Sajak-sajak Rendra


Pengantar:
Mengenang Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935, dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009), berikut ini kami muat sejumlah karya Almarhum yang berasal dari beberapa kurun kepenyairannya. Rendra, dengan sajak-sajaknya yang kuat mengandung muatan naratif dan dramatik, menempati posisi unik dalam perpuisian Indonesia yang sarat dengan puisi lirik. Dan sebagaimana tampak pada setiap kumpulan sajak yang muncul dari dekade ke dekade sejak pertengahan 1950-an, Rendra telah menjelajahi berbagai ranah tema dan gaya ungkap, namun sekaligus intens dan konsisten menyuarakan daya hidup manusia di tengah kepungan derita dan angkara murka. Selamat membaca.

KOMPAS/DANU KUSWORO Pentas puisi Rendra di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, tahun 2005.

Balada Penyaliban

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:

– Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!

Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.

Tiada jubah terbentang di jalanan

bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.

– Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?

Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.

Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:

– Bapa, selesailah semua!

(dari Balada Orang-orang Tercinta, 1957)

Kupanggil Namamu

Sambil menyeberangi sepi kupanggili namamu, wanitaku. Apakah kau tak mendengarku?

Malam yang berkeluh kesah memeluk jiwaku yang payah yang resah kerna memberontak terhadap rumah memberontak terhadap adat yang latah dan akhirnya tergoda cakrawala.

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu. Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa. Sia-sia. Tak ada yang bisa kujangkau. Sempurnalah kesepianku.

Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi. Dan dua belas ekor serigala muncul dari masa silam merobek-robek hatiku yang celaka.

Berulang kali kupanggil namamu Di manakah engkau, wanitaku? Apakah engkau juga menjadi masa silamku? Kupanggili namamu. Kupanggili namamu.

Kerna engkau rumah di lembah. Dan Tuhan? Tuhan adalah seniman tak terduga yang selalu sebagai sediakala hanya memperdulikan hal-hal yang besar saja.

Seribu jari masa silam menuding kepadaku. Tidak. Aku tak bisa kembali.

Sambil terus memanggili namamu amarah pemberontakanku yang suci bangkit dengan perkasa malam ini dan menghamburkan diri ke cakrawala yang sebagai gadis telanjang membukakan diri padaku Penuh. Dan perawan.

Keheningan sesudah itu sebagai telaga besar yang beku dan aku pun beku di tepinya. Wajahku. Lihatlah, wajahku. Terkaca di keheningan. Berdarah dan luka-luka dicakar masa silamku.

(dari Blues untuk Bonnie, 1971)

Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam

Bismillahir rohmanir rohiim

Allah! Allah! Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku yang menyembul dari selimut. Aku membuka mata dan aku tidak bangkit dari tidurku. Aku masih mengembara di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit dan menggelepar di atas bumi. Bunga-bunga apyun diterbangkan angin jatuh di atas air hanyut di kali, dibawa ke samodra, disantap oleh kawanan hiu yang lalu menggelepar jumpalitan bersama gelombang.

Aku merindukan desaku lima belas kilo dari Rangkasbitung. Aku merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu, bau khusus dari leher wanita desa, suara doa di dalam kabut.

Musna. Musna. Musna. Para turis, motel dan perkebunan masuk desa. Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat, para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan. Dan akhirnya digusur atau ditangkapi disingkirkan dari kehidupan. Rakyat kecil bagaikan tikus. Dan para cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan antihama. Musna. Musna. Musna.

Kini aku di sini. Di Rotterdam. Menjelang subuh. Angin santer. Jendela tidak terbuka, tapi tirainya aku singkapkan. Kaca basah. Musim gugur. Aku mencium bau muntah. Orang Negro histeri ketakutan dikejar teror orang kulit putih di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan. Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan. Dan lantaran ada tambang intan di sana, kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih juga termasuk yang demokrat, memalingkan muka, bergumam seperti orang bego, dan mengulurkan tangan di bawah meja, melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu. Dusta. Dusta. Dusta. Ya, Allah Yang Maharahman! Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban.

Apakah aku akan berenang melawan arus? Langit nampak dari jendela, Ada hujan bulu-bulu angsa. Aku hilang di dalam kegagapan. Ada trem lewat. Trem? Buldoser? Panser? Apakah aku akan menelpon Linde? Atau Adrian? Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat kepada Makoto Oda di Jepang? Sia-sia. Musna. Dusta.

Rotterdam! Rotterdam! Hiruk-pikuk suara pasar di Jakarta. Bau daging yang terbakar. Biksu di Vietnam protes membakar diri. Perang saudara di India yang abadi. Aku termangu. Apakah aku akan menyalakan lampu? Terdengar lonceng berdentang. Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang? Ayahku di Rangkasbitung selalu bertanya: Kapan kamu akan menikah? Apakah kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda? Kapan kamu akan memberiku seorang cucu? Apakah lampu akan kunyalakan? Di Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang. Kenapa aku harus punya anak? Kalau perang dunia ketiga meletus nuklir digunakan, angin bertiup, hujan turun, setiap mega menjadi ancaman. Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini? Rambut rontok. Kulit terkelupas. Ampas bencana tidak berdaya. Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu kembali mengungsi ke dalam rahim ibumu!

Suara apakah itu? Electronic music? Jam berapa sekarang? Apakah sudah terlambat untuk salat subuh? Buku-buku kuliah di atas meja. Tanganku menjamah kaca jendela. Dan dari jauh datang mendekat: wajahku. Apakah yang sedang aku lakukan? Ya Allah Yang Maharahman! Tanganku mengambang di atas air bersama sampah peradaban. Apakah aku harus berenang melawan arus? Astaga! Pertanyaan apa ini!

Apakah aku takut? Ataukah aku menghiba? Apakah aku takut lalu menghiba? Pertanyaan apa ini!

Ya, Allah Yang Maharahman. Aku akan menelpon Linde dan juga Adrian. Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda. Tanganku mengepal di dalam air tercemar sampah peradaban. Tidak perlu aku merasa malu untuk bicara dengan imanku.

Allah Yang Maharahman, imanku adalah pengalamanku.

Bojong Gede 6 Nopember 1990

(dari Orang-orang Rangkasbitung, 1993)

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Agustus 2009

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 24, 2010, in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: