Banten dan (Karakter) Radikalisme


Mendengar kata ‘Banten’, apa yang pertama kali ada dipikiran anda? Ya, asumsi pertama kita melayang pada stigma keangkeran mistis seperti santet, teluh, golok, ilmu pelet, ilmu kebal, dan segala macam bentuk ilmu kebatinan. Pada sisi lain, hal tersebut sekarang semakin diperkuat dengan masuknya para jawara ke dalam pentas politik yang fungsi dan perannya masih belum begitu menghasilkan kebijakan yang begitu menguntungkan rakyat. Pada tataran ini, keseraman Mitos Banten sebagai salah satu propinsi baru, terkesan tidak kondusif untuk investasi modal lokal maupun asing. Ibarat Pensylvania, tempat bermarkas para vampire atau werewolf dengan kastil tua yang selalu mendatangkan cemas bagi para pendatang.

Sangat seram, angker, buas, dan kasar. Fenomena tersebut disadari atau tanpa disadari, juga ikut mengkonstruksi sosio-kultur masyarakat kearah terciptanya budaya radikalisme (kekerasan). Apalagi secara geografis, daerah ini termasuk berdekatan dengan dengan pantai-pantai. dimana dinamika masyarakat pantai yang kasar baik secara linguistik sampai pada tempramental individual, menjadi aset awal bermulanya cikal bakal dari kekerasan personal. Sedangkan pada kekerasan kolektif diawali oleh menjamurnya perguruan-perguruan ilmu ketrampilan bela diri, sekaligus sebagai kawah candradimuka bagi keilmuan batin. Oleh karena semangat e’sprit de corps sangat tinggi dalam membela, mengagungkan pada persaingan simbol dan kelompok tertentu.

Hal ini kemudian melebar sampai pada persaingan yang lebih luas, seperti sektor ekonomi, politik. Tidak hanya pentas nasional, ditingkat lokal sekalipun, ajang pensetiran guna membackup kepentingan suatu golongan, sekaligus menjadi garda terdepan pelindung kepentingan kelompok tertentu, dengan mengandalkan pendekatan represifitas dan physical intervention guna mendapatkan kekuasaan atau tujuan. Maka tak heran bila kemudian kita sering mendengar pergumulan elitis yang juga diwarnai dengan pertikaian secara horizontal. Max Havelar memaparkan bagaimana pribumi lebih radikal ketimbang imprealis VOC, bagaimana para Adipati beserta para Centeng lebih pedas menindas rakyat ketimbang pemerintah kolonial. Dan kemudian, Jawara adalah Sarkasme dari Radikalisme.

Secara Historis, ada yang berpendapat bahwa jawara mulai muncul dan dikenal sejak jaman kesultanan Banten, namun mereka lebih dikenal sebagai tentara atau pasukan Sultan dengan berlandaskan pada pemikiran bahwa karakter dan sifat yang dimiliki oleh pasukan sultan itu sama dengan jawara yang biasa dikenal yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, keahlian dalam bermain silat dan juga terkadang memiliki ilmu-ilmu yang dianggap gaib seperti ilmu kekebalan tubuh, ilmu perdukunan, bahkan kepada hal yang irasional sekalipun seperti ilmu menghilang dan ilmu teluh. Pendapat yang lain mengatakan bahwa jawara mulai muncul sejak mulai dihapuskannya kesultanan Banten oleh Daendels. Kesultanan Banten dihapus oleh Daendels tahun 1812 (Sartono Kartodirdjo, 1988:46).

Pendapat yang  kedua ini berlandaskan pada pemikiran bahwa ketika kesultanan Banten dihapuskan tahun 1812 tersebut, maka perlawanan terhadap kolonial tidak pernah berhenti dan dilanjutkan secara sporadis oleh berbagai kelompok masyarakat pengikut Sultan Banten yang didukung oleh masyarakat. Mereka biasanya dipimpin oleh orang-orang yang memiliki keberanian yang luar biasa dan dianggap memiliki kelebihan baik dalam ilmu keagamaan (Islam) maupun ilmu peperangan yang biasa dimiliki oleh pasukan Sultan seperti halnya ilmu kesaktian dalam berbagai bentuk seperti yang diungkapkan oleh pendapat yang pertama.Para pemimpin kelompok ini biasanya disamping seorang jawara juga merangkap seorang guru mengaji (Kyai) sebagai tumpuan harapan dan tempat berlindungnya masyarakat setelah Sultan. Ulama telah menjadi panutan rakyat sebagai pemimpin kharismatik setelah lenyapnya pemimpin elit Sultan dan elit birokrasi kerajaan (Hasan Muarif Ambary, 1988:8).

Penelusuran terhadap perlawanan berbagai kelompok masyarakat terhadap kaum kolonial setelah kesultanan Banten runtuh ternyata tidak pernah berhenti dan merupakan rangkaian dari ungkapan kekecewaan, ketidakpuasan dan kebencian rakyat Banten terhadap penjajah, yang puncaknya terjadi pada tahun 1888 yang terkenal sebagai peristiwa Geger Cilegon. Serta masih banyak lagi, seperti Pemberontakan Petani Banten. Permusuhan, pemberontakan atau perlawanan kolonial dari pertengahan abad- 19 di daerah Banten sumber utamanya yaitu ketidakpuasan dan pergeseran kedudukan kaum aristokrat Banten yang lama dan menginginkan kembalinya masa keemasan kesultanan Banten. Kemudian kelembagaan hak kepemilikan tanah yang disatu pihak menimbulkan kepemilikan tanah kepada orang yang kaya, sedang di lain pihak menimbulkan segolongan rakyat yang melarat dan tergantung kehidupannya kepada pemilik tanah.

Penyebab lainnya adalah sifat keagamaan orang Banten. Dari peristiwa-peristiwa pemberontakan tersebut di atas, penggunaan simbol-simbol kebesaran Sultan ternyata mampu untuk menarik sekaligus mengajak rakyat Banten untuk menjadi pengikut yang setia dalam melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang dianggap sebagai penyebab penderitaan dan malapetaka bagi masyarakat. Unsur nativisme dalam berbagai pemberotakan tersebut jelas terlihat dengan ditunjukkannya rasa kebencian yang besar terhadap orang-orang asing (Belanda) dan keinginan serta kerinduan akan kembali munculnya kejayaan masa kesultanan Banten.

Konsep perang sabil terlihat dari adanya himbauan oleh para pemimpin keagamaan untuk melakukan perang jihad terhadap orang-orang kafir yang dianggap sebagai orang-orang yang telah menghancurkan nama baik serta ajaran Islam, kedekatan Islam dengan masyarakat Banten tertulis dengan tinta emas sebagai bagian sejarah kejayaan Islam seperti kejayaan-kejayaan Islam di Baghdad, Andalusia, Samudera Pasai, dimana pusat-pusat pendidikan tumbuh berkembang menuangkan hasil karya ilmiah yang bernilai tinggi bagi khazanah keilmuan, para tokoh besar berhasil dilahirkan dengan karya-karya besarnya, produktifitas dan kesejahteraan rakyat dirasakan dari atas sampai bawah, budaya egalitarianisme antar penguasa dengan rakyat, terjaminnya keamanan rakyatdengan adanya supremasi hukum (Syari’at Islam), termasuk juga pada sektor perdagangan yang cukup besar pasarnya sampai keluar negeri, India, Eropa-Inggris. Maka jangan heran apabila kita melihat sisa-sisa port (pelabuhan) yang semasa dulu menjadi salah satu pusat perdagangan internasional. Dan kenapa VOC lebih memilih memasuki Banten dahulu ketimbang belahan Jawa lainnya, hal itu dirasakan sudah adanya masyarakat yang multi-etnis, seperti adanya perkampungan Arab, India, China dan sebagainya yang kesemuanya mencerminkan bagaimana Banten dahulu pernah menjadi kota yang sama seperti Washington, New York, London, kota yang sarat dengan pluralitas baik etnik, bahasa maupun ras. Sebuah Banten yang berwawasan Internasional.

Dari paparan diatas, terlihat jelas bahwa bagaimana pentingnya Islam mampu menjadi obat kedamaian bagi mayarakat. Tingginya toleransi antar etnik dibawah kesultanan, tidak adanya disparitas sosial antar masyarakat, serta tingginya peradaban, merupakan entry point yang harus kita rekonstruksi guna pembangunan masa yang akan datang. Maka bila kita berbicara tentang ke-Bantenan, maka tidak lepas dari apa yang mampu menjadikan banten maju, yaitu KeIslaman. Begitupun konteks hari ini, hendaknyalah kita mendekonstruksi paradigma lama yang parokial, lebih mengedepankan kepentingan kelompok, bersifat status quo, pendekatan represifitas, serta patronisme. Sudah saatnya kita berpijak menuju Globalisasi dengan Paradigma Islam. Bahwa saat ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dan perlu untuk kembali pada nilai-nilai keislaman tersebut. Masyarakat Banten harus segera bangkit bersama dalam membangun dan mengawasi pembangunan dan khittah / tujuan awal propinsi ini dibentuk berlandaskan prinsip Iman Takwa. Jangan biarkan keterpurukan yang sampai saat ini masih terus menggurita di tubuh elitis pemerintahan, akan membawa kehancuran. Sekarang sudah bukan jamannya lagi golok (kekerasan) tapi otak.

“Wong Banten aje gelem dianggap bodo, otake ore dienggo tapi didokon ning dengkul, ape-ape maine golok bae”.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on November 21, 2011, in Goresan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Kharisma ulama masih sangat dirasakan dan dibutuhkan di Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: