bahkan  para  sufi  dari  tarekat  Qadiriyyah  dan  Naqsyabandiyyah  banyak  yang menempati  kedudukan  tinggi  di  pusat  pemerintahan,  dan  sebagian  besar  syekh  dari  tarekat Naqsyabandi  menjadi  penasihat  spiritual  dari  para  sultan  dalam  mengelola  pemerintahan,  seperti misalnya  Khawajah  Ubadilillah  Ahrar  di  kawasan  Asia  Tengah,  atau yang lebih  belakangan,  Imam Rabbani Syekh Ahmad Sirhindi di India.

Selain  peran  politik  dan  sosial,  peran  ekonomi  para  sufi  dan  tarekat  generasi  awal  sangat  kentara sekali.  Pusat-pusat  zawiyah  dan  knahaqah  sufi  menjadi  semacam  sumber  perekonomian  umat  kelas bawah.  Para  sufi  dari  berbagai  tarekat  semisal  Qadiriyyah,  Mawlawiyyah,  Naqsybandiyah,  dan sebagainya telah berperan sebagai “bufffer” atau penyangga perekonomian umat kelas bawah, melalui mekanisme  sedekah,  zakat,  perdagangan,  dan  pemberdayaan  ekonomi,  kesenian  dan  kesusastraan.

Misalnya, dari segi pemberdayaan ekonomi, syekh-syekh dari Tarekat Syadiziliyyah, Naqsyabandiyya, Qodiriyyah  dan  Ni’matullah  mendorong  anggotanya  untuk  mandiri  secara  ekonomi.  Tarekat Ni’matullah, misalnya, melarang anggotanya untuk menggantungkan nafkahnya dari belas kasih orang lain – mereka  diajak  untuk  bertani.  dan  ajakan  ini  tidak  sekadar  himbauan,  tetapi  mursyidnya  turun tangan  langsung  membantu,  entah  itu  dengan  menyediakan  pinjaman  lunak,  menyewakan  lahan – bahkan  pendiri  tarekat  Ni’matullah  tidak  hanya  memberi  saran,  tetapi  juga  tauladan  dengan  ikut langsung bergulat dengan cangkul dan lumpur di lahan pertanian miliknya.

Di  sisi  lain,  para  sufi  juga  berperan  besar  dalam  mengembangkan  ilmu  pengetahuan  dasar,  seperti filsafat,  seni  arsitektur,  politik  dan  terutama  ilmu  agama.  Cukup  kita  sebut  contoh  Syekh  Ibn  Arabi untuk menunjukkan betapa besar sumbangsihnya pada kajian filsafat-religius di dunia Islam. Bahkan dewasa ini  ajaran  Ibn  Arabi, dan juga  ajaran  para  Syekh  Sufi  pada  umumnya,  menjadi  bahan  kajian yang menarik bagi cabang filsafat yang diberi nama filsafat perennial. Nanti, pada periode yang lebih modern, para periode kolonialisme yang berkecamuk, justru ajaran-ajaran tasawuf-falsafi inilah yang membuka  jalur  untuk  masuknya  ajaran  Islam  ke  jantung  peradaban  Kristen-Barat  di  Eropa  dan Amerika,  sebelum  kemudian  diikuti  oleh  masuknya  gelombang  tarekat  yang  lebih  formal  dan membawa serta ajaran syariat Islam secara lebih komprehensif ke dunia Barat pada awal abad 18 M.

Maka  jelas  bahwa  tesis  bahwa  ajaran  tasawuf  menyebabkan  kemunduran  dan  anti-dunia  adalah pendapat yang keliru. Kekeliruan ini bisa dipahami mengingat orang yang sudah tidak senang dengan ajaran para sufi lebih suka melihat tasawuf dari sisi mistis-nya belaka, terutama pada syekh-syekh sufi kontroversial generasi awal semacam al-Hallaj, Abu Yazid, Ibn Arabi dan yang lainnya. Lagipula para penentang  tasawuf  umumnya  enggan  membaca  sejarah  lengkap  perkembangan  dan  ajaran  tasawuf secara  obyektif,  sehingga  pendapat  mereka  lebih  banyak  dipenuhi  prasangka  buruk  yang  tidak berdasar. Adalah benar bahwa selalu ada penyimpangan dalam tradisi agama apapun. Tetapi, jika ada nabi palsu yang menyesatkan, itu bukan berarti semua nabi adalah palsu. Demikian pula, jika ada sufi palsu dan sesat, itu bukan berarti semua sufi adalah sesat. Sayangnya, sebagian umat Muslim generasi belakangan  lebih  senang  melihat  pada  sufi-sufi  palsu yang menyimpang  dan  menyamaratakan  sufi palsu itu dengan para sufi sejati yang benar-benar mengajarkan ajaran tasawuf berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi.

Wallahu A’lam..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 6, 2010, in Oase and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Alhamdulillah, jadi saya lebih banyak tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: