“KREATIVITAS” SEBUAH KATA MENUJU JALAN KEHIDUPAN BARU


Menuju Kreativitas Abstrak
Kata yang pantas anda ucapkan ketika seorang mampu membuat jembatan, ketika seorang mampu menciptakan pesawat terbang, ketika seorang mampu menciptakan model mobil mewah, ketika seorang mampu membangun menara tinggi, ketika seorang mampu membuat pesawat angkasa, ketika seorang mampu-mampu dan mampu mewujudkan segala apa yang sebelumnya belum ada, maka julukan atau sebutan apa yang akan nada tujukan kepada orang-orang tadi di atas. Ya, jawabannya ada pada diri anda sendiri. Namun ada satu sebutan yang justru kurang sekali terungkap atau bahkan kita semua tidak tahu kenapa anda datau saya bahkan siapapun begitu mudahnya mengatakan kata tersebut, untuk orang lain, padahal sebetulnya dirinya sendiri pada dasarnya termasuk dalam golongan para pencipta sesuatu yang sebelumnya tidak tersebut. Memang uraian ini cukup liku-liku, bahkan menurut anda mungkin tidak karuan, silahkan anda berpikir.

Satu lagi yang ingin saya sampaikan, bagaimana ketika seorang anak didik kita mampu menunjukkan, mampu menulis, mampu membedakan, mampu memperlihatkan-mensimulasikan, dan bahkan mampu memberikan langkah penyelesaian masalah yang dihadapinya, maka  kata apa yang layak anda sebutkan pada anak didik terebut, silahkan anda cari sendiri.

Pandangan penulis yang lain , bagaimana ketika seorang menceritakan kembali mimpi-mimpinya, yang mungkin tidak masuk akal tetapi anda sata orang tersebut buicara anda mendengarkan, menyimaknya, bahkan berusaha memahaminya dari sudut padang anda sendiri, kesimpulannnya apakah anda bingung, atau mengerti, setuju, tidak setuju. Lalu apa yang pantas anda katakan pada orang tersebut, lagi-lagi jawabannnya ada pada diri anda sendiri.

Kali ini penulis sampaikan sesuatu yang sedikit akademik, ilmiah dan “ngetrend” di kalangan ilmuwan, cendekiawan, orang-orang pintar, dan sebagainya , yaitu “intelektual, persepsi, adaptasi, kepercayaan, interpretasi, imajinasi, motivasi, abstraksi, dan atraksi—silakan anda kembalikan pemahaman anda kepada kata-kata tersebut semuanya penulis yakin sudah dipahami oleh anda jauh sebelum membaca tulisan ini.

Selanjutnya silahkan anda baca kemali paragraf pertama, dan hubungkan dengan kata yang diapit oleh tanda kutif pada judul tulisan ini, apa yang ada dalam benak anda!. Kemudian baca kembali paragraf kedua, kemudian hubungkan lagi dengan kata yang diapit oleh tanda kutif pada judul tulisan ini!. Kemudian silahkan baca kembali paragraf ketiga lalu lakukan proses yang sama!. Setelah itu bagaimana anda menemukan pemahaman dan wujud abstraksi dari sebuah kata “ Kreativitas”!. Adakah perbedaan pandangan, pemahaman dan pengertian yang anda tangkap dari hasil melihat , membaca dan memahami ketiga paragraf di atas. Setelah itu silahkan anda baca lagi  paragraf keempat pemikiran-pemikiran apa yang ada dalam benak anda?. Jawabannya ada pada diri anda sendiri.

Baiklah mari kita bahasa stau persatu apa yang ada dalam benak anda ketika telah membaca tulisan dalam keempat paragraf di atas. Pada dasarnya bahwa tulisan ini ingin mengajak anda menelusuri, menemukan, membedakan, menacari padanan, mencari wujud nyata dari sebuah abstrakasi tentang apa yang disebut dnegan Kreativitas.

Kreativitas adalah wujud nyata atau perwujudan dari sebuah hasil pikir, hasil renungan, hasil kontemplasi, hasil melamun-berangan-angan dan berandai-andai, bahkan hasil bermimpi sekalipun. Namun yang menjadi tanda tanya besar di manakan pusat pemahamannya, atau dimanakah  pusat kreativitas itu. Sebagaian para ahli mengatakan kreativitas berpusat di otak, sebagain lagi mengatakan bahwa kreativitas berpusat dari memori, sebagaina lagi kreativitas berpusat pada perasaan, bahkan sebagian lagi mengatakan bahwa kreativitas adalah hasil proses pembelajaran, pengalaman dan bahkan tekanan kondisi yang dihadapi oleh individu pada waktu yang relatif. Kenapa penulis mengatakan demikian, mari kita telusuri bersama.

Kreativitas seseorang banyak dipengaruhi oleh beberpa faktor, faktor yang utama kenapa sebuah kreativitas itu muncul?. Yang pertama adalah faktor hidup, sedangkan hidup dari Tuhan. Hidup manusia sejak di dalam kandungan ada dasarnya telah memiliki kreativitas, namun orang mungkin jarang sekali mempelajari kreativitas sebuah embrio ketika ada dalam kandungan. Kreativitas pada masa kehidupan embiro manusia ini terbentuk dalam konsep abstraksi. Kreativitas yang ada baru bersifat konsep bawaan, skalanya masih sederhana. Kreativitas ini sebetulnya akan terbawa-bawa ppola kerjanya sampai manusia ini tumbuh dan berkembang, namun  orang mungkin tidak akan percaya bahkan anda sendiri mungkin tidak akan peracaya, karena  kita telah memiliki konsep warisan bahwa yang disebut kreativitas atau orang kreatif baru bisa terlihat atau seseorang dapat dikatakan kreatif jika terlihat oleh kita dari apa yang bisa dirasakan, didengar, dilihat atau dipakai. Inilah pemahaman klreativitas warisan tersebut, bahkan semua orang atau anak yang baru mendengar kata kreativitas itu sendiri akan menunjukkan pemahamannnya tentang kreatif  itu pada sebuah benda, hasil karya, atau wujud-wujud produk hasil pikir dan hasil perbuatannnya. Padahal jika ditelaah berdasarkan tingkatan kreativitas, maka kreativitas itu ada yang sifatnya abstrak. Untuk menelusurinya kapan kreativitas abstrak ini dapat dirasakan atau muncul. Maka penulis mengajak pembaca untuk kembali membaca keempat paragraf di awal tulisan ini, dan apa yang dirasakan oleh anda?, pasti akan berbeda-beda, maka itulah sebenarnya yang disebut kreativitas abtsrak (Abstraction of creativity).

Kreativitas abstrak adalah kreativitas yang sebenarnya dan hakiki ia adalah pemberian Tuhan yang tidak mungkin bisa dirancang ulang  adanya oleh manusia manapun. Dalam Keilaman hal ini akan berhubungan dengan aspek Keimanan manusia itu sendiri kepada sang penciptanya. Sebagai contoh, bagaimana ketika anda bermimpi, dalam apa tema dalam mimpi itu maka apa yang anda lakukan dalam mimpi itu?, kemudian setelah bangun apa yang terjadi pada diri anda?, penulis yakin anda tidak apa-apa secara keterlibatan fisik, akan tetapi bagaimana interpretasi anda? Terhadap mimpi tersebut?, kemudian apa yang anda lakukan jika bertemu dengan teman anda, maka anda akan membicarakannnya tentang mimpi tersebut kepada teman anda tersebut. Nah sampai di sini apa yang ada dalam pikiran anda bagaimana abstraksi anda ketika mencoba menjelaskan atau menceritakan kembali isi dari mimpi tersebut?. Maka jika sampai di sini saja dicoba oleh kita ditelusuri dan kita hubungkan dengan konsepsi kreativitas abstrak maka telah banyak yang  menjadi produk dari kreativitas anda, mulai dari interpretasi tentang mimpi anda, pemikiran tentang mimpi anda, pemilihan kata-kata untuk menjelaskan tentang mimpi anda kepada teman, bahkan imajinasi tentang mimpi anda yang mungkin juga gerakan atau peragaan-peragaan yang akhirnya terlihat pada diri anda untuk menegaskan isi mimpi tersebut.

Dari proses bermimpi di atas, pada akhirnya anda akan terbawa pada bentuk kreativitas-kreativitas  pada tingkatan yang lebih kongkrit, misalnya gerakan-gerakaan, visualisasi dari imajinasi (visual image) yang mungkin anda tuangkan dalam bentuk gambar atau lukisan tentang mimpi anda, yang pada akhirnya orang mengatakan bahwa anda itu kreativ setelah orang tersebut melihat karya-karya kongkrit anda. Padahal semuanya itu berawal dari mimpi yang belum tentu orang mengatakan bahwa anda adalah orang kreatif jika anda hanya menceritakannya saja tentang asal muasal lukisan atau keinginan untuk melukis dengan tema tentang isi mimpi-mimpi anda, bahkan ironisnya  mungkin orang akan mengatakan bahwa anda adalah orang “sakit”. Bagaimana apakah  kita sudah menemukan kesepakatan dalam memahami tingkatan kreativitas abstrak di atas sehingga kita melaju pada kreativitas kongkrit. Di mana dalam kreativitas kongkrit ini aspek akademis, profesional, intelektual lebih banyak berperan terlebih jika dikaitkan dengan populasi manusia yang biasa membahasnya. Baiklah dari hasil kreativitas pemahaman anda terhadap uraian sampai di sini, maka jika dikaitkan dengan profesi kita sebagai Trainer, Pendidik atau Guru, maka pelajaran apa yang dapat kita ambil, dan mesti bagaimana kita mengamalkan profesi kita bagi peserta didik kita selanjutnya?.

Sampai pada Kreativitas Kongkrit

Pada uraian berikut penulis ingin mengajak anda pada analisis sebuah ceritera lagi, yang dikemukakan oleh Osho seorang filosofis, sufistik yang mengatakan bahwa dalam kreativitas ada masa-masa relaksasi, atau masa perenungan kembali terhadap ide-ide atau visual ide yang akan anda wujudkan melalui aktivitas fisik saat  bentuk produk kreativitas harus terwujud. Salah satu perenungan itu adalah “ Bagaimana supaya temuan saya ini berbeda dengan temuan orang lain. Dijelaskan bahwa jika  temuan anda dalam bentuk produk secara fisik berbeda dengan yang lain, maka orang akan menilai bahwa anda adalah orang kreatif—(penulis tidak setuju), juga ketika produk secara fisik anda sama dengan temuan orang lain, maka ornag mengatakan anda tidak kreatif (penulis juga tidak setuju).

Sebetulnya kreativitas pada tataran ini adalah kreativitas paling mudah dipahami bahkan untuk kalangan trainer , pendidik atau guru hal ini dapat dijadikan ukuran atau patokan apakah seorang anak termasuk anak kreatif atau biasa-biasa saja (ingat tida ada seorang manusiapun yang tidak kreatif). Dalam dunia pendidikan hasil kreativitas kongkrit ini kadang harus bisa diukur atau dinilai sehingga bisa dijadikan indikator kelompok dan klasifikasi tingkat kelulusan peserta didik. Akan tetapi bagaimana jika aspek kreativitas yang diukurnya adalah masalah keimanan (dalam dunia keagmaan), maka di sinilah terletak sebuah bahan pemikiran bagi kalangan pendidik untuk mampu merumuskan alat ukur atau alat evaluasi yang bisa ditujukan pada tingkatan kreativitas keimanan seseorang (kalau boleh hal itu diberlakukan hanya semata-mata dalam wacana pengukuran hasil proses pembelajaran—tidak dikaitkan dengan masalah ketauhidan). Jika masalah pengukuran kreativitas ini diberlakukan dalam dunia penddidikan umum, maka hal itu tidak ada masalah.  Baiklah kita kembali pada masalah relaksasi dalam renatangan proses kreativitas itu muncul. Relaksasi adalah sebuah proses di mana individu harus menemukan, merumuskan, mensistematiskan dan menceritakan segala apa yang ada dalam pikirannnya mengenai pengalaman-pengalaman bermakna yang pernah dialami dan diperolehnya dalam jangka waktu tertentu.  Relaksasi  juga termasuk ke dalam salah satu prinsip dalam percepatan pembelajaran ( Rose & Nicholl, 1979).

Proses relaksasi ketika orang sedang mewujudkan produk kreativitasnya dapat dilakukan pada saat action itu berlangsung. Hal ini sangat bermanfaat ketika seorang anak yang sedang belajar melakukan jeda sejenak mengenai apa yang ia perbuat dan lakukan sebagai upaya memahami sebuah pelajaran, apakah telah sesuai atau belum dengan kebiasaan belajarnya. Jika seorang anak atau bahkana nada sendiri sebagai pendidikan melakukan hal itu, maka keberhasilan dapat diupayakan tercapai. Melalui relaksasi seperti itu maka kita bisa mengendalikan apa yang belum optimal dan apa yang yang menjadi acuan dalam mencapai tujuan atau target tersebut. Proses inilah yang merupakan salah satu bentuk kreativitas yang sangat berharga dan akan menentukan kualitas produk kreativitas kongkrit selanjutnya. Penulis kembalikan pada uraian paragraf di awal, bahwa ketika orang sedang membuat pesawat terbang, maka dalam selang waktu pengerjaannnya ia mesti melakukan relaksasi agar pengerjaan tetap sesuai dengan rencana yang sudah dibuatnya. Kemudian jika dikaitkan lagi dengan pemahaman kreativitas pada bagian paragraf di awal, maka proses tersebut juga termasuk ke dalam kreativitas akstrak. Jadi antara kreativitas abstrak dan kreativitas kongkrit ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain akan saling menentukan kualitas produk kreativitas seseorang. Sampai di sini mari kita renungi kembali mengenai uraian tentang kedua tingkatan kreativitas tersebut, penulis yakin uraian tadi belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengalaman dan ilmu anda.

Hingga Bentuk Kreativitas Alam

Keativitas yang dimaksud bukan berati kreativitas yang sifatnya hereditas atau keturunan. Kreativitas alam adalah proses kreativitas yang dipengaruhi oleh keseimbangan perilaku yang harmonis. Dalam arti setiap perilaku atau tindakan seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu baik itu pada tataran tugas kreativitas abstrak maupun kongkrit yang dilakukan seolah berstruktur, sistematis, atau memiliki interval, jeda waktu dan kesesuaian yang terjaga konsistensinya. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari kita biasa memperhatikan cara kerja petani yang membajak sawahnya, di mana semua kerjannnya disesuaikan dengan kondisi alam, dan cara kerjanya pasti semua petani secara seragam melakukannya dengan sama semilsa dalam membajak sawah, menyemai benih padi. Jika direnungi bahwa mereka memiliki tingkat kreativitas alam yang tinggi. Mereka mampu merelvansikan  kreativitas abstrak yang ada dalam pikirannnya, kemudian diwujudkan dalam bentuk kreativitas kongkrit berupa hasil tanamnya, dan selanjutnya ia sesuaikan dengan kondisi alam atau lingkungan yang mendukungngnya. Serangkaian pekerjaan kreativitas tersebut tidak akan terwujud jika petani tersebut tidak memiliki konsistensi penyesuaian semua proses kerja kreativitas sebelumnya.

Demikian juga halnya dengan kreativitas seorang pendidik dalam melaksanakan semua rangkaian tugas profesionalnya dalam mengajar. Di mana ia akan melakukan kegiatan memngajar yang disesuaikan dengan program yang telah dirumuskan berdasarkan kondisi hasil evaluasi output sebelumnya, dan karakteristik peserta didik yang akan dihadapi, kemudian disesuaikan dengan dukungan komponen pembelajaran lainnnya, maka barulah pendidik tersebut melaksanakan tugasnya dengan baik. Maka silahkan anda membandingkannnya dengan apa yang dilakukan oleh petani tadi (bukan berarti petani disamakan profesinya dengan pendidik) tetapi keduanya telah menunjukkan sebuah rkeativitas alam yang begitu juga bisa dilakukan oleh profesional-profesional lainnnya. Ditegaskan oleh Osho (2003:31) bahwa dalam relaksasi ketika seseorang sedang melaksanakan pekerjaannya maka ketika itu juga akan muncul bentuk-bentuk kreativitas kongkrit  dalam action-nya akan bermunculan.

Maka Lahir Kreativitas Demokrasi

Jika kesemuanya telah berjalan sebagaimana diuraikan di atas, maka tingkatan kreativitas yang bisanya mampu dieujudkan oleh setiap orang yang dimediasi oleh nilai-nilai kepercayaan diantara sesama manusia maka akan muncul tingkatan kreativitas demokrasi. Dalam proses kreativitas abstrak, kongkrit daan alam didalamnya terdapat bentuk kebebasan secara individu yaitu dapat terlihat dari bentuk-bentuk action secara fisik dan psikis. Karena memang itulah yang mestinya terjadi dimana individu tidak mereasa tertekan dalam melakukan sesuatu sekaitan dengan tingkatan kreativitas yang sedang dilakukannnya.  Semua aktivitas dan kebebasan yang dirasakan dalam memberikan warna, citra, wujud, artistik, bunyi, “nyawa”, yang ditunjukkan seseorang pada akhirnya akan mengantarkan pada situasi dan kondisi kreativitas demokrasi. Apakah anda sebagai trainer atau pendidik menyadarinya?, penulis yakin bahwa anda lebih dari sekedar telah  menyadarinya akan tetapi mungkin juga telah mengembangkannnya secara lebih jauh. Dalam hal ini Osho mengatakan bahwa tidak ada seorang pelukis yang mampu memberikan warna sebagai upaya mewujudkan objek lukisannya, dan tidak ada seorang penari yang mampu memperagakan bunyi dan ritme gamelan musik yang mengiringinya, kecuali kedua-duanya dilandasi oleh kebebasan mereka berdua dalam memberikan citra-citra pekerjannnya itu.

Jika dikaitkan dengan tingkatan kreativitas sebelumnya bahwa kreativitas demokrasi ini merupakan kreativitas yang banyak diharapkan oleh semua manusia, terutaam sekali dalam dunia pendidikan. Para pendidik dan siswa akan lebih berhasil mampu menunjukkan semua produk rkeativitasnya jika mereka tidak merasa terkekang dan bebas mengekspresikan segala bentuk perilaku kreativitasnya secara alami dan bebas. Bebas bukan berarti menganggap semua serba ringan, mudah dan seenaknya dilakukan, akan tetapi bebas dalam arti selalu mempercayai bahwa semuanya memiliki jiwa kreativitas abstrak yang harus digali oleh kita semua. Osho (1990:43) mengatakan bahwa janganlah menganggap semua hal itu enteng sebelum anda mengerjakannnya dan sebaliknya janganlah anda menganggap semuanya itu sulit—keras dan sukar sebelum anda mencoba melakukannnya.  Dalam hal melakukan sesuatu kadnag individu dipengaruhi oleh ego dalam bentuk gaya dan kebiasaan atau cara-cara mereka melakukan sesuatu. Inilah yang oleh sebagian orang kadang tidak dipandang sebagai unsur-unsur kreativitas. Ego kadang disebut orang adalah aspek yang mendorong seseorang keras kepala, atau sebaliknya, padahal masalah ego ini merupakan masalah kreativitas yang tingkatannnya patut diperhitungkan. Bukan hanya ego tapi juga “cinta”. Cinta atau merasa kasih sayang seseorang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang merupakan sebuah unsur kreativitas demokrasi yang harus pasti dimiliki dan wujudkannnya atau ditunjukkan oleh semua manusia.

Bentukan kreativitas demokrasi yang diperngauhi oleh ego dan cinta ini daoat terlihat ketika seorang manusia begitu taat dalam beribadah dengan terlebih dahulu menggali sumber-sumber ilmu agama yang melandasainya (dalam Islam berdasarkan Alqur’an, dan Hadist), bahkan mereka selalu mencari-mendalami dan mempelajarinya dengan penuh ketauhidan dan keimanan yang tinggi. Dalam prosesnya kadang seorang tersebut memperkuatnya dengan ego masing-masing sehingga produknya terwujud dalam kepribadian atau penampilan yang berbeda-beda (Osho, 1990: 126).  Demikian pula ketika pendidik dengan begitu gigihnya menerapkan sebuah pendekatan bimbingan pembelajaran kepada peserta didiknya dengan tetap berjalan dalam program kurikulum yang ada dan diperkaya oleh kompetensinya masing-masing, maka dalam pelaksanaannyapun mampu menunjukkan perbedaan yang mencolok tetapi semuanya demi keberhasilan peserta didik karena merasa cinta dalam arti sayang dan kualitas ego yang ditujunkkannnya sebagai tugas pendidik. Dalam fenomena kedua bentuk kreativitas demokrasi itulah usnur ego dan cinta. (silakan anda merenunginya apakah sudah menemukan pemahaman, penulis berharap muncul ide yang bervaisi—menandakan kita semua melaksanakan bentuk  perilaku tingkatan kreativitas demokrasi). Selanjutnya sampailah pada pembicaraan kita yang terakhir pada lembaran kertas ini yaitu kreativitas otak.

Berhulu dan Bermuara  pada Kreativitas Otak

Bagian ini atau tingkatan kreativitas ini alangkah lebih tepat jika dibicarakan lebih awal, karena semua tentang unsur kerja kreativitas manusia dikoordinasikan oleh sel-sel otak. Akan tetapi belum sepenuhnya semua orang pasti senang jika segala sesuatu berpusat pada otak, karena sampai saat ini kita masih mencari apakah memang benar otak merupakan pusat berpikir, kecerdasan, bahkan kreativitas itu sendiri ada diotak atau otak adalah pusat segalanya. Tentunya akan berpandang pada kaca mata ilmiah, sebagaimana sedang diteliti oleh Deni Darmawan, bahwa otak dapat dikatakan hanya sebagai mediasi dimana sebuah ruh manusia hinggap didalamnya dan melakukan aktivitas termasuk berkreativitas, berpikir dans ebagainya, namun sampai saat penelitian ini hampir rampung ternyata belum ditemukan di mana itu pusat berpikir manusia, ternyata bukan berada pada otak. (mudah-mudahan anda sudi memberikan pandangannya tentang hal ini).

Demikian halnya bagaimna adengan pusat kreativitas?. Untuk itu Penulis kutif dari Primadi (1998) bahwa kreativitas adalah salah satu kemampuan manusia untuk menginterpretasikan stimulus luar dengan memori yang dimilikinya menjadi suatu bentuk baru. Kreativitas bukanlah hasil dadakan, melainkan hasil bersama dari logika, daya cipta, fisik, motivasi, perasaan, dan imajinasi yang terintegrasi menjadi ide baru. Menurut Proffesor Nurhalim Shahib (2004) bahwa Ide baru diimplementasikan dalam bentuk karya atau dalam dunia pendidikan kita temui bentuk karya ilmiah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kreativitas ini merupakan produk bersama antara otak kanan dan otak kiri, jadi kemampuan otak kiri tidak akan inovatif jika dibantu dengan kemampuan otak kanannya (dalam hal mewujudkan kreativitas abstrak). Dengan demikian kreativitas abstrak lebih dominan dimotori oleh bagian otak kiri dan kreativitas kongkrit lebih dimotori oleh otak kanan.

Dalam pandangan Agama Islam bahwa imajinasi, daya cipta dan perasaan yang merupakan fungsi otak yang menentukan kreativitas manusia sangat tergantung kepada “Ilham”. Oleh karena itu, akan sangat tergantung kepada kemampuan seseorang dalam menangkap tanda-tanda alam sebagai ayat Alloh yang tercipta. Di sinilah letak visual image manusia dalam mewujudkan tingkatan kreativitas ini. Profesor Nurhalim melanjutkan uaiannnya bahwa bila kita perhatikan kreativitas yang diberikan Allah SWT, kpeada manusia sangat bervarisi.  Misalnya kreativitas yang diberikan kepada Nabi Adam. a.s hasilnya terbatas hanya untuk diri sendiri atau lingkungan terbatas, sedangkan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Hasilnya untuk seluruh umat manusia, maka dahulukanlah tauhid kepada allah SWT, maka kreativitas yang datang akan merupakan kreativitas Allah SWT. Konsep ini penting bagi pendidik atau trainer dalam menjalankan tugasnya.

Kalau boleh penulis paparkan kembali hasil pemikiran berdasarkan Al-Qur’an, dunia pendidikan dan sejarah orang-orang kreatif lainnnya tentang ide dari konsep kreativitas otak ini, yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW diutus untuk memperbaiki ahlak manusia. Di mana ahlak ini adalah perpaduan fungsi otak kanan dan otak kiri, bila terjadi kebrokbrokan akhlak berarti kemampuan perasaan dan spiritual terkesan sangat rendah, dengan demikian dalam prakteknya di dunia pendidikan bahwa sasarannya yang harus didahulukan adalah otak kanan dulu baru otak kiri. Hal ini akan cocok dengan hadist yang menyatakan bahwa sikap yang mencari dunia akan memperoleh dunia, sikap yang mencari akhirat, dunia akan mengikutinya. Inilah bentuk reativitas otak yang masih dalam wacana ilmiah dan memang sangat memerlukan kerja keras dan diskusi yang panjang untuk melesatkannnya kepermukaan perilaku atau tingkatan kreativitas kita semua, terlebih bagi para pendidik hal ini sulit-sulit gampang. Akan tetapi jika kita semua mengintergasikan semua pemahaman tingkatan kreativitas mulai dari awal Insya Allah semuanya akan berjalan dengan mulus.

SUMBER RUJUKAN

  • Al-Qur’an dan Al-Hadist
  • Nurhalim Shahib, 2003, Mengenal Allah Dengan Mencerdaskan Otak Kanan, Bandung: FGD Disertasi Deni Darmawan  Fakultas Kedokteran Unpad.
  • Deni Darmawan, 2004, Biologi Komunikasi Otak kiri dan Otak Kanan melalui Implementasi Teknologi Informasi dalam Akselerasi Pembelajaran: Dokumen Disertasi, Bandung: Pascasarjana Unpad.
  • Osho, 1990, Creativity : Unleashing the Forces Within, New York: St. Martin Griffin.
  • Primadi, 1998, Proses Kreasi, Apresiasi Belajar.

“Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang berwujud fisik adalah produk kreativitas abstrak yang tersembunyi dan jarang dibicarakan orang” (Deni Darmawan)

About Tirtayasa

The short command save my keystrokes but don't my brain.

Posted on April 6, 2010, in Gado-Gado and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Maaf pak, bukunya Bp. Dr. Nurhalim Shahib masih ada? klo boleh saya copy bisa pak? makasih pak sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

rommypujianto

photographs of thousand words

wulanpurnamawita26

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Catatan Tirtayasa

the short command save my keystrokes but don't save my brain

%d blogger menyukai ini: