C+


Sering sekali kita mendadak kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan cinta hanya karena kita terlanjur menikmati kesedihan. Kondisi ini membuat kita seolah punya alasan untuk selalu diperhatikan, dikasihani, diperlakukan lebih, karena kita merasa sedih dan terluka oleh sebuah peristiwa yang sudah lewat. Bahkan, kita membangun sejumlah pikiran yang memperkuat mengapa kita boleh tetap bersedih dan terluka. Padahal dengan sikap yang seperti itu bukan hanya diri yang terluka saja, tetapi orang-orang disekitar yang peduli pada kita pun tak kalah terlukanya. Betapa egoisnya diri saat kita hanya memusatkan perhatian pada keadaan emosi sendiri dan tidak peduli dengan perasaan orang lain yang mungkin benar-benar tulus peduli pada kita.
Move on n grow up!!

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Desember 14, 2011, in Gado-Gado and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: