Antara Pola Pikir dan Sikap


Di sebuah rumah, Arief tinggal bersama istrinya Aisyah dan Firman, anaknya yang saat ini berumur 10 tahun. Tinggal juga bersama mereka, seorang kakek yang ternyata adalah orang tua Arief. Keluarga ini terlihat bahagia dan harmonis, meski keadaan rumah hanya sederhana saja. Tidak banyak perabotan rumah tangga, apalagi peralatan elektronik-multimedia yang mahal. Di ruangan depan memang ada satu unit komputer.

Alat ini sengaja di beli Arief beberapa tahun yang lalu untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya, dan terkadang dipakai sebagai sarana untuk membantu meningkatkan kreatifitas anaknya. Dan benar, untuk anak seusianya, Firman tergolong anak yang terampil mengoperasikan komputer. Beberapa program ia kuasai, mulai dari program Paint, Multimedia, PhotoShop, sampai MS Office. Dan sudah tentu beberapa Games juga dapat dimainkannya dengan terampil.

Lain halnya dengan orang tua Arief. Sejak komputer itu dibeli, sang kakek nyaris tidak pernah masuk ke ruangan depan. Ia selalu saja menghindar dari ruangan itu. Rupanya keberadaan komputer tersebut, membuat kakek ini menjadi “takut” masuk ke ruangan depan. Bagi kakek, komputer adalah alat canggih dan tidak sembarangan, bisa-bisa malah berbahaya. Sehingga ia memutuskan untuk tidak menyentuh alat itu. Kondisi seperti ini terjadi dalam waktu yang relatif lama, kira-kira satu tahun.

Sikap kakek ini diketahui juga oleh Arief. Bagi Arief sikap kakek ini mesti jangan sampai terjadi. Untuk itu Arief merasa perlu memberikan penjelasan kepada ibunya. Maka pada waktu yang tepat, di saat santai di ruang tengah bersama dengan semua anggota keluarga, Arief mulai memperbincangkan soal komputer. Dari pembicaraan itu kemudian diketahui, rupanya kakek memang sering mendengar pembicaraan bahwa komputer itu adalah alat canggih, harganya mahal, membelinya jauh di kota, kalau salah pencet bisa rusak, kalau rusak biaya perbaikannya pasti juga mahal, dan itu berarti tugas-tugas akan terbengkalai.

Itulah kira-kira yang bisa ditangkap Arief dari perbincangan itu tentang ‘hikayat’ bayangan kakek soal komputer “menakutkan” tersebut. Bahkan, dengan tanpa bermaksud menguping, kakek justru sering mendengarnya sendiri dari pembicaraan Arief dengan beberapa temannya. Mendengar pembicaraan Arief itu seakan menambah kuatnya image atau pandangan kakek tentang komputer. Bagi kakek, hal ini cukuplah sebagai alasan untuk tidak “bermain-main” dengan alat itu. Kalau perlu tidak menyentuhnya, bahkan tidak masuk ke ruangan itu.

Arief segera memahami sikap kakek. Ia mulai menjelaskan bahwa komputer itu memang alat “canggih”, makanya bisa dipakai untuk membantu kelancaran tugas-tugas, misalnya untuk menulis naskah, bahkan bisa dipakai untuk menggambar, mendengarkan musik, memutar film, bermain game, dll. Untuk bisa memanfaatkan komputer, kata Arief, kita memang harus tahu beberapa alatnya dan kegunaan masing-masing.

Begitulah, untuk beberapa saat di ruang tengah, keluarga ini terlibat pembicaraan mengenai beberapa komponen komputer serta posisi dan fungsinya masing-masing, meski komputer itu tetap berada di ruang depan. Sudah tentu penjelasan Arief ini sedikit banyak mengubah pandangan kakek tentang komputer, yang awalnya “menakutkan” kemudian justru menjadi semacam “teman” yang baik. Maka wajar saja jika di kemudian hari Firman terlihat senang dapat bermain game dengan kakeknya di ruang depan itu. Sebaliknya, kakek juga merasa senang dapat mendampingi cucunya bermain, bahkan merasa terhibur di kala hatinya sedang suntuk. Demikian itu, tak lain karena pandangan kakek tentang komputer telah berubah, dan bukan karena komputernya yang berubah.

#catatan..

Kisah keluarga Arief ini merupakan analogi sederhana. Dari sudut pandang filsafat, bisa dibuat beberapa catatan. Pertama, bahwa sikap dan perilaku seseorang itu tidak serta merta dipengaruhi oleh objeknya, tetapi sekali lagi dipengaruhi oleh pola pikir dan pandangannya. Pola pikir ini yang menjadi pokok pembicaraan filsafat sepanjang sejarahnya. Bagi filsafat, menyadari (lebih tepat menginsyafi) pola pikir itu suatu keharusan, agar pemahaman dapat diperoleh.

Kedua, rupanya dalam beberapa hal, pandangan manusia tentang suatu objek atau persoalan sangat ditentukan oleh pandangan lain yang dianggapnya punya otoritas atau lebih otoritatif. Seperti pandangan kakek dalam “kisah” di atas, yang terbentuk karena mendengar pembicaraan Arief. Arief disini sebagai orang yang punya otoritas soal komputer, paling tidak di rumahnya. “Kalau Arief yang bicara, masak masih tidak percaya”, begitu kira-kira pikiran kakek. Pada kenyataannya, pandangan otoritatif itu bisa dari orang yang dianggap menguasai (bidangnya), makanya termasuk dalam hal ini adalah para penguasa. Bisa juga dari pandangan mayoritas yang solid sehingga tidak ada ruang untuk pandangan lain. Pandangan yang terbentuk karena pandangan yang otoritatif, dalam kajian filsafat disebut wacana.

Ketiga, penjelasan Arief yang panjang lebar tentang komputer itu, bagi Firman dan Aisyah istri Arief mungkin terdengar biasa-biasa saja dan dalam beberapa hal justru menguatkan pandangannya, sekaligus membuatnya menjadi teringat kembali atas beberapa istilah komputer yang sudah dilupakan. Namun bagi kakek, penjelasan Arief ini seakan membuka pandangannya menjadi lebih cerah sama sekali. Penjelasan Arief itu pada satu sisi seakan mengurai satu demi satu dari mana bisa terlahir pandangan komputer “menakutkan”. dan pada satu sisi yang lain, seakan perlatan komputer itu satu demi demi satu dipasang untuk membangun komputer baru yang “bersahabat”. Inilah gambaran sederhana dari proses, yang dalam filsafat disebut rekonstruksi, yaitu proses menata satu persatu anasir suatu persoalan, kemudian merajut atau mengayamnya pada pikiran sehingga timbul pemahaman yang utuh.

Keempat, “kisah” di atas juga menunjukkan bahwa kaijan filsafat itu tidak menyentuh objeknya secara langsung. Upaya Arief dalam menurai “komputer menakutkan” tidak menyentuh objek komputer itu sendiri, karena sasaran utamanya memang “komputer menakutkan”, yang tempatnya tidak pada ruangan depan, tetapi ada pada “benak” si kakek. Dan ketika kakek sudah bermain game dengan cucunya, berarti sudah terbangun pandangan “komputer yang menyenangkan” sudah tiada lagi pandangan “komputer menakutkan”. Dengan demikian apakah Arief membeli komputer baru.  Silahkan cari jawabannya sendiri. Computer is Fun.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 24, 2011, in Goresan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: