Ketika Rangkap Jabatan Jadi Lumrah Bahkan Rebutan!


office-politic-1

Menjadi sangat menarik jika kita mencermati perilaku pemimpin bangsa maupun kaum elit politik saat ini, dalam kaitannya dengan fenomena rangkap jabatan. Kendati masyarakat luas mulai mempertanyakan esensi dari rangkap jabatan yang dilakukan para elit politik tersebut.

Diskursus mengenai rangkap jabatan telah menyeret kita pada polemik yang tak kunjung usai, meski polemik tersebut dikemas dan disajikan dengan rapih, baik oleh media massa elektronik dan cetak, melalui acara wacana, diskusi-debat publik, seminar para pakar, polling maupun survey. Kendati sajian semakin membuat greget, manakala pendapat dalam forum yang dikemukan oleh mereka, kurang mendapatkan tanggapan positif dan tempat dalam sistem politik saat ini. Bahwa rangkap jabatan itu salah, tidak reformis-demokratis, dan dikhawatirkan nantinya tidak bisa melaksanakan tugas  pemerintahan, kenegaraan dan politik secara benar.

Disamping forum tersebut menjadi ajang bagi fungsionaris, yang kurang berperan dalam partainya untuk menyerang kubu tertentu atau bahkan pimpinannya, yang akhirnya menimbulkan perpecahan internal. Sehingga hanya sedikit kalangan yang memberikan dukungan secara objektif, bahkan polemik di satu pihak telah membentuk opini publik, bahwa pimpinan pemerintahan harus melepas jabatannya di partai politik. Sedangkan di pihak lain bersikukuh berpendapat bahwa rangkap jabatan tidak menyalahi peraturan, perundang-undangan sesuai dengan keputusan Munas, Raker, dan kongres partai masing-masing.

Mengabaikan Profesionalisme

Contoh konkret yang dapat kita lihat, kini hampir semua yang menjabat di lembaga pemerintahan adalah tokoh-tokoh politik yang kebetulan sebagai pengurus partai, dan rangkap jabatan. Iklim semacam ini jelas mengabaikan profesionalisme, sementara para negarawan tidak dapat dipungkiri lantaran tetap berkomitmen menyelipkan ideologi politiknya, dalam kepentingan yang lebih besar sebagai pejabat negara, sehingga tingkat kedewasaan para elit politik patut dipertanyakan. Apakah ke(tidak)dewasaan berpolitik atau demokrasi (kebablasan)? Sebab dikhawatirkan jika ke(tidak)dewasaan itu, berubah jadi dinasti kekuasaan (politik) yang otoriter.

Bukan hanya otoriter sikap kenegarawanannya, melainkan juga melihat internal partai muncul disana sini mengusung pendapat yang berbeda, sedangkan mereka dalam status mengemban amanat rakyat. Indikatornya kita menyaksikan suasana yang berbeda yang rumit, meski banyak literatur acuan berpolitik dan bernegara dengan baik, namun yang menjadi negarawan (pemimpin bangsa) masih banyak yang sibuk mengurus-mengelola partai.

Pagi-pagi datang sebagai negarawan di istana negara, dan pada sore atau malam hari datang ke kantor partai memimpin rapat program partai. Kiranya sulit dilukiskan logika, karena ditengah krisis multidimensi bangsa ini ternyata masih banyak memiliki negarawan yang asyik merumuskan atau bahkan menciptakan konflik (politik).

Betapa kurangnya intensitas perhatian menghadapi krisis yang melanda bangsa ini, terutama karena sikap menduanya, bahkan muncul dalih bahwa partai politik adalah instrumen demokrasi nomor wahid. Oleh karenanya, banyak negarawan yang enggan meninggalkan kepengurusan partainya, apabila kita menengok ke belakang dunia politik di Indonesia, bahwa jabatan ketua umum partai adalah “tiket menjadi RI 1”. Dan alasan ini mengendap di relung tersembunyi di setiap pimpinan parpol, padahal rangkap jabatan publik menyimpang dari teori politik modern. Prihatin!

Ada resistensi dari kelompok yang menyatakan pro dan kontra, ketika rangkap jabatan jadi rebutan, karena pejabat publik memerlukan dukungan massa. Alangkah naifnya pengertian tersebut, jikalau kita harus menyederhanakan apa yang menjadi kepentingan sempit partai. Sungguh perlu diingat, ketika partai politik mengantarkan kader terbaiknya untuk menduduki jabatan publik, saat itu pula mereka harus ikhlas melepas kadernya demi pengabdian yang lebih mulia. Bukan karena kepentingan yang bersifat majemuk, bukan pula milik partai tertentu, melainkan harus konsentrasi pada kepentingan publik dan bangsa (nasional).

Kasus tersebut banyak terjangkit pada partai politik saat ini. Celakanya banyak fungsionaris partai yang masih aktif sebagai pejabat pemerintahan ikut mengusut fomula perpolitikan, dan kini kita mencoba menyelami lebih dalam, bagaimana seorang negarawan secara jujur ingin mewujudkan idealisme kepemimpinan publik yang lebih besar? Sementara mempunyai kewajiban makro untuk merealisasikan cita-cita yang dipasung ke dalam ruang sempit bernama politik. Tarik ulur ini akhirnya hanya akan menjadi permainan domino politik di kelompok elit, sedangkan para pendukungnya hanya sebagai alat kepentingan yang tidak pernah dipahami. Legitimasi semakin goyah, kewajiban alat negara akan runtuh, suara daerah kian lantang melawan pusat dengan berbagai tuntutan dan otonomi meluncur menjadi permasalahan yang amat memperlebar peta konflik baru.

Memilih Yang Sesuai

url

Kesimpulan yang dapat dari fenomena ini, perlu dilakukan re-definisi dan re-evaluasi tentang penyelesaian dan praktik-praktik politik. Biar bagaimanapun, diperlukan kemampuan untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat luas bahwa rangkap jabatan di lingkungan elit tidak etis dan tidak mendidik bagi generasi mendatang.

Kini saatnya para elit mempelopori pencerahan pembangunan politik yang dinamis, bukan malah sebaliknya yakni memberikan tafsiran yang menyesatkan rakyat, hanya karena politik sesaat. Tampilan etika politik yang baik, santun, dan bermoral, bukan membusukkan politik yang membahayakan generasi penerus dan bahkan tak segan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on April 3, 2013, in Goresan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: