Garis Lurus Tauhid (E.A.N)



Tiga tahun lagi dimanakah engkau dan aku.
Ketika tiba hari-hari yang menggetarkan itu.
Dimanakah kita semua?
Keluargamu dan keluargaku?
Ketika kita keluar rumah berdiri di permukaan bumi.
Di atas ubun-ubun kita terdapat tempayan agung raksasa.

Seluruh jagat raya membentang tepat di atas kepala kita.
Kita bagaikan nyunggi galaksi, galaksi seluruhnya tanpa sisa. Kedua tangan kita merentang, kita membopong alam semesta dengan bobot dan tekanan yang tidak tertanggungkan.
Sebab ia sedang membenahi akhir penyeimbangan.
Titik tengah di antara kedua pijakan kaki kita muncul garis lurus. Cahaya dari inti bumi melalui kelamin kita, aura, prana, qolbun. Fana membelah ruang kosong di antara kedua otak kita.
Menembus ubun-ubun melesat jauh tak terhingga.
Lurus alif memuncak The Alcione pusat segala matahari.
Seluruh kehidupan tergetar dan terguncang.
Segala pertikel mengalami demam sangat tinggi.
Gelombang laut meluap-luap.
Bumi bergoyang-goyang.
Manusia semua kebingungan saling berbenturan oleh tidak menentunya tarikan-tarikan dan tekanan-tekanan.
Gunung-gunung mengaum membakar diri.
Kehidupan dikepung oleh letusan dan ledakan-ledakan.
Dimanakah kau dan aku?
Ketika tiba hari-hari yang menggetarkan itu?
Dimanakah keluargamu dan keluargaku?
Coba lihat apa yang kau lakukan hari ini kepada sesama manusia? Apa yang kau sebar?
Kebencian ataukah cinta?
Curang ataukah jujur?
Menuntut ataukah memberi?
Kedengkian yang sombong ataukah kerendahan hati?
Saat itu garis lurus tauhid ditegakkan kembali.
Dua hari gelap gulita tanpa surya, tanpa cahaya.
Dingin merasuk sampai ke pusat sukma.
Semua manusia sirna kepercayaan dirinya.
Menatap dengan sangat gamblang gambar kebodohannya.
Dan hatinya ambruk dalam penyesalan yang tak terkira-kira.
Dua hari berikutnya semburat bang-bang wetan.
Cahaya temaram fajar yang menggeliatkan harapan.
Kemudian tibalah dua hari berikutnya.
Matahari memancar tanpa berujung di senja.
Matahari terus memancar hingga tak ada malam.
Dua hari yang merupakan ujung dari proses pembersihan.
Satu putaran lima milenium hampir tiba di titik simpulnya.
Lihatlah di seantero negerimu.
Orang-orang sakit buta di tengah cahaya.
Segala keindahan tidak menerbitkan cinta mereka.
Segala kebaikan tidak menggetarkan hati mereka.
Beribu keajaiban tidak membuat mereka menggigil.
Pancaran kemulyaan tidak menyentuh perasaan mereka.
Bahkan kehadiran Tuhan di dalam jiwa mereka tidak melahirkan ketakjuban apa-apa. …

EAN (Emha Ainun Nadjib), 2009.

Note:
Sebuah penggalan puisi yang dibacakan Emha Ainun Nadjib di Gedung Utama Balai Pemuda Surabaya, dalam pagelaran berjudul “Kabinet Laba Untuk Rakyat..” Puisi ini kurang lebih merespon peristiwa pada tahun 2012 yang dalam kalander suku Indian Maya ditahbiskan sebagai akhir sebuah periode..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Januari 7, 2011, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: