Tentang: Ketergesaan


Dan kian hari, mengapa manusia begitu tergesa?

Lihatlah, di jalanan manusia memacu kendaraannya dengan tergesa, entah urusan apa yang sedang dikejarnya. Lupa jika di jalanan bukan hanya dia yang lewat. Tak semua manusia yang bersamanya di jalanan itu membawa ketergesaan juga. Sergapan macet jadi ujian, yang tak sabar akan saling salip sambil sesekali mengumpat pengendara lainnya. Siapa yang akan benar-benar lalai? Yang tergesa atau yang waspada? “Binatang yang sifatnya liar pun agar dapat jinak harus lebih dulu diberi tali kekang supaya tak lari kemana-mana. Diberi batasan dan kendali. Begitu pun manusia yang diberi akal harus lebih sadar, memahami; jalan raya adalah fasilitas, marka disekitarnya itu peraturan, perjalanan itu prosedur, tidak ugal-ugalan itu akhlak penempuhan”.Perhatikanlah, seorang murid yang sedang menuntut ilmu, tak sadar dirinya membawa ketergesaan pengharapan dan pencapaian. Berharap ia dapat dengan segera mencapai tingkat kealiman dan kearifan seperti gurunya. Mengabaikan sikap cinta-khidmat pada gurunya, tahapan riyadhah-mujahadah pada dirinya lebih dulu, serta melupakan do’a, curahan berkah, ridho, nasehat dan kasihsayang gurunya. “Tak heran mengapa Orang ‘Arif hanya mau mengajarkan ilmu yang sesuai dengan keadaan muridnya. Ya, lakukanlah lebih dulu yang ringan tapi wajib. Semua bertahap barulah naik ke tingkat yang lebih berat jika dasar-nya sudah kuat”.

Amatilah, seorang pemuda/i tergesa dalam segala usaha dan niatnya, agar bisa cepat move on dan dapat kekasih baru. Tak sering juga asal pilih, atau sabar berupaya memantaskan diri lebih dulu supaya mampu mencintai dan dicintai oranglain. “Wahai Engkau Yang Maha Sibuk Mengurusi semua makhuk. Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Kami mohon kekuatan untuk menghadapi sirkulasi hasrat. Dari: Ingin, Usaha mendapatkan, Dapat, serta Ingin yang lebih, yang tak kunjung terpuaskan”.

Saksikanlah juga, seorang yang sedang membutuhkan, tergesa dalam setiap ikhtiar dan do’a nya agar bisa cepat mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak memahami makna apa itu yang namanya meminta dan apa itu yang namanya menggugat Tuhan. “Pahami apa itu yang namanya meminta, memohon atau menggugat. Semua berbeda pada akhlak dan cara “penerimaan” diri atas ceruk kekecewaannya, sebab gugatan yang tak sesuai kapasitas diri hanya akan merintis kesengsaraan. Jika do’a hanya membuat kita rakus akan keinginan, maka lebih baik belajar memuji-Nya saja, tak menuntut tapi sepertinya itu lebih awet menerap. Ilahi, tanamkanlah rasa takut dan harapan diri kami atas segala sesuatu hanya kepada-Mu”.

Tak maukah belajar tabah dan tak sanggupkah kita berusaha sabar?

“Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. 17 : 11)

Terlalu di depan, offside.
Terlalu di belakang, ketinggalan.
Terlalu di tengah, kegencet.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Januari 13, 2013, in Oase and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: