Ayat Perempuan (1)


Ayat Perempuan (1)
Toto ST Radik

Sesungguhnya saya tak pernah ingin menceritakan kejadian ini. Saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya, semacam kenangan pribadi. Tapi entah mengapa, ketika pada suatu malam saya bertemu tukang cerita itu, saya tak mampu menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya. Padahal sembilan tahun sudah kejadian itu saya simpan dalam-dalam. Mungkin karena sikapnya yang begitu baik dan lembut. Sepanjang malam itu dia benar-benar mendengarkan dengan sepenuh hati, tak pernah menyela, tak berkomentar apa pun. Padahal saya sendiri sering merasa cerita saya ngelantur dan melompat-lompat tidak beraturan.
Dia, tukang cerita itu, hanya sesekali bertanya. Itu pun jika saya terdiam karena kehilangan kata-kata. Sehingga saya pun terus menceritakan kejadian itu hingga jauh malam. Kira-kira tiga bulan kemudian tukang cerita itu mengirimi saya sebuah majalah.
“Saya menulis sebuah cerita berdasarkan ceritamu. Bukalah halaman 25 dan seterusnya.” tulisnya di selembar kertas. Saya pun segera membuka halaman 25 itu dan membacanya.

***
Lelaki itu datang tidak dengan menunggang kuda seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan. Dia datang berjalan kaki, menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Begitu saja. Sore itu, sebagaimana sore-sore sebelumnya, aku duduk di bangku taman, menikmati sesudut pemandangan di kota kecilku yang kian ramai. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum tipis.
“Sabda,” katanya memperkenalkan diri. Aku diam saja. Tangannya terus terulur, begitu pula senyum tipisnya. Seperti tak akan pernah berakhir sebelum aku menyambutnya.
Lelaki itu menggenggam tanganku erat. Mantap dan kukuh. Kulitnya cokelat mengilap. Dia Tersenyum tipis sekali lagi. Dan menunggu. “Mawar,” jawabku ringkas.
“Sabda Mawar. Nama yang indah dan unik.” katanya seraya terus menggenggam. “Maksudmu?”
“Nama anak kita.”
“Anak kita?”
“Ya. Kita akan segera menikah.”
Aku menarik tanganku. Melengos.
Lelaki sinting! batinku. Baru bertemu sudah bicara soal pernikahan. Tapi aku melirik juga dengan hati berdebar. Lelaki itu tersenyum lagi. “Kita ditakdirkan menikah dan melahirkan seorang anak bernama Sabda Mawar karena aku bernama Sabda dan engkau Mawar.”
“Dari mana kamu tahu kita ditakdirkan menikah? Memangnya kamu malaikat atau nabi?”
Lelaki itu lagi-lagi tersenyum.
Kemudian sedikit tergelak. “Pasti kamu menganggapku gila atau konyol.” katanya. “Tidak. Aku tidak konyol, apalagi gila. Mungkin aku agak berlebihan. Aku hanya merasa yakin. Itu saja. Bukankah kita harus yakin pada keyakinan kita? Jika tidak, lantas buat apa kita melakoni hidup di dunia yang sebentar ini. Jadi kamu juga harus yakin.” “Yakin pada apa? Pada keyakinanmu?” Aku mulai sengit.
Tidak suka pada sikapnya yang menekan.
“Tentu saja pada keyakinanmu.” tukasnya cepat.
“Ayo katakan dengan yakin. Aku ingin tahu.”
Aku tak segera menjawab. Aku benar-benar tidak suka kepadanya, cara bicaranya, sikap yakinnya, juga senyum tipisnya yang enggan hilang itu. “Maaf, aku ingin sendiri di sini.”
“Itulah! Berhari-hari kulihat kamu selalu sendiri di sini setiap senja. Dari sikap dudukmu, aku tahu kamu sedang menunggu seseorang atau sesuatu. Dan aku datang memenuhi do’amu.”
Aku semakin tidak suka kepadanya, justru karena kebenaran
kata-katanya. Jadi dia telah mengamatiku berhari-hari, barangkali mengendap-endap di balik rumpun melati atau di balik gerumbul soka? Siapakah sebenarnya lelaki tengik ini? Hmm, mungkin cuma lelaki iseng yang mengira aku perempuan…
“Tak baik berprasangka buruk. Aku menghormatimu.” katanya seolah dapat membaca jalan pikiranku.
“Sekali lagi, aku datang dari jauh memenuhi do’amu. Aku Sabda engkau Mawar. Kita akan menikah dan menimang seorang anak yang kau
idam-idamkan. Sabda Mawar. nama yang indah, bukan?”
“Pergilah. Aku tak suka ocehan gilamu!”
“Kamu mengusirku?”
Aku tak menjawab. Aku telah muak.
“Baiklah.” Lelaki itu bangkit perlahan.
“Tapi sebelum aku pergi, katakan apakah kamu yakin aku harus pergi.” Kutatap lelaki itu dengan keras, pernyataan perseteruanku kepadanya. Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Tapi sesaat kemudian cahaya matanya tampak meredup dan murung, seperti matahari senja yang diringkus gulungan awan kelabu.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 3, 2010, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: