Kehilangan


Rasa apapun yang berkaitan dengan perpisahan tak ada yang enak. Barangkali, karena sejatinya manusia itu memiliki hasrat yang kuat untuk menyatu, nyawiji. Maka terhadap apa saja yang kemudian disebut sebagai kepemilikan, orang cenderung menjaga kuat-kuat agar tidak terenggut. Jika ada semboyan yang berbunyi “Berani memiliki, berani kehilangan”, saya pikir itu hanyalah himbauan ideal. Cara tradisi untuk membangun motivasi optimistis, meskipun aromanya naif. Karena lumrahnya, ketika orang sudah merasa memiliki sesuatu, ia cenderung tak rela untuk terputus darinya. Sesuatu yang sudah menyatu, serupa benda-benda yang ditempel dengan perekat. Perpisahan terhadap itu, akan menimbulkan dampak kerusakan yang relatif menggurat. Bagi manusia, imbas keterpisahan akan hal-hal yang dicintainya adalah rasa sakit, getir, gundah, nelangsa, dan semacamnya.

Menyangga rasa kehilangan, perpisahan ataupun perpecahan itu berat. Layaknya menahan pilar rumah yang hendak roboh. Seakan-akan, ketika sendirian, orang tak kuat. Butuh bantuan energi lain untuk menahannya, supaya beban itu tidak ambruk meluluhlantakkan.

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on Maret 6, 2014, in Goresan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: