TENTANG ANGKA, HURUF DAN KATA


Kita semua pasti mengetahui angka 0 – 9 dan berbagai kelipatannya (x, +, -,🙂 karena sejak TK dan SD kita diajarkan untuk mengenal dan mengoperasikannya, tapi kita tidak melakukan penilitian yang lebih dalam lagi kecuali klo kita kuliah di jurusan matematika/aljabar itu pun hanya sebatas penelitian skripsi/tugas akhir saja, dan jarang untuk kepentingan perkembangan teknologi yang lebih luas lagi. Manusia telah menemukan komputer dengan segala hal yang berkaitan dengan angka, huruf, kata, bahkan garis, titik, koma dsb nya.
Saya mencoba mempelajari sedikit dan memahami angka melalui bunyinya dengan bahasa indonesia yang terasimilasi dengan bahasa-bahasa asing lainnya :

ANGKA :

Angka 1, tersebut “satu”. Kata “satu” berasal dari kata “Dzaatu” sumber bahasa ‘arab yang telah terjadi perubahan dialetikanya. Kenapa saya langsung artikan dengan kata “Dzaatu” yang berarti Zat Tuhan, dimana angka satu dalam lambang adalah “1” ia menunjukkan lambang huruf “Alif” (I), yang di dalam keilmuan tasawwuf diartikan sebagai lambang zat Tuhan yang Esa.

Angka 2, tersebut “dua”, kata “dua” berasal dari kata “Do’a” yang terambil dari bahasa ‘arab yang berarti “mendatangkan/mendatangi”.

Angka 3, tersebut “tiga” berasal dari kata “taqa” yang terambil dari bahasa ‘arab yang berartii “jagalah”.

Angka 4, tersebut “empat”, kata “empat” berasal dari kata “anfata” yang terambil dari bahasa ‘arab yang berarti “mati atau hilang/tersembunyi”.

Angka 5, tersebut “lima” kata “lima” berasal dari kata “Lama” yang berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan” (Versi Injil saat Yesus di salib, Ia berteriak: eli lama sabaqtani = kenapa Tuhan tinggalkan saya).

Angka 6, tersebut “enam” berasal dari kata “anam” yang terambil dari bahasa ‘arab yang berarti “manusia”.

Angka 7, tersebut “tujuh”, kata “tujuh” berasal dari kata “tawajahu” yang terambil dari bahasa ‘arab yang berarti “berhadap-hadapan/tujuan”.

Angka 8, tersebut “delapan”, kata “delapan” berasal dari kata “Dal fi nun”.  Huruf “dal” nilainya empat (4) artinya “bersembunyi”, “fi” artinya di dalam “Nun” (QS. Nuun : Nuun wal qalamu…) ini rahasia hidup kekal.

Angka 9, tersebut “sembilan”, kata “sembilan berasal dari kata “sengbilang” berasal dari dialek Maluku, yang berarti “tidak boleh dibilang alias sudah rahasia”. dalam perlambangan, angka 9 dapat berubah bentuk menjadi nol atau titik (“0″ atau ” .”). Sehingga mestinya tertulis 1 – 9, itu sama dengan bernilai sepuluh (10). angka “10” telah menjadi lambang kesempurnaan dari 1 – 9 (dari satu kepada titik).  Sehingga bila mau dibaca dari satu (1) sampai sembilan (9) akan mendapat rahasia kesempurnaan wahyu pertama pada Al-Qur’anul Karim.

“Dzat Tuhan – mendatangkan penjagaan (kemudian) – lenyap (ke dalam) – (rahasia) Tuhan – (dan terlahir menjadi) manusia – (melakukan pekerjaan) berhadap-hadapan – (sebagai) tujuan – hidup abadi – (itulah) rahasia/ yang tidak boleh dibilang – (itulah) sebulu (suatu perpaduan) (yoni lingga).”

HURUF :

Setiap huruf mempunyai sebutan, sekaligus memiliki mahruf (kandungan huruf), bahkan mengandung nilainya sekaligus. Dalam bahasa pemrograman pada komputer, setiap huruf harus mempunyai nilai, barulah dapatnya seseorang menyusun suatu program pada komputer. begitu juga pada perhitungan falaq, semuanya diharuskan memiliki angka yang tepat sebagai nilai kombinasi untuk terjadinya koneksitas yang benar dan tepat. Dalam hal agama, Tuhan bukan barang glondongan yang mana sering seseorang menyerahkan permasalahannya secara glondongan kepada Tuhan, dengan pemikirannya bahwa Tuhan maha tahu atas hambanya. Sesungguhnya tidak demikian. kepentingan yang teramat besar, adalah kajian terhadap kitab suci Al-Qur’an yang lambang hurufnya masih siap membuka tabir-tabir agama dan ketuhanan yang selama ini masih belum terungkap.

Contoh : Jika “Nun” bertitik di bawah, maka tidak akan bernama “Kun” yaitu “Jadi” melainkan bernama “Hubb” yaitu “kewanitaan”. Dan jika “Ba” bertitik di atas, maka tidak akan bernama “Kub” yaitu “cawan/gelas” melainkan bernama “Hunaa” yaitu “kesenangan”.

KATA :

Kata-kata kebanyakan di singkat untuk mempermudah pengucapannya.

Contoh : Kata “Beras” kepanjangannya adalah “Birra linaasi” yang berarti baik bagi manusia, karena setelah di masak, maka beras itu menjadi “Nasi”, sementara kata “nasi” itu berasal dari bahasa ‘arab yang berarti “Manusia”.

Contoh lain : Kata “Berhala”. banyak orang menyangka yang disebut “berhala” itu adalah patung-patung dan sebagainya. Asal kata “berhala”, terambil dari kata “Birra” artinya “baik”, sedangkan kata “Haal” berarti keadaan. Maka kata ‘berhala” memberi artian bahwa : (telah) menganggap baik selain Allah, maka pikiran kita itulah yang telah menghidupkan berhala diseluruh kehidupan orang yang berpikir demikian tersebut.

Sekian, semoga tulisan sederhana ini dapat menambah khazanah pemikiran.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 11, 2010, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: