Tahun ini, Lebaran kita beda..


“Lebaran kapan?”
“Ikut yang mana, selasa tanggal 30 atau rabu tanggal 31?”
Lebarannya versi hisab apa versi hilal nih?”
“Eh sampeyan itu ikut Lebaran versi Muhammadiyah atau Pemerintah, Majelis ‘Ulama Indonesia & Nahdlatul ‘Ulama?”

Itulah beberapa pertanyaan dan pernyataan yang sudah beberapa hari ini menjadi topik bahasan hangat di berbagai tempat baik direct face to face conversation (ngobrol langsung), social media (internet, situs, web, blog), broadcast media (tv-radio), printed media (koran, tabloid, majalah) di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya.

Penetapan jatuhnya 1 Syawal 1432 H atau Lebaran 2011 berbeda-beda. Klaim Ijtihad ORMAS/LSM Muhammadiyah yang menetapkan Lebaran jatuh pada 30 Agustus 2011 sesuai dengan metode hisab yang sudah diumumkan sebulan sebelum puasa dimulai dan sudah melihat wujudul hilal pada 29 Agustus 2011 pukul 10.05, sedangkan Pemerintah melalui sidang itsbat menetapkan Lebaran jatuh pada 31 Agustus 2011 karena tidak melihat adanya ru’yatul hilal yang didukung ORMAS/LSM MUI dan Nahdlatul ‘Ulama melalui rekomendasi-saran-pendapat di sidang itsbat yang kemudian menimbulkan fraksi kekecewaan di berbagai kalangan. Menjadi pertanyaan besar kenapa di kalender masehi, 30 Agustus 2011 sudah jauh-jauh hari ditetapkan sebagai tanggal merah dan itu Lebaran?

Dalam penentuan dan penetapan kalender masehi memang sudah ditetapkan sebuah standar baku yang disepakati semua negara di dunia, sedang untuk kalender hijriah belum ada standar baku yang disepakati bersama oleh dunia, khususnya di negara2 yang penduduknya Islam. Adanya 2 metode baik hisab (perhitungan, merujuk pada ayat al-Qur’an) maupun hilal (pergantian bulan, merujuk pada hadits) dalam menentukan sistem kalender hijriah menghasilkan tanggal yang berbeda-beda tergantung konsensus Ijtihad masing-masing yang kompeten melakukan hal itu. Ya, tidak adanya standar baku yang disepakati bersama negara2 Islam khususnya dan di dunia dan adanya Ijtihad masyarakat lokal golongan tertentu, mungkin menjadi penyebab perbedaan-perbedaan hasil hitungan di kalender hijriah.

Munculnya fraksi kekecewaan di masyarakat

Jika Lebaran hanya menjadi sebuah “ritual” ibadah maka pasti takkan diributkan kapan waktunya. Tapi ketika Lebaran sudah menjadi suatu “pesta” yang menyentuh aspek ekonomi maka mungkin akan mengacaukan sistem yang sudah ditetapkan sebelumnya seperti waktu libur mudik semakin pendek, persiapan gagal karena tidak jadi, dlsb.

Mengapa kita harus kecewa atas keputusan pemerintah? Jika memang harus kecewa, apakah kita sudah memiliki kemampuan untuk Ijtihad menentukan itu semua? Berbagai klaim Ijtihad ORMAS/LSM, pendapat kami lah yang paling benar-tepat waktunya dan menyalahkan yang berbeda. Menurut saya pemerintah hanya fasilitator sebagai penentu “keputusan bersama tak mutlak” atas rakyatnya. Keputusan bersama tak mutlak karena Indonesia bukan negara agama sehingga tidak adanya pemaksaan terhadap kelompok/golongan tertentu dan mencegah konflik bagi yang berbeda pendapat. Jika memang ada kekecewaan atas pemerintah atas penentuan 1 Syawal 1432 H / Lebaran 2011 ini, silahkan boleh-boleh saja bukan.

Bagi saya ber-Islam itu enak. Cukup ikuti Imam/Mursyid/Guru dalam bidang agama yang kita yakini saja dan inilah mengapa dalam setiap hal kita wajib mempunyai Imam/Mursyid/Guru untuk memahami ilmu. — “Tidak masalah dimana kebenaran ada didalam dirimu, Gurumu dapat membantu menemukannya. Jika ia menerapkan hanya satu rangkaian metode kepada setiap orang, ia bukan seorang Guru, apalagi Gurumu.” (Syeikh Ma’ruf al-Kurkhi). Ya, kecuali jika anda punya kapasitas untuk Ijtihad sendiri. Semua agama tak ada yang “selamat” dari bedahan intelektual murni, karena pada dasarnya memang bukan konsumsi intellectual/akal tapi rasa/hati/qalbu. Agama adalah soal yang bisa dipelajari secara intelektual dan eksperiensial sekaligus. Yang pertama bisa jadi bahan perdebatan, yang kedua tidak.

Kalaupun kita ingin mencari bahan perdebatan sih banyak topiknya lho.

1. Jumlah bilangan raka’at sholat tarawih ada yang 11/23/33?
2. Do’a qunut sholat subuh dan do’a qunut setelah 15 hari shalat tarawih, ada yang pake dan gak?
3. Adzan sholat  jum’at ada yang sekali dan dua kali.
4. Tahlilan, ziarah kubur ada yang pake-boleh dan ada yang nuduh itu bid’ah.
5. Pelaksanaan Maulid Nabi, dengan adanya campuran ritual adat/tradisi/budaya masyarakat lokal, dlsb.

Itu semua perbedaan sekarang sudah mulai dilupakan tapi pas giliran beda Lebaran aja dimunculkan banget fraksi perbedaannya. Jangan mau jadi korban bisnis media. Sami’na wa atho’na sama pemerintah aja deh klo gak ngerti pokok masalahnya, baca Qur’an ya ada koq ayatnya. Klo mau sami’na wa atho’na yang mantep banget ya silahkan cari Imam/Mursyid/Guru untuk memahami tentang ilmu agama itu, dan punya Imam/Mursyid/Guru agama itu penting banget lho sama pentingnya seperti punya Guru matematika klo mau bisa berhitung. Islam agama samawi, wahyu Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. tapi apakah akan sampai pada kita tanpa ada ahlul-bayt, shahabat, tabiit-tabiin, ‘alim-‘ulama dari zaman ke zaman sampai sekarang?

Lebaran bukan sekadar penentuan tanggal, dengan ru’yah maupun hisab. Bukan sekadar peristiwa kalender.

Lebaran adalah momen hati, tentang momen yang mengharu-biru. Lebaran adalah tentang mengerjakan sunnah, dan Allah Mencintai mereka yang mengerjakan yang sunnah setelah sempurna dengan yang wajib.

Lebaran bukan sekadar tentang shalat IedFitri yang sunnah. Tapi Lebaran adalah tentang meminta maaf dan memaafkan, dan inilah yang wajib.

Lebaran boleh beda dan kita tetap bersaudara, setidaknya dalam satu hal: “merindukan Ramadhan”.

Lebaran tahun ini, semoga kita lebih sering menggunakan kacamata bening ketimbang kacamata hitam dalam memandang perbedaan pada diri atau pendapat oranglain apalagi yang tidak kita sukai.

Lebaran bukan terminal kemenangan terakhir setelah ditempa puasa sebulan penuh, tapi titik awal keberangkatan perjalanan baru dengan sesuatu yang kembali ke fitrahNya.

“Arih nafsaka minat-tadbir. Famaa qaama bihi ghayruka ‘anka laa taqum bihi li nafsik” — Istirahatkan dirimu dari kerisauan mengatur kebutuhanmu, sebab segala yang telah diuruskan oleh selain engkau, tak usah kau sibuk memikirkannya. (Ibnu Atha’illah – al-Hikam : 4)

Sudahlah ngapain dibahas terus dan bikin pusing? Semua sudah Lebaran ini kan? Tetap jaga persatuan umat Islam, diantara keragaman alirannya. Meski mengemuka pernyataan “perbedaan adalah rahmat, sama Islam agamanya tapi kok lebarannya beda hari sih, rahmatnya mana?”. “Islam itu rahmatan lil ‘alamin bukan rahmatan lil muslimin”(Islam itu rahmat bagi semesta seisinya, bukan cuma buat kaum Muslim), jadi bersama-sama lah untuk hal-hal yang disepakati dan bertoleransilah untuk hal-hal yang tidak disepati. Oh, indahnya perbedaan! Harapan saya pemerintah dalam hal ini Menteri Agama RI dan pihak-pihak yang kompeten dan memiliki kapasitas (ORMAS/LSM/Lembaga lain) di bidang agama maupun science dapat segera duduk bersama menyelesaikan masalah umat yang semakin meruncing ini. Dan segera dicari, ditetapkannya standar baku dalam penentuan kalender hijriah agar ke depan tak terjadi perbedaan dalam penentuan-penetapan perayaan hari besar Islam. Sesungguhnya kebenaran hakiki hanyalah milik Allah, bukan klaim kelompok tertentu atas hasil Ijtihadnya..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 2, 2011, in Goresan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: