Untitled


Suatu ketika seseorang menghubungiku untuk meminta pendapat, tentang masalah yang sedang dihadapinya. Saya, sebagai orang yang juga punya *kemampuan merasakan* apa yang dirasakan oranglain (**sifat/kodrat dasar manusia, karena manusia punya hati. Meski hanya mampu merasa di kulit luar bukan dasar rasa mata hati dan cenderung subyektif, sesuai dengan pengalamannya.) merasa perlu ber-simpati, ber-empati terhadap apa yang dirasakannya saat itu. Tentu saja sebagai teman yang baik (sepertinya bukan) saya beri dia pendapat subyektif rasional yang bisa saya katakan atas apa yang dialaminya. Tentu saja itu dengan bukan bermaksud merasa paling mengerti dan tahu gejolak apa yang dia rasakan, tapi saya hanya merasa perlu membagi sedikit tentang apa yang saya ketahui, karena pada dasarnya masalah yang dia ceritakan itu, pernah saya, kamu, kalian alami juga. Pendapat itu bukan solusi, karena solusi sebenarnya akan ditemukan dirimu sendiri setelah melakukan manajemen konflik yang ada dan menjadikannya langkah-langkah yang tepat untuk bertindak dan move on. Kita tahu sebenarnya seseorang yang meminta pendapat atau nasihat itu hanya perlu pendapat alternatif dari orang lain. Ketika pendapat kita terlalu ‘keras’ pada seseorang yang minta pendapat yang pada saat itu sedang jatuh dan rapuh, mungkin akan menimbulkan pemahaman dan efek yang berbeda, atau bisa saja terkesan menggurui. Ketika pendapat kita terlalu ‘lembek’ pada seseorang yang minta pendapat bisa saja dipahami kamu harus terus meratapi apa yang sedang kamu alami sekarang. Padahal bukan itu maksudnya. Kemungkinan-kemungkinan diatas itu ada yang benar sama persis dipahami seseorang yang minta pendapat ada juga yang memahami berbeda, setiap orang pasti berbeda tingkat pemahamannya.
In the end. Ketika seseorang yang minta pendapat itu tak menemukan solusi akan masalah yang dihadapinya, kita sebagai seorang pendengar dan pemberi pendapat terkadang menjadi sasaran kekecewaan dari seorang peminta pendapat. Padahal pendapat yang kita berikan itu tak pernah diterapkannya, sedangkan di sisi dan waktu yang lain apa yang dianggap sebagai masalah yang diceritakannya pada kita itu telah menemukan solusinya sendiri, apa yang dianggap masalah oleh seseorang yang minta pendapat itu telah lari bebas darinya. Sedang kita yang kena batu nya, menjadi sasaran kekecawaan dirinya yang tak lagi memiliki jalan kembali.
Sungguh berhati-hatilah (bukan bermaksud tidak tulus pada setiap perkataan dan perbuatan), setiap orang yang kita anggap teman itu belum tentu baik hatinya, bisa saja dibelakang suka menyebarkan prasangka buruk, fitnah, dlsb yang ada hanya (mungkin) kepentingan, apalagi jika itu seorang teman wanita. Kalian juga pasti tahu kenapa teman wanita itu lebih berbahaya dari teman laki-laki? Jika ada konflik dengan teman laki-laki paling-paling berkelahi, terus tak ketemuan entah sampai kapan, sekalinya ketemu jika tak mau memaafkan dan masih dendam ya berkelahi lagi gitu doang paling. Jika ada konflik dengan teman wanita, ada banyak cara yang akan dia lakukan, dan cara-cara itu bisa disebut perang urat saraf lah (sudah banyak buktinya, tapi tak perlu pula jadi ukuran mutlak dan menganggap wanita itu semuanya tidak baik). Ah sudahlah. Selamat jalan, teman. Saya minta maaf jika ada salah kata dan perbuatan sengaja maupun tidak.

“Persahabatan, tak ada yang perlu diuji dan tak ada pula yang perlu dibuktikan, jika memang kita bersahabat. Persahabatan itu hubungan paling sensitif. Bisa lebih dari akrab, tapi tak boleh sampai level intim. Kita harus cari tahu beda dan batas sensitif dan intim itu.” Catat, pahami, dan ingat baik-baik kalimat ini!

Sekedar catatan, curhatan galau atau apalah namanya dari saya si Bajingan ini yang mungkin jadi salah seorang temanmu.
Salam hangat.
HT.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Februari 22, 2012, in Gado-Gado and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: