Ayat Perempuan (3)


Ayat Perempuan (3)
Toto ST Radik

“Mawar,” bisiknya.
“Sabda?” Aku bangkit mencari arah suara. Sesosok bayangan mengambang di hadapanku.
“Sabda?”
Namun bayangan itu memudar.
Menghilang begitu lekas. Sebelum sempat mengitarkan pandang, tiba-tiba kurasakan tangan kukuh mendekapku dari belakang.
“Mawar,” bisiknya lagi. Nafasnya hangat dan wangi. Jemarinya lembut menyusuri wajahku. Aku pun terpejam.
Mendesah. Seketika melayang. Melesat. Meluncur. Menukik. Memburu. Menderu. “Sabda!” Aku memekik setiba di puncak. Tapi aku hanya mendapati diriku seorang diri di bangku taman yang sepi.
Tidak ada Sabda.
Tidak ada siapa pun.

Semua itu hanya bayanganku sendiri, khayal yang menipu.
Binatang itu lagi-lagi meninju dinding perutku, seakan hendak menyatakan bahwa dia benar-benar ada.
Apakah perempuan yang bercinta dengan bayangan bisa hamil? Aku perawan. Tak ada lelaki pernah menyentuhku.
Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku tak bersuami dan aku bukan pula seorang pezina?
Aku merangkak menuju pohon asam di pojok taman. Ketuban telah pecah. Seluruh tubuhku nyeri.
Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.
Binatang itu pun lahir menerobos rahimku. Alangkah terpananya aku melihat bayi laki-laki dengan wajah tampan bercahaya dan rambut hitam tebal bergelombang. Bibir mungilnya yang merah menyunggingkan senyum tipis sesaat setelah dia menangis dengan keras. Seketika aku pun jatuh cinta seperti ketika pertama kali bertemu Sabda. Ya, senyumnya sungguh senyum Sabda. Bayi itu aku dekap sepenuh perasaan, kucium
bertubi-tubi, dan kuberikan air susu pertama.
“Aduhai, anakku sayang, kuberi nama engkau Sabda Mawar. Nama yang diciptakan bapakmu sebelum engkau tiba, sebelum engkau ada.” bisikku. Keesokan paginya, orang-orang berdatangan. Berdesakkan mengitariku. Mereka bukan hanya menghamburkan serapah, tapi juga melempari kami dengan kerikil, batu, ranting, pecahan botol, telur busuk, bahkan kotoran anjing dan kotoran mereka sendiri. Beberapa di antaranya kukenali sebagai orang yang hendak memperkosaku.
“Hai, jobong! Saya do’akan kamu masuk neraka!”
“Perempuan sundal!”
“Pergi dari sini, pendosa!
Sebatang kayu menderas ke arah kami. Kudekap anakku. Kulindungi wajahnya dengan telapak tanganku.
Batang kayu itu menghantam keningku. Darah menetes!
“Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar!” Sebongkah batu menghajar pelipisku. Darah mengucur!
“Pezina! Matilah kamu!”
Sepotong besi menghajar batang hidungku. Darah menderas!
“Biar mampus perempuan sesat dan anak haram jaddah ini!”
“Najis!”
“Pateni bae! ”
Lagi, sebongkah batu menghajar belakang kepalaku. Aku terhuyung. Darah membanjiri sekujur tubuhku.
“Tuhan, di manakah Engkau?” Aku menjerit. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Anakku terlepas dari dekapanku. Aku mencoba meraihnya, tapi aku telah tersungkur membentur tanah. Aku mencoba merangkak menyelamatkan anakku, tapi berpasang kaki telah menendangnya kian-kemari disertai tawa dan tempik sorak.
“Tuhan, di manakah Engkau?”
Aku hanya bisa menangis dan meratap ketika kulihat mereka mengikat anakku dengan seutas tali rafia merah di ujung galah dan mengaraknya berkeliling sebelum ditancapkan di tengah taman. Kulihat anakku terkulai layu. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. Sepasang tangan kekar menyeretku, melemparkanku ke dalam got seraya menghamburkan seribu serapah dan meludahiku berkali-kali. Aku ingin melolong, menyeru anakku. Tapi lidahku telah kelu. Masih kudengar tempik sorak itu dan seruan-seruan kemahabesaran Tuhan ketika gelap begitu sigap menyergap. Kemudian segala lesap. Senyap.
Aku siuman ketika kurasakan panas matahari begitu menyengat. Aku mencoba merangkak naik ke bibir got.
“Gustiii….” Aku merintih menahan nyeri. Sekujur tubuhku ngilu. Tulang-tulang berderak-derak seperti mau patah. Tapi aku terus merangkak.
“Anakku, anakku!” Aku merangkak dan terus merangkak.
Di kejauhan, kulihat galah itu terpancang menjulang. Hanya galah. Di ujungnya seutas tali rafia merah menari-nari dipermainkan angin. “Sabda Mawar, anakku, di manakah engkau?”
Sejak itu aku mengembara bersama seluruh geram seluruh lebam seluruh pedih seluruh perih mencari dua lelakiku yang hilang. Sembilan tahun sudah.
**end**

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 3, 2010, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: