Obrolan dengan Tembok


Diharuskan menunggu, di sebuah ruangan.

Diluar hujan, daripada diserang jenuh menunggu sampai orang penting itu datang.
Aku mencoba mengobrol saja dengan tembok di ruangan ini.
“hai, tembok kenapa kau begitu sabar meski kau dikotori, dilubangi disakiti paku oleh pemilik ruangan ini?” tanyaku memulai obrolan. Tembok menjawab; “aku memang harus tetap sabar meski aku dikotori, dilubangi, disakiti paku, karena TUGAS ku memang hanya diam dan tetap menjadi penopang yang kokoh, kuat ruangan ini.”
“Meski aku punya bekas luka di beberapa tempat tubuhku, bukan berarti aku harus berontak marah ketika dilubangi paku, bisa saja aku marah dan meruntuhkan diri tapi aku tak mau kehilangan TUGAS dan FUNGSI ku sebagai tembok.” Tambahnya lagi penuh semangat.

Setiabudhi, Bandung. 15/10/10 menunggu waktu 13:30 menjadi 16:30 di sebuah ruangan, sambil ditemani orkestra hujan.

#percakapan imajiner.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Juli 31, 2011, in Gado-Gado and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: