Gue Mau ke Bulan..


“Gue mau ke Bulan.”

“Ke Bulan? Untuk apa?”

“Gue pengen mengasingkan diri.”

“Kenapa Lu pengen mengasingkan diri?”

“Karena gue gag mau lagi ketemu manusia.”

“Kenapa?”

“Karena manusia itu banyak maunya.”

“Banyak maunya? Kayak Lu gitu?”

“Gue gag kayak gitu.”

“Itu buktinya Lu mau ke Bulan terus Lu pengen mengasingkan diri terus Lu gag mau ketemu manusia. Kemauan Lu juga banyak.”

“Gue beda. Gue gag keitung. Gue sedang ngomongin manusia di luar diri gue sendiri.”

“Berarti gue termasuk. Gue juga di luar diri Lu.”

“Ya. Tentu saja. Gue juga sebenarnya males ketemu Lu.”

“Hah? Yang benar saja?”

“Iya. Soalnya Lu banyak nanya. Tapi Ya sudahlah. Kali ini gue jawab semua pertanyaan Lu. Hitung-hitung sebagai tanda perpisahan.”

“Tanda perpisahan? Lu beneran mau pergi ke Bulan?”

“Yoi!”

“Lu mau naik apa kesana? Pesawat ulang-alik? Roket? Apollo? Ah! Gue jadi inget Neil Amstrong.”

“Ah! Itu ribet. Dan melibatkan banyak manusia. Gue gag suka sama manusia.”

“Trus Lu mau naik apa?”

“Gue akan terbang.”

“Terbang?”

“Iya terbang.”

“Tapi Lu bahkan gag punya sayap.”

“Gue gag butuh sayap.”

“Mana bisa. Lu butuh itu untuk terbang.”

“Engga gue gag butuh. Gue bisa terbang  tanpa harus punya sayap.”

“Benarkah? Gue gag percaya!”

“Lu goblok kalau gag percaya. Oke, gue kasih contoh ya. Lu tau Superman? Ultraman”

“Wah! Ngehina banget Lu. Tentu aja gue tau. Mereka itu kan idola gue.”

“Ya…ya…ya…mereka bisa terbang?”

“Bisa.”

“Mereka punya sayap?”

“Engga.”

“Jadi…”

“Jadi…?”

“….”

“Aha! Gue tau sekarang! Tapi gimana bisa? Lu bukan superhero. Lu Cuma manusia biasa.

“Gue bisa.”

“Bohong. Gimana caranya?”

“Gue gag bohong. Gue bisa.”

“Beritahu gue gimana caranya?”

“Engga. Mulut Lu nanti ember.”

“Ayolah! Beritahu gue. Gue gag bakal bilang ke siapa-siapa. Gue berani sumpah deh!

“Oke…Lu sumpah dulu sono.”

“GUE SUMPAH KALO MULUT GUE EMBER GUE BAKAL DISAMBER GLEDEK.”

“Oke..akan gue beritahu.”

“Cepetan. Gue penasaran.”

“Gue punya ramuan istimewa yang bisa bikin gue terbang. Ramuan ini gue buat sendiri.”

“Oh ya? Lu memang hebat! Lu jenius man! Otak lu emang tokcer.”

“Lu benar-benar mau tinggal di Bulan?”

“Iya…”

“Apa Lu gag akan kesepian nanti? Trus makanan Lu gimana? Trus gimana caranya Lu membangun rumah di sana?”

“Itu urusan gampang. Lu gag perlu tahu. Yang penting gue jauh-jauh deh sama manusia yang aneh-aneh itu. Manusia-manusia yang egois. Yang saling bunuh untuk nafsu. Yang ngerasa bener sendiri. Yang saling sikut. Saling pukul. Hah! Gue bisa gila kalau tinggal lebih lama dengan manusia-manusia ini.”

“Lu memang sudah gila.”

“Gue memang gila. Tapi Lu juga gila.”

“Enak saja. Gue waras!”

“Lu gila karena Lu nanggepin kegilaan gue. Kita sama-sama gila.”

Dua orang gila itupun pergi bersama ke ruangan mereka. Berangkulan. Sambil mengoceh sendiri. Di kepala salah satu dari mereka terbayang kehidupan yang tenang di Bulan. Dan di kepala salah satu yang lain terbayang rencana sahabatnya pergi ke Bulan. Merekapun tersenyum dan tertawa sendiri. Lalu….. Dari ruangan mereka sayup-sayup terdengar lagu Fix You nya Coldplay..

-END-

Oleh : Lucia DE.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Oktober 7, 2011, in Puisi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: