ODE SUATU PETANG DI BAWAH PEPOHONAN


Ada yang tak mampu dilawan oleh waktu ; cinta. Seperti hujan yang setia menggugurkan dedaunan untuk cacing-cacing tanah, bunga-bunga yang diciumi serangga, juga nyanyian sunyi lelaki malam hari.

Hari ini sepertinya cuaca menangkap aroma dari celah hati yang teriris, langit dengan derasnya menangis mengisi selokan dan pipa-pipa mengelilingi rumah kami yang sederhana. Aku masih menggunakan diksi “kami” ketika orang-orang bertanya, seharusnya kubuang kata itu karena aku sendiri dan ia memilih pergi menemani yang lain. Aku dikutuk lagu-lagu sendu yang dulu sering dinyanyikan.

***

Sebungkus rokok, segelas kopi, sebuah gitar dan harmonika cukuplah sudah dan ia mulai bernyanyi meraung atau meratap mengisi suasana petang, tak risaukan hujan atau silaunya matahari dengan atau tanpa orang yang menemani. Berlalunya orang nampak seperti penonton dan terkadang melemparkan uang koinnya. Setiap hari pada jam yang sama jika tidak sakit atau kuliah, ia selalu bernyanyi lagu-lagu bernuansa Pop Ballad dan apabila rokok, kopi yang dibekalnya telah habis ia pasti pulang, sebuah badai pun tak bisa menahannya.

Di mata dan tulang pipimu kutemui ketenangan

Seperti bisikan rindu tengah malam

Tanpa riasan kau makin wanita, jari kurusmu

Apa kau kekeringan cinta?

Senyum racunmu, gerik pinggulmu

Dan kau berjilbab

Enyahlah kau!

**

Senja ini, hujan keterasingan

Semua darah telah mengenang

Semua luka makin nganga

Aku berteduh di samping menara tua

Menunggui derai hujan seperti kapas

Lalu tersadar hujan ini air mata

Dan petir adalah mata sayumu

Lalu dimana pelangi? Dimana pelangi!

Semoga surga nyata Tuhan

Karena jauh sekali dari sana

***

Pijar mata itu, membuatku tinggal

Seperti jengah Adam menanti Hawa

Langkah terasa perih, membuat mendidih hati

Aku tak seganteng Indra Bekti atau Baim,

Pun tak secerdas finansial Robert Kiyosaki

Tapi aku punya sehanggar kebodohan

Yang membuatmu lena dan terpana

Gunakan aku untuk kebajikanmu

Apa kau cukup cerdas akrabi tololku?

****

kau berhenti tepat, depan sebuah pohon tua

bayangnya menimpamu (kau tersenyum).

mata elangmu menangkap duri-duri berbuah (kau tertawa)

hidungmu mendadak berdansa.

lamunanmu terhenti, “lekas, malam penuh tanya segera tiba”

gugur daunan sepertinya mengasihimu.

jangan menggigil,

jangan mengambil langkah dari pohon tua itu.

*****

lupa jadi damba, aku terlalu paksakan diri

standing party bukan untuk kita yang gemar lesehan

ini onarmu juga yang selalu menggodamu ikut

kita harus berpisah, kau menyentuh hatiku

tapi sudahkah hatimu ku sentuh?

******

kerut halus waktu tersenyum Ibu tua mengingatkanku pada sesuatu

(mulutku serasa tak berlidah, kepala dan mata mendadak berat)

tangan peotnya terbuka ke arahku, kau asing

maaf aku tak bisa salam denganmu, ibu tua terus tersenyum

Ketakutan, hah hah hah…

Kau menjauh, berlari lekas berteduh

Pohon tua. Kau lihat seksama dan kerut yang sama (ini surga)

Pohon itu berkata, selamat mengejar nak

Tentu, ucapku sambil belajar tersenyum

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 30, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: