Jika suatu saat..


I.  Jika suatu saat nanti kita berjumpa di persimpangan jalan.. Hakmu adalah terus berjalan dan berpura-pura tak pernah mengenalku atau sekedar tersenyum manis meski rasa pahit ketika memandangku yang semakin asing ini.. Semoga aku tetap masih sahabatmu yang dulu dan aku akan tetap begitu adanya..

II.  Hari ini dan seterusnya kutetapkan hati, ku takkan pernah gunakan hakku jika memang itu masih ada, untuk menghindarimu di persimpangan jalan, karena sampai kapanpun bagiku kau takkan pernah jadi orang asing…

Rasanya terlalu cepat menghitung hari dengan jemari karena kenangan suatu perjalanan lebih mahal daripada sekedar pernyataan cinta. Semestinya kita lebih khusyu’ lagi memaknai pertemuan dan perpisahan. Diantaranya kesucian do’a tertanam begitu abadi dala hati..

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Oktober 12, 2011, in Puisi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: