Rokok adalah Teman


Kenapa rokok? Karena aku begitu akrab dan dikelilingi manusia-manusia penuh asap. Sering ada di bungkus rokok, di iklan rokok “rokok dapat menyebabkan bla..bla..bla..” yang akhirnya cuma jadi hiasan saja. Iklan rokok itu tidak boleh ada adegan merokoknya, terus harus ditayangkan diatas jam 9 malam ke atas, terus tetap si peringatan hiasan itu harus ada. Memang ngaruh yah? Siapa sih yang tak pernah melihat orang merokok? Di jalan, di angkot, di kantor, bahkan di sekolah. Anak kecil juga udah tahu apa itu ROKOK. Belum lagi anak sekarang kan diatas jam 9 malam juga sering nonton TV.

Jika peringatan itu ada manfaatnya kenapa perokok aktif terus-terusan bertambah? Mmmmh.. Pernah ada orang bilang, kita tak bisa bilang ke perokok jika rokok itu penuh racun, rokok itu bisa menyebabkan bla..bla..bla, toh semua itu sang perokok juga tahu, bahkan lebih tahu.

Rokok adalah teman.
Kenapa orang jika lagi stres, lagi banyak pikiran, lagi tegang. Memilih buat merokok?
Karena pengaruh NIKOTIN. Pengaruh si nikotin terhadap syaraf pusat dan perilaku itu bisa meningkatkan kewaspadaan, mengurangi ketegangan mental pada waktu stres, meningkatkan daya ingat jangka pendek, memperpendek waktu reaksi, mengurangi rasa lapar serta meningkatkan perhatian.

Rokok bisa memberi kepuasan fisiologis yang akhirnya berdampak sama kenikmatan psikologis. Terus kenapa rokok itu jadi ancaman? Menurutku, jawabannya karena banyak dari perokok itu menyayangi dirinya sendiri, dan banyak orang yang menyayangi si perokok. Bagaimana seseorang tega menyakiti dirinya sendiri secara perlahan, dan menyakiti orang lain di sekitarnya?

Hampir semua perokok, dalam hati kecil mereka, mau berhenti merokok. Tapi kenapa tidak bisa? Efek dari diberhentikannya rokok secara tiba-tiba bakal menimbulkan gejala putus zat yang berat, yang berakibat meningkatnya kecemasan, penurunan konsentrasi dan peningkatan berat badan. Siapa sih yang mau melepas begitu saja kenikmatan yang dia rasakan? Apalagi jika melihat orang lain merokok. Berhenti merokok setelah sekian lama tak merokok itu painful buat sang perokok. Seringkali, untuk menghibur diri mereka sendiri, perokok sering berjanji, “aku berhenti merokok pas aku nikah”, atau pas bla..bla.. Dan itu membuat mereka lebih tenang.

Berhenti merokok itu tak gampang, tapi bukan hal yang mustahil. Karena rokok adalah teman, dan teman itu sulit buat ditinggalkan. Bagaimana jika cari “teman” lain? Teman yang bukan hanya bisa memberi kenikmatan psikologis, tapi juga tak membahayakan bagi siapapun. Menurutku, kuncinya cuma satu buat berubah, kita harus MAU berubah.
Thank’s for smoking.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 16, 2010, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: