Banten Darussalam atau Banten Darul Ahkam?


Seandainya umat Islam berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan yang kurang absah, dengan cara-cara yang tidak diridhoi oleh Allah swt, syariah dan etika kemasyarakatan, bukan berarti tugas perjuangannya telah selesai. Justru sesudah kekuasaan digenggamnya, tugas berat lebih menantang. Dengan kata lain, apabila gagal, otomatis menjadi dobel bumerang. Setidaknya ada tiga tugas utama yang harus tetap dilaksanakan oleh kaum muslimin, sebagaimaina firman Allah swt dalam al-Qur’an: “Jikalau mereka sudah mendapatkan ketetapan (kedaulatan) dimuka bumi, mereka tetap harus menunaikan shalat, melaksanakan zakat, dan melakukan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga kepada Allah jualah segala urusan dikembalikan” (QS. al-Hajj : 41).

Maka menurut ayat diatas, tiga tugas tersebut, yakni pertama shalat melambangkan tugas bahwa segala kehidupan ini haruslah dipersembahkan demi bakti, takwa dan tawakal kita kepada Allah Malikul Quddus. Kendati tidak boleh satu aktifitas pun yang lengah dan lepas dari tujuan pengabdian semata, andaikan kita masih mengaku sebagai umat tauhid.

Tugas kedua yang harus diemban oleh kaum muslimin, yaitu para penyelenggara atau para pejabat teras pemerintah daerah harus menunaikan zakat sebab dalam syariat islam zakat itu merupakan lambang kemakmuran. Artinya, tugas pemerintah daerah mengusahakan dan mencipkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Baik seorang khalifah, pemimpin umat, atau kepala daerah yang membawahi rakyat, selayaknya mempunyai visi ekonomi yang jelas, jika tidak memilikinya, maka seyogyanya mundur dari posisi strategis tersebut.

Mengupayakan dan menciptakan kemakmuran bagi rakyat tidaklah mudah. Apalagi yang diurusi mencapai jumlah jutaan manusia, sebab kemakmuran itu harus merata secara proporsional, meliputi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karenya, tentu bukan dalam pengertian sama rata dan sama rasa, melainkan tetap ada strata sosial ekonomi yang mesti terjadi secara alamiah. Tugas pemerintah justru terletak pada ikhtiar dan usaha mendistribusikan kemakmuran itu. Demikian konsep utama dari zakat, dimana kaum aghniya (kaya / the have / rich) harus mendistribusikan kekayaannya pada kaum mustadh’afin (kurang / miskin / the not have / poor).

Adapun pekerjaan ketiga yang harus diemban adalah tugas kemasyarakatan. Dalam ayat tersebut kongkretnya untuk menegakan kebenaran dan keadilan, serta mencegah kemungkaran dan kezaliman. Dalam bahasa dan kasus yang populer, yakni tugas berat yang menantang adalah penegakan supremasi hukum, hak asasi manusia, sistem birokrasi complex bobrok dan budaya korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang sekarang sudah mulai terorganisir dan berjama’ah dari tingkat penguasa paling bawah (RT/RW/Lurah/Kades/Camat) ke tingkat penguasa paling atas (Bupati/Walkot/Gubernur) sampai tuntas ke akar-akarnya. Alangkah indahnya jika yang menjadi imam adalah pemimpin dan makmumnya dapat melaksanakan tiga tugas diatas dengan istiqamah, benar, cepat dan tepat maka harapan dan cita-cita rakyat akan tercapai dengan sendirinya. Dan niscaya Allah akan turun tangan dan membantu, sebagaimana diwujudkan janji-Nya dalam ayat berikut:
“Jika sekiranya penduduk suatu kaum beriman dan bertakwa, niscaya kami akan membukakan pintu (menganugerahkan) berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf : 96).

Seandainya kekuasaan diyakini sebagai suatu karunia dan nikmat dari Allah semata, tatkala kian bertambah nikmat itu, maka seharusnya semakin meningkat pula kesyukurannya, sehingga dapat dikatakan “Banten Darussalam”. Artinya daerah yang penuh keselamatan, kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian, dan diperlakukannya konstitusional syariat islam. Jika sebaliknya, maka berarti telah terjadi kekafiran nikmat sehingga dapat dikatakan, “Banten Darul Ahkam”. Artinya daerah yang penuh penderitaan, cobaan, kenestapaan, siksaan, dan berbagai hukuman.

Wahai pemimpinku, jika kalian ingkar akan nikmat-karunia, amanah-janji, kewajiban-tugas akan harapan, cita-cita dan hanya menyengsarakan rakyat maka ingatlah sesungguhnya azab AlIah swt itu amat sangat pedih di dunia maupun di akhirat!

Sebentar lagi PEMILUKADA, mari kita sama-sama sukseskan perhelatan hajat besar masyarakat Banten ini. Senantiasa selalu berdo’a, berdzikir, dan ijtihad agar kita semua bisa mendapatkan pemimpin yang ber-iman, ber-takwa, amanah, jujur, mampu menegakan keadilian demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Banten seluruhnya. Semoga Allah swt senantiasa memberi petunjuk, hidayah, karunia pada kita semua. Dalam harap yang tak berlebih, aku memohon kepadaMu Allahu ya Aziiz, Allahu ya Malik, Allahu ya Ghaniy, Allahu ya Rahmaan ya Rahiim itu semua menjadi nyata dan segera terwujud di bumi Banten ini khususnya dan Republik Indonesia ini umumnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

11 tahun kita merdeka dari tanah pasundan..

11 tahun kita menginginkan perubahan di tanah ini..

nyatanya perubahan hanya mampir di kata belum..

#Sebuah Kado Ulang Tahun untuk Propinsi Banten 2011

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on September 24, 2011, in Goresan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: