Ramadhan Ditengah Demoralisasi


Pada bulan suci Ramadhan tahun ini, kita benar-benar dianjurkan dan dituntut untuk berpuasa. Artinya, berpuasa bukan sekedar memenuhi perintah syari’at saja, melainkan juga karena kondisi riil bangsa kita yang kini tengah dilanda demoralisasi individual dan sosial, sehingga tampak dalam gejala kejahatan yang kian hari makin banyak pola dan motifnya, serta keadaan masyarakat yang semakin tak peduli dengan moral.

Ketika masyarakat menaruh kepercayaan dan harapan begitu besar terhadap pemerintahan SBY beserta kabinet Indonesia Bersatu jilid II untuk segera mengentaskan keterpurukan bangsa ini dari krisis multi dimensi, sekaligus melaksanakan amanat perubahan (reformasi). Seiring dengan itu pula muncul upaya-upaya sistematis bernuansa politis, yang digerakkan oleh kalangan tertentu yang menghendaki agar keadaan bangsa ini tetap terpuruk dan carut-marut.

Rakyat negeri ini  setiap hari disuguhi berita yang membuat geram dan muak untuk ditonton, sebagai contoh; kasus korupsi yang yang hampir  terjadi di semua lembaga pemerintahan, yang terbaru adalah kasus korupsi pengadaan simulator SIM di POLRI, berbagai kekacauan politik lainnya, dan tampaknya hal tersebut seperti sengaja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu.

Keadaan diatas menunjukkan bahwa betapa tidak, dalam tubuh bangsa (khususnya pengelola pemerintahan) ini, masih bersemayam individu-individu yang arogan, amoral, anti reformasi, anarkis, dan sebagainya. Sekaligus mengindikasikan bahwa pelaku dan moralitas anak bangsa, baik di tingkat elite maupun grass root, seakan tidak lagi dibangun dalam dan dari pondasi iman yang kuat. Sebab individu yang moralnya kukuh, tentu pantang untuk berbuat penyimpangan ataupun destruktif, lantaran merasa selalu diawasi oleh Tuhan.

Sebagai orang yang beriman yang sedang menunaikan ibadah puasa, seyogyanya kita bercermin dan bertanya kepada diri kita masing-masing. Adakah kesalahan dan kehilafan? Dosa-dosa apakah yang telah kita perbuat dan sedang kita lakukan? Apa yang dapat kita ambil pelajaran, dibalik hikmah ibadah puasa, seandainya puasa itu benar-benar kita laksanakan dengan sebaik-baiknya (imanan wa ihtisaban).

Pesan Moral

Allah SWT. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaiman telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, semoga kamu bertakwa.” (QS. [2] : 183).

Puasa bukanlah sekedar ibadah menahan rasa lapar dan dahaga. Puasa bukan pula sekedar mengugurkan kewajiban, namun didalam puasa itu ada sejumlah pesan moral yang amat mulia dan luhur. Dari sedikit uraian diatas, jelaslah bahwa subtansi ibadah puasa, sebenarnya adalah reformasi moralitas manusia.

Sesungguhnya ibadah puasa itu sarat dengan muatan dan pesan-pesan moral yang harus dicapai, antara lain;

Pertama; orang yang berpuasa dilarang memakan hidangan yang diharamkan, bahkan untuk menikmati makanan yang halal sekalipun, kita harus memakai aturan main yang telah ditetapkan oleh agama, yakni tepat waktu dan proporsional. Tak lain puasa juga bisa menjaga agar tubuh kita sehat.

Kedua; memanusiakan manusia. Pada dasarnya adalah suci, sementara orang yang suci dalam Islam digambarkan dengan predikat dan wujud takwa. Adapun manusia yang bertakwa dengan bahasa lain disebut sebagai khalifatullah -khalifah Allah dimuka bumi- atau hamba-hamba Allah. Oleh karena itu, orang yang bertakwa ialah manusia yang memiliki kepribadian total dan integral. Sehingga dalam dalam karakter orang bertakwa, tidak akan muncul krisis kepercayaan diri, krisis moral, dan tidak pula timbul citra yang memancing perilaku yang menyimpang serta amoral.

Ketiga; bersikap sabar, dapat menahan emosi dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Juga ibadah puasa dapat melatih kepekaan kita terhadap lingkungan sosial, dimana kita dapat merasakan rasa lpar dan haus, sebagaimana yang dialami oleh kaum dhu’afa, fakir miskin, serta anak-anak terlantar. Disamping dapat merasakan adanya persamaan dengan yang ikut prihatin terhadap kaum kerabatnya yang mengalami penderitaan dan kelaparan, sehingga dapat merasakan kesatuan Islam yang menyeluruh -hablumminannas-. Namun yang penting lagi ialah hablumminallaah (hubungan dengan Sang Khaliq).

Keempat; melatih kejujuran. Kiranya kejujuran memang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah riwayat pernah didatangi oleh seorang pemuda yang begelimang noda dan dosa. Kendati ia seorang perampok, pemerkosa, pendusta, penjudi dan pelaku perbuatan maksiat lainnya, konon ia meminta saran dan nasihat untuk kembali menjadi manusia yang taat, dan Nabi SAW memerintahkan pemuda itu untuk berkata jujur.

Saat ini kita dibuat pusing tujuh keliling oleh isu-isu yang berkembang ditengah masyarakat. Yang menarik, isu itu terkadang bisa mengalahkan fakta. Dalam masyarakat misalnya, muncul sikap tidak mudah percaya terhadap pernyataan-pernyataan pemerintah. Oleh karenanya, ibadah puasa mengajarkan kepada manusia untuk bersikap jujur, baik kepada diri sendiri, orang lain maupun sosial. Kehilangan kejujuran niscaya akan mendatangkan kepemimpinan yang kurang amanah. Minimnya jiwa amanah tentu akan mengakibatkan tipisnya iman, dan rendahnya kadar iman seseorang otomatis akan menimbulkan krisis rasa aman.

Kelima; melatih keikhlasan. Ikhlas ialah inti dari ibadah dalam Islam, sedangkan puasa mewajibkan seseorang untuk bersikap ikhlas, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. beribadahlah yang semata-mata karena iman kepada Allah, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau untuk diri sendiri, perbanyaklah dzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an dan mendengarkannya, menghayati kandungan maknanya, melaksanakan perintah-perintahNya, dan beri’tikaf di masjid pada bulan susi ramadhan ini merupakan perbuatan sunah, sambil mempelajari pelaaran-pelajaran yang bermanfaat semoga Allah berkenan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita semua.

Keenam; mampu secara efektif untuk menghindari perpecahan, membangun kembali kerusakan-kerusakan yang ada, berlomba-lomba mengakhiri multi krisis yang tengah menimpa bangsa ini. Semua komponen wajib mengingatkan satu sama lain untuk secara bersama-sama tidak mengedepankan egoisme politiknya, melainkan agar arif dan bijaksana dalam menyebarkan nilai-nilai keagamaan (Islam) secara luas kepada masyarakat. Sehingga cermin dari ibadah puasa dapat berpengaruh secara signifikan, bagi masa depan kehidupan sosial politik yang lebih baik.

Ketujuh; peduli dan peka terhadap lingkungan, lantaran ibadah puasa mengajarkan manusia untuk memiliki ‘sense of aware’ pada lingkungan, baik pada lingkungan hidup maupun lingkungan sekitar. Orang yang bepuasa tidak akan mengganggu atau merugikan ketentraman hidup orang lain, baik secara ekonomis ataupun politis. Maka sangatlah wajar dan rasional bila seluuh pihak hendaknya dapat menahan diri (cooling down), untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakitkan perasaan (berupa demonstrasi anarkis atau saling menghujat) selama bulan suci ramadhan, karena dikhawatirkan akan menganggu stabilitas dan kenyamanan umat Islam yang tengah berpuasa.

Lantas bagaimana dengan merampas hak hidup dan rasa aman? Seandainya mengerahkan massa untuk bertindak anarkis dan radikal, meniupkan isu-isu yang tidak bertanggungjawab, melancarkan aksi provokasi demi kepentingan politik sesaat, justru puasa melarang semua itu. Jangankan menyakiti secara ekonomis dan politis, menyakiti secara lisan saja secara syari’at bisa menggugurkan pahala puasa, tapi secara hakikat hanya Allah Yang Maha Mengetahui -karena puasa itu Untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi pahalanya-. Oleh karena itulah, beberapa makna filosofis, sesungguhnya ibadah puasa menuntut kita untuk melakukan reformasi moral. Hal ini sangat penting untuk dipahami oleh kaum muslimin, ditengah krisis moral untuk berupaya melaksanakan reformasi total, menuju terciptanya masyarakat madani (civil society) dan tatanan Indonesia baru yang lebih demokratis serta profetis.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Agustus 15, 2012, in Goresan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: