REFLEKSI KERINDUAN


aku selalu menatap langit, ketika malam tiba
berharap apapun yang dirimu segera turun
jika hujan aku mengenang air matamu yang paling tawar
jika dijejali bintang, aku ingat riuh senyummu
jika langit hanya berbulan, aku lekas bertanya
“apa bulan di kotamu, sebulat kerinduanku?”
Aku melihat dedaunan,
kau selalu berkata “pohon halaman rumah telah ditebang”
lalu aku berniat, setiap kelahiran kita yang baru akan ditandai tanaman,
aku menyeringai melihat pesan darimu,
semoga angin menyampaikan seluruh rasa rinduku.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 18, 2010, in Puisi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: