Information Overload!!


Information Overload

Saya sudah lama mencari cara untuk menjauhkan diri dari godaan internet dan perkembangannya. Kalau tidak ingat waktu adalah uang dan ukuran profesionalitas. Saya sudah lama punya beberapa blog, ikutan online games dan menghabiskan banyak waktu untuk connect dengan ratusan teman lama/baru lainnya di fb dan twitter.

Akhirnya, saya menemukan artikel dari Shelving Harvard Bussiness Review edisi September 2009, judulnya “Death by Information Overload”. Mungkin dengan membaca itu bisa jadi jalan bagi saya untuk memperdalam diri di bidang Manajemen Informasi. Saya kira masalah diri sendiri yang kurang disiplin saja, tapi ternyata banyak juga orang yang sudah mulai frustasi dengan pertukaran informasi yang cepat di sekeliling kita ini.

Apa saja kekurangan dari information overload ini:

  1. Pertama, kita sebagai individual akan mengalami stres karena tidak bisa memproses banyaknya informasi yang kita terima. Semakin banyak kita berusaha connect dengan teman di jejaring social atau sekedar e-mailing, browsing activity saja untuk mengetahui semua informasi terkini/terbaru untuk tetap update keingintahuan kita akan perkembangan informasi, maka semakin besar jejaring informasi yang kita terima. Kalau kita terus berusaha merespon tiap informasi yang kita terima (misalnya e-mail, event, newspage atau sms), kata peneliti, it can demoralize you.

    Soalnya kita mengalami ‘email apnea’: “the unconscious suspension of regular and steady breathing when people tackle their email”.

  2. Kedua, ternyata sering diganggu oleh social networking, email dan sms/telpon terus-terusan bisa menurunkan daya pikir kita (IQ). Saya pikir, kemampuan konsentrasi/fokus kita jika sering diinterupsi sendiri, akan menyebabkan otak kita mengalami kemunduran. Saat kita konsen/fokus dengan sesuatu, otak kita berusaha mencari jalan keluarnya, tetapi proses itu kita interupsi dengan email/berita dengan sering, akhirnya otak mungkin mengalami kesulitan untuk memproses data kembali. Akhirnya kewaspadaan kita kurang dan itu mungkin yang dikatakan mempengaruhi IQ.
  3. Ketiga, keinginan kita untuk terus update informasi yang selalu-tersedia bisa mengurangi keintiman dengan teman dan keluarga. Jika ada teman atau saudara yang lagi nganggur atau ga ada kerjaan, ya mending diajak ngobrol-ngerumpi ringan sambil ngopi kek, tidak sibuk sendiri dengan komputer/laptopnya. Apalagi yang sudah punya

    pacar/istri, kasihan juga pacar/istri harus bersaing dengan

    laptop/komputer/blackberry pacar/suaminya. Mungkin ada cerita jika seorang pacar/istri memasukkan Blackberry pacar/suaminya ke dalam toilet, dan berbagai masalah lainnya karena frustasi merasa ingin diperhatikan. Kasihan (bukan BBnya!)

Untuk membantu kita menyaring informasi, gunakan prinsip Zen-like. Maksudnya, kita harus belajar ‘let go’ semua keinginan untuk mengetahui informasi secara menyeluruh. Kita tidak perlu kan, harus mengetahui setiap detik perkembangan suatu peristiwa? Kita perlu memilih atau memodifikasi perilaku dan sikap kita sehingga tidak terlalu berlebihan menanggapi informasi yang masuk ke kita.

Gunakan GTD Principle ~ Getting Things Done Method, untuk tetap disiplin dengan pekerjaan kita.

Gunakan Inbox Zero ~ Segera beri respons pada e-mail yang masuk seperlunya.

Gunakan lima kalimat ~ Beri respon pada e-mail maksimum lima kalimat saja. Gunakan fasilitas sortir e-mail ~ untuk memilih atau mengelompokkan e-mail kita. Misalnya pakai prioritize Outloook message, atau di Gmail page ada setting optional link yang bisa detach kita dari keranjingan emailing. Dan memang di Gmail, sudah ada fasilitas untuk sortir email langsung tanpa pusing mikir mana spam, postgrad coordinator, teman, atau email penting yang harus segera dibalas.

Inti dari semua itu

ternyata tergantung pola pikir kita juga, dan lumayan lega ternyata sekarang masalah diatas sudah bisa lebih mudah dicari solusinya untuk segera diselesaikan.

So, mulai saat ini, saya perlu mengatur waktu untuk mengecek inbox e-mail, mengurangi aktifitas social networking, merespon pesan singkat dan secara efektif, serta berhenti dari hal-hal yang membawa saya out of my recent focus.

Mencoba lebih efektif dan efisien, saat ini ya sekarang juga, karena otak dan pikiran saya mulai mengalami kritis gangguan jiwa. heuheu, tenang masih belum parah koq masih belum dirawat di UGD/ICU. Semoga cepat sembuh ya..:-P

The short command save my keystrokes but don’t save my brain..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 7, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: