Tentang Shalat


Ngapain baca usholli sebelum sholat bid’ah itu.. || Yang bid’ah itu kamu, anggap usholli bagian dari sholat.

Ngapain kamu usap wajah setelah sholat? Nabi gak ajarkan tuh. Bid’ah || Aku usap wajah, karena pusing liat telunjukmu muter-muter waktu tahiyyat tadi.

Gak mau ah salaman setelah sholat, bid’ah. || Yang bid’ah itu salaman kalo kamu lagi sholat. Dzikir gak usah keras-keras ganggu orang lagi sholat aja. || Kenapa gak kamu stop semua kendaraan yang berisik lewat depan mesjid? “Kyai, kapan sebaiknya anak mulai diajari shalat?” || “Ketika tiba waktunya.” || “Kapan itu?” || “Masih nanya berarti belum waktunya.”

“Kalo saya bilang ‘sekarang adalah waktunya ngajari anak shalat’, gimana Kyai?” || “Terus, kenapa Sampeyan masih disini?

“Oke, saya langsung pulang sekarang juga, Kyai. Mau ngajari anak saya shalat!” || “Berarti ngajarinya nanti dong, bukan sekarang.”

“Saya musti gimana sih, Kyai? Kok kayaknya ruwet amat mo ngajari anak shalat?” || “Kalo masih ruwet, Sampeyan dulu aja yang diajari.”

“Saya ganti pertanyaan deh: kapan Kyai ngajari anak untuk shalat?” || “Jika sudah tiba waktunya.” || “Kapan itu?” || “Kalo anak sudah mau.”

“Kalo anak tidak mau diajari shalat?” || “Ya jangan dipaksa.” || “Kalo sudah akil baliq, gimana, Kyai?” || “Ya disunat. Kok pake nanya!”

“Serius, Kyai, kalo anak ga mau diajari shalat, pripun?” || “Biar belajar sendiri.” || “Pada siapa?” || “Pada selain bapaknya, mungkin.”

“Wah, Kyai, kalo anak sudah ga mau ngikutin Bapaknya, berabe.” || “Wajarlah itu. Sejak lahir, masa berbabe mulu!”

“Ngikuti anak? Maksudnya gimana tuh, Kyai?” || “Ya ikuti aja ke mana anak pergi.” || “Apa ga risih?” || “Nah! Situ kenapa maunya diikuti?”

“Bukan gitu, Kyai. Bukannya ga mau diikuti atau minta diikuti.” || “Terus, apa masalahmu?” || “Shalatnya anak-anak.” || “Itu urusan Allah.”

“Terus, soal shalat, siapa yang musti diikuti, siapa yang musti mengikuti, Kyai?” || “Yang musti diikuti ya Rasul. Yang mengikuti ya umat.”

“Bukannya justru Rasul yang bilang dalam Hadits ‘kalo menolak shalat, pukul si anak’?” || “Emang Rasul pernah mukul anak siapa?”

“Terus, kenapa sampe ada Hadits ‘kalo menolak shalat, pukul si anak’?” || “Mungkin saking ortu gak kenal anaknya sendiri. Kebangetan.”

“Jadi, gak harus mukul anak, ya, Kyai?” || “Mukul kok harus?” || “Terus, shalatnya, gimana?” || “Shalatnya yang harus. Bahkan, wajib.”

“Kayaknya ngobrol ama Kyai gak pernah nyambung deh!” || “Emang kita pernah putus?”

“Lha kalo gak boleh mukul anak, tapi juga gak boleh ninggalin shalat, terus saya musti gimana, Kyai?” || “Musti shalat tanpa mukul!”

“Wah kalo anak dibebaskan shalat atau gak shalat, bisa panjang urusannya, Kyai.” || “Lha emang yang udah shalat jadi pendek urusannya?”

“Gini aja deh, gimana seharusnya kita mengerjakan shalat, Kyai?” || “Siapa yang nyuruh mengerjakan? PerintahNya: mendirikan.”

“Kalo shalat itu tiang agama, kalo kita harus mendirikan shalat, gimana caranya, Kyai?” || “Ya bikin dulu pondasinya. Biar nancep.”

“Wah, shalat ibarat kita harus bikin pondasi dulu ya, Kyai, sebelum mendirikan tiang?” || “Ya, iyalah! Tahu cara bikin rumah, kan?”

“Kalo belum bisa bikin pondasi, gimana, Kyai? Apa terus gak shalat dulu?” || “Ya kan masih bisa numpang ke rumah ortunya. Gak boleh?”

“Kalo shalat diibaratkan tiang, lalu pondasinya apa, Kyai?” || “Syahadat! Di dalamnya tiang ditancapkan. Ditanam. Didirikan.”

“Syahadat pondasinya, shalat tiang pancangnya, terus apa lagi, Kyai?” || “Puasa dindingnya, zakat pintu-jendelanya, haji atapnya.”

“Syahadat pondasi, shalat tiang pancang, puasa dinding, zakat pintu-jendela, haji atap. Rumah, ya?” || “Rumah rahmatan lil ‘alamin.”

“Kalo belum bisa bikin rumah sendiri, gimana dong, Kyai?” || “Minimal udah punya brosurnya dari pengembang.” || “Wah, kayak makelar.”

“Kalo syahadat-shalat-puasa-zakat-haji sudah jadi rumah, gimana, Kyai?” || “Meneduhkan, melindungi, menentramkan, memuliakan tamu.”

“Kalo udah shalat, tapi tidak menjadi rahmatan lil ‘alamiin?” || “Itu tiang doang. Ga pake pondasi, dinding, pintu-jendela, atap.”

“Kalo tiang doang, tanpa pondasi, gimana tuh nasib shalat kita?” || “Ditiup angin, roboh. Disenggol dikit aja, jatuh. Ringkih.”

“Terus, pondasi yang paling baik tuh yang bagaimana, Kyai?” || “Pondasi yang paling baik adalah pondasi yang paling baik yang gak keliatan!”

“Ya iyalah, Kyai, pondasi ya musti di bawah permukaan tanah dan gak keliatan! Masa mau ditongol-tongolin!” || “Tumben pinter?”

“Kalo puasa ibarat dinding rumah, gimana tuh, Kyai?” || “Menahan angin, hujan, terik, masuk rumah dan menahan rahasia keluar rumah.”

“Zakat diibaratkan pintu-jendela, gimana tuh, Kyai?” || “Kalo rumah dikelilingi dinding doang, gimana cara berhubungan dengan sesama?”

“Kalo zakat ibarat pintu-jendela rumah, terus sedekah dan infaq apa dong, Kyai?” || “Angin-angin, ventilasi. Saluran air.”

“Terus, kenapa haji diibaratkan atap rumah, Kyai?” || “Yang namanya bikin rumah, ya, bila mampu kan sampe kelar. Sampe atapnya.”

“Kalo gak mampu bikin rumah sampe atap?” || “Tenang, gak usah buru-buru dan gusar.” || “Masih kehujanan dong?” || “Kan ada Rumah Rasul.”

“Rumah Rasul? Maksudnya, Kyai?” || “Rumah Syafa’at. Cukup baca shalawat, pintu bisa terbuka sendiri. Otomatis. Nyaman tuh Rumah.”

“Wah, enak ya ternyata urusan shalat, ya, Kyai?” || “Makanya, jangan buru-buru main pukul!” || “Jangan dibikin susah juga ya, Kyai?” || “Yup!”

“E, tapi, kenapa kita ngobrol mulu sedari tadi? Kyai gak shalat maghrib, ya?” || “Bukannya kita ngobrol dari Dhuhur? Ente gak Ashar!”

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Juni 1, 2012, in Pembelajaran and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. raden jajaka sagara

    Salam kenal Kang Mas. Saya dilarang solat lima waktu sama orang tua, solat buat apa? untuk apa?. Gimana tuh mengatasinya.

  2. salam kenal kembali.
    masih ada ya orangtua yang melarang anaknya sholat?
    klo anda muslim ya wajib mendirikan sholat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: