Aku : Paranoid ≈ Picik?


Percayakah?
Bahwa orang (manusia) yang merasa dirinya paling dekat dan selalu mencoba meyakinkan bahwa mereka peduli pada apa yang aku lakukan dan pikirkan adalah musuh terlihat (berwujud) yang paling cerdik di dunia melebihi tipu daya setan sebagai musuh yang nyata yang tak berwujud (samar) beroperasi menjerat mangsanya..
Orang pasti akan menggerutu karena ini dan akan berpikir aku seorang paranoid!
Semakin banyak pengetahuan dan pemahaman yang aku ketahui dari ‘proses belajar’. Maka semakin banyak hal yang berputar di otakku kemudian memproses ide dalam bentuk kontroversi kata, beberapa menit kemudian memprovakasi sikap..

Ritme tak biasa dari nada bicara yang kadang terdengar angkuh.
Adakah aku telah kehilangan makna hidup bermasyarakat?
Tata krama dalam etika menyambut tamu?
Adakah aku telah kehilangan ‘kepercayaan’ dan menjadi penganut sejati anti trust yang ‘putus asa?
Aku seolah menjadi penentang hukum ‘pygmalion’ yang paling gencar!

Seberapa banyak pengetahuan dan pemahaman yang kudapat hanya akan membuatku semakin ragu akan kebenarannya, karena aku belum insyaf.
Ya, mungkin aku belum insyaf (meng-insyafi) hikmah yang menjadi pokok semua(nya).

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Oktober 12, 2011, in Puisi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: