Ayat Perempuan (2)


Ayat Perempuan (2)
Toto ST Radik

“Ya,” kataku ringkas.
Lelaki itu menatapku tak percaya.
Sinar matanya seakan memintaku untuk merubah keputusan itu. Tapi mataku telah membelalak galak.
Lelaki itu kemudian mengangguk lemah dan pergi tanpa sepatah kata pun. Di gerbang taman, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. Aku cepat berpaling. Aku tak ingin melihat sinar matanya lagi karena khawatir aku menjadi luluh karenanya. Aku tidak tahu apakah lelaki itu tersenyum tipis sekali lagi, sebab manakala aku mengarahkan pandang kepadanya lelaki itu sudah tidak ada. Aneh, seketika saja aku merasa kehilangan. Semacam rasa kangen yang menghentak.
Sontak aku berdiri, meninjau ke kejauhan, mengedarkan pandang. Tapi lelaki itu tak tampak lagi. Aku mengejarnya.
Tapi lelaki itu benar-benar tiada, seolah hilang ditelan udara. Berhari-hari aku terus merasa kehilangan. Apakah karena aku merasa iba? Atau sejak mula aku mendustai perasaanku sendiri?
Sabda. Sabda Mawar. Sabda.

Nama itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi.
Setiap senja aku pergi ke taman, duduk di bangku taman yang sama, menunggu Sabda. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi.
Suatu ketika, sekira sepertiga tahun setelah pertemuan itu, aku merasa hamil. Seperti ada makhluk hidup yang bergerak-gerak dalam perutku. Seperti berenang kian kemari.
Perutku pun terasa bergetar-getar dan membesar. Sungguh aneh. Benar-benar ganjil. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kehamilan hanya mungkin jika aku bersebadan?
Padahal aku tak pernah bercinta dengan siapa pun. Aku hanya berbincang dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Sabda, itu pun berakhir dengan rasa muak sebelum akhirnya aku mengusir lelaki sinting itu. Aku memang merasa kehilangan dan merindukan kehadirannya. Tapi kerinduan tak akan pernah dapat menyebabkan kehamilan, bukan?
Aku sungguh-sungguh benci terhadap binatang yang mendiami perutku ini. Tapi usahaku merontokkannya berkali-kali tak pernah berhasil. Binatang itu sungguh liat dan likat. Tak mau luruh. Tak mau lepas. Jahanam! Hidupku jadi tambah sengsara karenanya. Dari hari ke hari orang-orang mengolok-olokku tanpa ampun. Beberapa di antaranya bahkan mencoba memperkosaku.
Benar-benar jahanam! Aku geram dan marah, sekaligus merasa kasihan terhadap para lelaki munafik itu. Mereka mencibir dan menistakan aku sebagai perempuan penuh dosa, tapi juga menginginkan tubuhku. Dan manakala nafsu itu tak kesampaian, mereka mengumpati aku dengan kata-kata kasar: Dasar jobong! Wadon sédéng! Sudah jemblung berlagak suci!
Perutku terus membesar. Binatang di dalam perutku semakin kerap berjumpalitan. Menghisap. Meninju. Menendang. Bahkan mencakar-cakar dengan kejam. Pernah suatu malam kurasakan binatang itu seperti hendak menjebol dinding perutku.
Aku memekik-mekik kesakitan.
Kupukul dia berkali-kali tapi dia malah semakin liar, berputar-putar bagai mata bor hendak melubangi perutku.
Aku pun menyerah, membiarkan dia berbuat sesukanya. Aku raba-raba kepalanya. Aku elus-elus pantatnya.
Dan binatang itu pun diam.
Mendengkur halus. Tiba-tiba aku terkenang Sabda, lelaki aneh itu. Ya, Sabda. Kini aku ingat dia pernah menemuiku kembali pada suatu malam ketika aku sedang tidur-tiduran di bangku taman, memandang luas langit yang benderang oleh purnama.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 3, 2010, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: