Siklus Waktu


Dinihari itu bayi. Sibuk bermain dengan pikirannya sendiri, gaduh mengenali kesunyian yang melingkupi.

Pagi itu bocah. Dia sumringah, mengeja cita-cita, berikhtiar memainkan potensi-potensi di sekitarnya.

Siang adalah pemuda lantang. Menawarkan banyak hal, menyeret siapapun yang menghampirinya untuk diajak bicara, tentang harapan-harapan.

Sore layaknya manusia setengah baya. Tegap tapi kerap kikuk. Menjalani kenyamanan, meski kerapkali jenuh.

Petang adalah kakek yang capek. Dia rindu pulang ke masa kanak-kanak, yang diayomi ibunya.

Malam adalah ibu. Yang menyediakan selimut, mengelus keletihan, sembari berkata: “Sudahlah, besok akan lebih baik lagi”.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on November 3, 2013, in Goresan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: