HUJAN, BIARKAN JEMBATAN ITU YANG BICARA


Matahari dengan riangnya membakar kulit-kulit yang sudah masak, aspal yang kuinjak serasa bergolak membuat badan berkuah. Lima tahun lamanya angin  menunggu kabar darimu untuk dihembuskan, kini aku dinyatakan sehat oleh Dokter kejiwaan itu.

Aku mengayuh sepeda tua  menuju sebuah jalan dekat halte peninggalan kompeni, dimana semua tulang dan kulitku dulu menghimpun nyeri beradu dengan bis yang tergesa-gesa mengantar penum-pangnya mudik, kini tinggal luka di kaki kiriku yang mengenangnya. Aku telah amnesia seperti nama sebuah album band kesukaanku.

Suara klakson membuatku tersentak, dengan segera kutepikan sepeda jengki warisan kakek ini lantas kusandarkan badan sepeda pada badan pohon yang cukup tua,

“Fuhh” kuhembuskan nafas panjang.

“Hampir saja, sakit lagi.”

Tanganku yang hitam merogoh-rogoh saku mencari nomor kontak seseorang yang selalu kumimpikan dan kudengungkan meski dalam keadaan sakit.

Dedaunan yang jatuh di pundak juga bangku membuat seorang pria penyapu trotoar tersenyum bersungut-sungut.

“Pak wartel sebelah mana yang dekat-dekat?” Struktur bahasa tertib sangat jauh dari ingatanku.

“Adik berjalan lurus saja sekira 100 meter dari sini.”

“Terima kasih semoga daunnya tambah banyak”.

Aku berjalan diikuti mimik pria itu yang makin sungsang, bodoh juga ucapanku tadi. Di depanku sepotong tangan putih membelai rambut seorang anak yang menangis tertahan-tahan.

“Di rumah saja ya, sayang.”

“wanita selembut kapas!” Ingatan itu datang bertubi-tubi.

Sambil menuntun sepedaku,  cahaya matahari yang menerpa pohon, daun dan ranting membuat bayangan abstrak di pelataran trotoar, menyulut ingatan bahwa aku menyukai seni lukis, serupa Malam Berbintang Van Gogh.

Kutekan angka-angka dengan khusyunya, penjaga wartel memasang sikap mencurigai, memindai dengan jelas pakaian lusuhku. Jarum jam tak mau menunggu,  aku terus menekan angka itu namun tetap saja operator meyakinkan bahwa deret angka ini belum terpasang. Apakah kau telah menghapus jejak-jejak rinduku?

Derak sepeda makin meng- eras namun lajunya kian ragu, di singgung kendaraan bermotor yang melaju bagai arus deras sungai yang segera akan kuseberangi. Pekik  kondektur tak mau kalah oleh  suara pengamen, pedagang dan hatiku yang mulai tak waras lagi. Saat inilah penyesalan amnesiaku tiba, meski kejahatan-kejahatanku pun ikut tersamarkan.   “Ah, aku lupa dialog-dialog film inspiratifku yang biasa kugunakan untuk memperjelas pemahaman-pemahaman, aku lupa lirik-lirik dan nada yang biasa kunyanyikan untuk membuat tersenyum teman-temanku dulu, semoga aku tak lupa scale gitar yang telah kupelajari, juga kegemaran menulis sajak-sajak lugu.”

Tiba-tiba saja terlintas sebuah peristiwa dalam kepala.

“Haha.”

Untuk pertama kalinya  terasa lagi nikmat tersenyum, ya..ya.. aku ingat saat kau menangis terisak mendengar aku bernyanyi semangat mengungkit make up keterlaluanmu, juga presentasimu yang tidak akur dengan makalahnya.”

Tak terasa orang-orang menatapku cemas, biar saja pikirku dan aku teruskan tawaku.

“Pluk”, ada yang menepuk pelan pundakku”

“Bang, sedang apa di sini, kamu sudah sembuh Teman gilaku.”

“Woi No”

“bruk!”

“Hahaha gilanya gak ilang, taro dulu sepedanya baru peluk aku”

“Ah, dasar manusia teori!”

“Hahaha”

“Mau kemana Bang?”

Akhirnya, ada orang yang kukenali. Ia pun menyuruhku ke sebuah warung tepatnya cafe, untuk melepas lelah dan membicarakan apa saja dari sepakbola sampai warna undangan, seperti dulu sewaktu kuliah.

“Hahaha.”

“Kenapa, kok masih ketawa-ketawa.

“Bang, aku pesankan Capuccino dingin ya, itu kan kesukaanmu”

“Oh ya, tentu saja. Terima kasih mengingatkan  aku.”

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mencari pramusaji, Reno Anggara Mukti, namanya tertera pada sebuah name tag plastik, yang kutaksir biaya cetaknya mahal. Aku terus mengawasinya dengan mata yang menajam. Rambut yang rapi, wajahnya terlihat bersih dibanding lima tahun yang lalu, tanpa kumis dan cambang. Aku selidiki bajunya, Kemeja merk Ralph Laurent abu-abu dipadu celana katun hitam dan sepatu coklat gelap, sangat serasi.

Necis amat, stelanmu No.”

“Ini tuntutan Bang, harus rapi katanya biar berkarisma, di depan customer.”

“Bajumu najis amat

“kenapa, kamu malu ber-teman denganku ?”

“Ah, enggak Cuma…”

“Cuma apa?”

“Pantas, kamu gak punya teman wanita, hahaha.”

“Tapi aku yakin, seseorang menungguku di suatu tempat.”

Seorang perempuan, berlesung pipit dengan matanya yang berbinar datang membawa nampan.

“Dua buah capuccino dingin.” sangat ayu ia tersenyum dan ia segera pergi menuju sebuah pintu di lorong.

“Bang, salah satu alasan saya sering kesini, karena pramusajinya cantik-cantik.”

“…. Tapi aku masih memikirkan Raini.”

“kukira kamu gak bakalan sembuh”

“Ah, sialan.”

“Betulkah… Raini teman kuliah dulu?”

Aku tidak menjawab, toh dia sudah tahu pasti jawabannya.

Dering ponsel yang keras tidak membuat ia panik, sebelum panggilan itu diterimanya, temanku ini malah melamun panjang.

“Rumahmu masih dekat Stasiun?”

“Masih”

“Aku pergi dulu, kapan-kapanlah aku mampir ke rumahmu”

“kemana?, ya sudah ati-ati di jalan Bang”

“Lekas terima sebelum customer itu benar-benar marah, Oh Iya satu lagi terima kasih capucinonya.”

Keramik Cafe itu tidak berkilau lagi, karena perlahan matahari telah tertutup awan, namun kehangatannya masih terasa.

Aku menoleh terakhir ke arahnya, syukurlah ia telah berbicara tersenyum-senyum dengan  Ponselnya, ia pun melambaikan tangannya sedikit saja.

Aku menduduki kembali jok sepeda yang busanya tinggal separuh. Ingatan ini datang bergerombol seperti yang sedang terjadi di langit, aku harus pergi ke  jembatan merah itu, tempat pertama aku berjumpa dengan Raini.

“Hujan, benarkah kau akan turun?”

“Turunlah, sudah lama aku tidak kehujanan, dan aku makin bergegas.”

Sudah lima tahun, jembatan itu masih tampak rapi, berdiri dengan tenang namun catnya sudah terlihat kusam. Aku menyeberangkan sepedaku menuju bagian kanan jembatan, seingatku dari sayap kanan jembatan, aku bisa melihat rumahnya yang bercat biru bersebelahan dengan masjid.

Jembatan ini masih mengasyikkan, angin yang segar, deru mobil-mobil yang seolah hidup, juga jalan menuju rumahmu, tapi tidak  biasanya jembatan besi ini sepi, biasanya ada saja orang yang naik, untuk menyeberang atau sekedar mencari angin.

Mataku mengikuti gerak tangan yang meraba-raba tiang jembatan. Kutatap dari sini sampai ujung lorong tulisan-tulisan di jembatan makin banyak dan liar, aku menatap lama ujung lorong lalu rumah bercat biru itu.

Demi Tuhan aku ingat sesuatu, satu hari sebelum kecelakaan itu, ada yang kutuliskan di ujung jembatan.

Langkah-langkahku memburu maju, seakan meraung menginjak besi-besi tua jembatan ini. Apa yang kutulis? hatiku tidak karuan seperti ini.

Sekitar sini aku yakin telah     menulis sesuatu, mungkinkah sudah tehapus? Tapi cat jembatan ini masih seperti dulu. Badanku yang tak lentur lagi kujongkokkan dengan payah lantas kepalaku mencari–cari dengan ragu sudah lewat tiga menit, aku menoleh kebelakang dan ternyata tulisan itu masih ada hampir tak terbaca.

“Aku pelangimu yang bias, merindukanmu hujan sepanjang bulan….”

“Hujan telah ditawan awan”, siapa yang tulis ini?”

“Maaf, Bang!”. Tidak ada yang memanggilku dengan sebutan itu, selain kamu”

Seringai hujan memelankan semua nyanyian sore itu, jembatan terasa berguncang, ada yang mengucur cepat dari mataku.

(sengaja ditulis dan diselesaikan untuk seseorang)

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 30, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: