Politik?


“….Dipinggir jalan, terpampang foto seorang berdasi, berpeci, berwajah mulus, serta berpakaian rapih tersenyum manis, yang dikemas semenarik mungkin dalam sebuah baliho, menawarkan janji-janji tentang perubahan, pencapaian kehidupan yang lebih baik kepada orang-orang yang lewat, setidaknya kepada mereka yang memiliki dan mau menggunakan hak pilih maupun tidak terhadapnya”.

Apa yang kamu ketahui tentang politik? Tidak tahu pastinya seperti apa. Tapi tak bolehkah sedikit berpendapat, yang tidak terpenjara oleh tuduhan/perkataan orang dan terlepas dari pertanyaan apakah kompeten atau tidak berbicara tentang hal ini. Ada sebuah kalimat yang saya juga tidak ingat benar redaksinya, tapi kira-kira berbunyi begini: “Jika suatu urusan/perkara diserahkan bukan pada ahlinya, maka hancurlah hasil dari segala urusan itu”. Sungguh diri ini tak cakap dan berani menafsirkan macam-macam atas kalimat tersebut, tapi setidaknya mencoba menangkap makna dengan wadah pemahaman diri yang masih kosong ini dan tak terlepas dari segala kekeliruan.

Politik itu seperti udara. suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, itu ada di sekitar kita, itu kita hirup. Jika memang udara itu penuh dengan polusi, kita akan tetap menghirupnya. Satu-satunya cara untuk membuat kita terbebas dari polusi itu adalah ikut terlibat didalamnya sesedikit apapun dengan kemampuan terbatas yang kita miliki, dan atas upaya itu (diharapkan) lebih membersihkan udara itu.

Berpolitik itu ada 3 jenis kegiatan;

  1. Berpolitik adalah upaya Membangun Kesadaran. Misalnya saja berkumpul dengan diri sendiri. Jangan meminta orang lain untuk menjemput masa depannya. untuk atas namanya memperbaiki hidupnya, jika orang sudah sadar dengan kesadaran baru itu, maka si pembentuk kesadarannya termasuk orang yang bersangkutan itu sebetulnya sudah berpolitik pada tingkat kesadaran meski dalam skala dan lingkup yang kecil.
  2. Berpolitik adalah upaya Membangun Kekuatan.
  3. Berpolitik adalah upaya Merebut Kesempatan. Dalam pengertian kita ikut terlibat sampai merumuskan kebijakan/undang-undang. Karena dengan aturan dan undang-undang itu kesempatan setiap orang ditentukan. Siapa yang akan beruntung dan siapa yang akan rugi. Siapa yang akan menang dalam kompetisi dan siapa yang akan kalah.

Berpolitik adalah upaya membangun kesadaran, membangun kekuatan dan merebut kesempatan pada setiap orang maupun kelompok yang berkumpul dalam memperjuangkan sebuah kehidupan yang lebih baik. Tapi tak semua orang mau dan mampu berpolitik aktif dalam lingkup yang lebih besar baik dalam suatu wadah yang disebut partai politik maupun organisasi yang bergenre dan bersinggungan dengan politik. Jika begitu, maka yang diperlukan setiap orang itu adalah kesediaan dan keikhlasan berbagi tugas. Jika setiap orang menuntut semua orang menjadi anggota partai politik, sepertinya orang itu tidak ikhlas, sebab harus ada orang yang ada diluar partai politik. Jika setiap orang menginginkan dirinya jadi pejabat, itu artinya orang itu tidak ikhlas. Karena jika ada pejabat publik, maka harus ada orang yang ikhlas menjadi publik, menjadi orang banyak, tetapi dengan keadaan sama-sama saling menentukan. Jadi yang penting adalah berbagi tugas, berbagi peranan secara ikhlas dan pada saat yang sama mengoptimalkan modal yang kita miliki masing-masing pada setiap tugas yang kita miliki.

Dan sesungguhnya, jika kita menginginkan perubahan, maka yang harus kita lakukan adalah jangan meminta penguasa melakukannya, jangan meminta oranglain melakukannya, dan bahkan jangan menitipkan agenda perubahan itu kepada siapapun, tetapi dengan membuat komitmen bahwa kita harus melakukan perubahan itu pada skala (ukuran) yang kita mampu di bidang yang kita cakap atasnya, perubahan kecil atau besar tak jadi masalah.

Coba sedikit mengutip perkataan dari Nelson Mandela: “Menjadi penguasa atau tidak menjadi penguasa bisa sama pentingnya. Menjadi penguasa atau ikut menjadi bagian dari masyarakat bisa sama pentingnya. Yang membedakan penting atau tidaknya setiap orang dalam posisi itu adalah seberapa jauh dia bertanggung jawab dalam posisinya masing-masing”. Masih menurut Mandela: “Menjadi warga negara yang bertanggungjawab jauh lebih bermartabat, jauh lebih bermanfaat, ketimbang menjadi penguasa yang tidak bertanggungjawab”.

Akhirnya, hanya ingin berkata: “Jangan pernah berpikiran keliru dengan mengatakan bahwa berpolitik itu harus dengan berpartai, baik berjuang secara aktif ataupun hanya sebagai simpatisan saja”.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Agustus 24, 2013, in Goresan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: